Friday, May 29, 2026

Baihajar Tualeka, Mantan Perakit Bom yang Merekatkan Warga Pascakonflik

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Ketika konflik Ambon pecah pada tahun 1999, banyak perempuan dan anak direkrut untuk ‘berjihad’. Baihajar Tualeka, satu dari beberapa perempuan Ambon yang berjihad, bahkan ikut merakit bom. Ia melakukan hal tersebut karena ingin membuktikan bahwa perempuan tidak seperti yang disangkakan sebagai  ‘gangguan’ laki-laki ketika melancarkan serangan. 

Bom-bom tersebut kemudian diledakkan di fasilitas umum seperti pasar, jalan raya, dan sebagainya. Bai tidak takut akan risiko meninggal karena doktrin ‘sedang berjihad, dijamin masuk surga’ yang disebarkan oleh kelompok yang ia ikuti. 

Doktrin ideologi kekerasan dan teror tertanam kuat di masyarakat Ambon yang tersegregasi saat itu.

Selama melakukan aksi, Bai malah merasakan ketidaknyamanan, ketidakamanan, ketidakpuasan, dan mempertanyakan segala hal yang ia lakukan. Tidak hanya kelompok perempuan, Bai juga pernah bergabung dengan kelompok laki-laki. Selama bergabung dengan kelompok jihad, Bai justru merasa kecewa dan memutuskan untuk tidak ikut aksi yang disebut jihad itu lagi karena tidak memberikan dampak baik bagi kelompok Muslim, malah membuatnya merasa menderita. 

Bai menyaksikan kawannya yang juga perakit bom meninggal tertembak dan tidak ada yang peduli maupun bertanggung jawab atas kematiannya. Selain itu, pernah terjadi kegagalan merakit bom dan menewaskan temannya. Bai terus mempertanyakan perbuatannya dan orang-orang di sekitarnya. Bai pun mantap keluar dari kelompok-kelompok tersebut dan berhenti. Ia kembali ke kamp pengungsian.

Di kamp pengungsian, Bai berusaha mempererat hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. Tiap hari mereka intens saling berbagi cerita, menyanyi bersama, dan mengingat Pela Gandong yang merupakan budaya orang Maluku. Pela Gandong mengingatkan mereka akan persaudaraan dan perlu terus menjaga persatuan untuk menghadapi berbagai perbedaan, termasuk perbedaan agama. Pela mempunyai arti ‘ikatan’ atau ‘perjanjian’. Gandong bermakna “rahim”, ‘saudara sekandung’, atau ‘saudara sedarah’.

Gayung bersambut. Bai bertemu dengan Komnas Perempuan dan mengikuti kegiatan penguatan kapasitas bagi orang muda Ambon. Bai mulai berkomunikasi kembali dengan komunitas Kristen. Dari sini juga Bai bertemu dengan Gerakan Perempuan Peduli (GPP) Maluku dan bertemu aktor-aktor penggeraknya seperti Yul Latuconsina dari kelompok Muslim dan Etta Hendriks dari kelompok Kristen. 

Mereka mengajak para perempuan lain untuk menyebarkan narasi perdamaian dimulai dari lingkar terdekat yakni keluarga. “Berada di luar komunitas, dikira sudah damai, sudah aman, nggak ada apa-apa lagi. Di tingkat masyarakat, kecurigaannya ternyata masih tinggi”, ucap Baihajar Tualeka dalam WGWC Talks.

Di komunitas, tantangan sangat nyata. Ketika mereka ingin membuka ruang perjumpaan dengan kelompok berbeda, ada sejumlah oknum yang justru menghalangi. Bantuan kemanusiaan seperti apapun tidak boleh diterima dari kelompok berbeda agama.

“Kerja-kerja tentang perdamaian itu tantangannya besar, gimana gerakan itu dilakukan secara berkelanjutan. Kami mengadakan Bazar Perdamaian, kegiatan yang menghadirkan 100 perempuan di berbagai komunitas”, terang Baihajar Tualeka masih dalam WGWC Talks. Masyarakat Maluku dengan konteks wilayah kepulauan yang majemuk itu belajar di satu tempat. Mereka melawan prasangka dan ekstremisme dengan saling bertemu dan berbincang.

Melalui ruang perjumpaan dan obrolan-obrolan ringan tersebut, orang kembali membangun hubungan baik dan mempererat persaudaran. Perjumpaan tersebut pelan-pelan bisa menghadirkan keterbukaan, pengertian, welas asih, mengurai kecurigaan, dan saling memahami.

Bazar perdamaian yang diinisiasi oleh Baihajar Tualeka menjadi salah satu aksi nyata pascakonflik yang dilakukan oleh gerakan perempuan Maluku. Untuk memperbaiki hubungan seperti sedia kala, tentu diperlukan proses yang sangat panjang, usaha yang terus-menerus, konsisten, dan komitmen kuat.

Lena Susanti
Lena Susanti
Lena Sutanti merupakan konten kreator dan digital storyteller yang belajar tentang manusia dan budayanya di Antropologi. Dari 2019 sampai sekarang bikin ilustrasi, tulisan, komik, dan video tentang keberagaman gender dan seksualitas, kebebasan beragama dan berkeyakinan, budaya dan lingkungan. Lena hobi traveling, eksplorasi fesyen, dan kuliner lokal. Karya-karyanya bisa ditengok di Instagram @lenasutanti.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha