Editor: Yuyun Khairun Nisa
“Pada karya Tandus, di tengah perjuangan gerilyawan mempertahankan kemerdekaan, ada sosok-sosok perempuan yang dinarasikan dalam cerpen sebagai perempuan berdaya.
Walau kembali lagi ditegaskan perempuan tetap di posisi subordinat dan inferior. Jadi melihat revolusi kemerdekaan yang terjadi, sebenarnya hanya mengubah status merdeka, tapi tidak pada relasi gender yang seimbang antara perempuan dan laki-laki,” oleh Samantha Aditya disadur dari artikel berjudul “Siti Rukiah : Yang Hilang dalam Sejarah Kesustraan Indonesia” diterbitkan di Modjok.co.
Bila ditanya kepada publik, maupun para pegiat isu perempuan, siapa tokoh perempuan pegiat literasi Indonesia di masa perang kemerdekaan? Rata-rata akan menyebut nama RA Kartini, sebagai tokoh literasi dan pejuang emansipasi wanita. Lalu, siapakah Rukiah, Siti Rukiah, atau S. Rukiah Kertapati? Nama S. Rukiah Kertapati memang tak tercatat dalam antologi sastra Indonesia – HB Yassin. Karena Rukiah seorang penulis dan juga aktivis terkait dengan PKI, sehingga nama dan karyanya sengaja dihilangkan dari sejarah.
Bersama penulis Sugiarti Siswadi, Rukiah pernah berangkat menjadi delegasi Lekra pada Kongres ke-V “Himpunan Sastrawan Jerman” di Jerman Timur. Pada forum tersebut, Rukiah menjadi pembaca pidato sambutan untuk mewakili Lekra. Sementara kesibukan harian Rukiah mengelola majalah Api Kartini yang diinisiasi Gerwani, serta menggagas jurnal kebudayaan, Indonesia Irama – Sekolah Perempuan.
Hidup Rukiah memang berkalang tulisan. Sejak muda, Rukiah telah berani mengangkat isu perempuan, atau dengan kata lain menuliskan perspektif perempuan yang pada masa itu didominasi kelompok maskulin.
Karya Rukiah, “Tandus”, dan isu perempuan
Bila kita mengeksplor laman Sekolah Pemikiran Perempuan, akan muncul artikel S. Rukiah: Sastra dan Perjuangan Perempuan yang Tak Putus, yang ditulis Ama Gaspar, Asri Pratiwi Wulandari, Silvy Chipy, dan Udiarti.
Kalimat pembuka artikel lugas mengungkapkan,
Tulisan ini merupakan upaya kami dalam menajamkan dua poin penting pemikiran Siti Rukiah, yakni gagasan interseksional yang melampaui zamannya dan perubahan global geopolitik di Indonesia, khususnya pada era Pendudukan Jepang dan Revolusi.
Dalam artikel itu dibahas bagaimana Rukiah mengemas isu perempuan, salah satunya tertuang dalam cerpen-cerpen di buku Tandus.
“…ketika orang-orang di kampungnya mulai ramai mengata-ngatakan: “negara sedang perang.” Tapi Mak Esah tidak tahu apa-apa cuma tahu beras terus mahal ketika itu, hingga dua rupiah segantang.”
(Cerpen “Mak Esah” dalam buku Tandus terbitan Ultimus, tahun 2017, hal. 71)
“…Pak, Siti masih juga belum mengerti, apakah hubungannya pemerintahan negara yang tidak dikenalnya itu dengan kebun sayuran kecil buat makannya sehari-hari.”
(Cerpen “Istri Prajurit” dalam buku Tandus terbitan Ultimus, tahun 2017, hal. 84)
Pada kisah “Mak Esah” dan “Istri Prajurit”, Rukiah jelas menggambarkan situasi dan kendali pemerintahan yang berkuasa saat itu, tidak berpihak pada rakyat kecil.
Melalui tokoh Mak Esah, Rukiah menggambarkan situasi seorang janda, lansia, di sebuah desa, di negara yang dikolonisasi. Pemikiran Rukiah tersebut menunjukkan bahwa ide-ide yang bersinggungan lintas disiplin (interseksional) sudah muncul dalam karya-karyanya, bahkan jauh sebelum gagasan interseksionalitas menguat sekitar 1980-an.
Rukiah memahami bahwa persoalan dan ketidakadilan yang dialami perempuan perlu dilihat dari sudut pandang yang lebih luas.
Narasi Personal dan Pengakuan Internasional
Tulisan-tulisan Rukiah telah mematahkan narasi bahwa perempuan hanya mampu menulis autobiografi, personal atau memoar perempuan, dan tidak memiliki unsur politis di dalamnya. Rukiah mampu menuliskannya baik dengan perspektif personal sebagai perempuan, sekaligus tegas menarasikan pilihan-pilihan politisnya. Rukiah membuktikan bahwa dia bisa mengkritik persoalan politik di suatu negara, dan pada saat yang sama mengangkat hal-hal yang luput dibahas.
Giovanni Dessy Austriningrum dalam diskusi tentang “Siti Rukiah Kertapati, Sastrawati Era Kemerdekaan“, di Yogyakarta pertengahan November 2018 membahas bagaimana keuletan dan kejelian Rukiah yang jujur mengungkapkan pengalaman perempuan pada masa itu yang tidak terdengar, termasuk perjuangan kaum buruh perempuan yang tidak tertulis.
Melalui penelitian yang dilakukan Giovanni, bila kita membaca karya Rukiah, kita seolah bertransformasi, dan menjadi paham bagaimana selama ini pemahaman sejarah dari prespektif perempuan banyak yang dihapuskan.
Meski diremehkan atau dilupakan di negeri sendiri, salah satu karya Rukiah yang menerima penghargaan di tahun 1950, “Kejatuhan dan Hati” malah telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John H. McGlynn dengan judul ‘An Affair of the Heart’. Dan diterbitkan dalam Refleksi pemberontakan: cerita dari pergolakan Indonesia tahun 1948 dan 1965 (Ohio University Press, 1983; British Library, YA.1986.b.248).
Penemuan karya tersebut oleh John seperti kebetulan yang menginspirasi. Mengutip majalah Tempo edisi 9 Mei 2021, Kejatuhan dan Hati ditemukan John McGlynn (mahasiswa sastra Universitas Indonesia) pada tahun 1978 di sebuah lapak buku di Lapangan Banteng, Jakarta. Buku setebal 96 halaman tersebut, menarik perhatian McGlynn, karena tercatat dalam buku A. Teeuw yang berjudul Sastra Indonesia Modern, tapi tak pernah ditemukan beredar. – Bandung Bergerak
Selain itu, seorang perempuan Inggris, Annabel Teh Gallop, pernah menjadikan Siti Rukiah sebagai subjek penelitian tesisnya di bidang studi Indonesia dan Melayu di SOAS (School of Oriental and African Studies), London.
Berikut kesannya terhadap karya-karya S. Rukiah Kertapati.
Menelaah puisi-puisi dan cerita-cerita pendek Rukiah, yang dikembangkan sepenuhnya dalam novelnya, kendala-kendala yang dihadapi perempuan tampak kontras dengan kebebasan yang dinikmati tokoh-tokoh laki-laki, yang memiliki privilese dalam mengejar nasibnya sendiri, dan seringkali memilih untuk kawin untuk tujuan tertentu.
Mengakhiri tulisan ini, ijinkan saya memuat penggalan puisi Rukiah dari karya Tandus yang diadaptasi menjadi lirik lagu oleh grup musik Tiga Pagi. Lirik lagu itu seolah menarasikan bagaimana Rukiah menyuarakan perempuan dan revolusi, tapi kemudian dibungkam berekspresi.
Kuingin menjadi
Setetes penyembuh, oh
Beribu penyakit
Dunia, oh manusia







