Friday, May 29, 2026

Surastri Karma Trimurti, Perempuan Pemberani yang Menentang Penjajahan

Editor: Yuyun Khairun Nisa

Ketika berbicara tentang perjuangan panjang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, kita seringnya disuguhi dengan cerita-cerita yang kebanyakan laki-laki di buku sejarah sekolah. Padahal, kemerdekaan Indonesia juga tak bisa dilepaskan dari peran-peran para perempuan, termasuk Surastri Karma Trimurti atau lebih dikenal dengan S.K. Trimurti. Ia banyak menulis untuk propaganda melawan kolonialisme dan sering melakukan swasensor terhadap nama di tulisannya, menjadi Karma, atau Mak Ompreng. Trimurti melakukan hal tersebut untuk menghindari penangkapan pihak kolonial. S.K. Trimurti juga merupakan salah satu pengibar bendera saat proklamasi kemerdekaan Indonesia 1945.

S.K. Trimurti lahir di Boyolali dari pasangan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta. Lahir di lingkungan keraton, Trimurti merasa perlu menapaki dan menjelajahi dunia luar. Saat mulai menginjak remaja, Trimurti singgah di Banyumas dan mulai belajar tentang organisasi dan perjuangan. Ketika Dewasa pun ia sadar kalau tidak perlu membedakan antara peran laki-laki dan perempuan untuk mencapai kemerdekaan, justru mereka perlu bekerja sama.

Pada masa sebelum kemerdekaan, Trimurti sudah merasakan ketidakamanan, ketidaknyamanan, dan ketidakadilan dari stereotip yang memaksa perempuan masak, macak, manak yang diamini oleh aturan feodal usang. Trimurti yakin kalau baik laki-laki maupun perempuan perlu diberi kesempatan untuk memajukan dirinya secara maksimal dalam akademis dan sosial. Trimurti terus mengajar anak-anak sekolah dasar di Banyumas, Bandung, dan Surakarta sebelum ia ditangkap dan dipenjara di Semarang oleh pihak kolonial Belanda karena aktif menyebarkan pamflet anti-penjajahan.

Dipenjara tak memadamkan api kebencian terhadap penjajah. Ditangkap tidak membuatnya jera, malah semakin kuat tekadnya untuk melawan penjajah. Ia tidak mau dirinya dan orang lain terkekang, terbelenggu, dan direndahkan. Trimurti bahkan berguru langsung pada Soekarno dan aktif mengikuti pelatihan kader Partai Indonesia (Partindo) cabang Bandung. Ia melepaskan statusnya sebagai guru dan belajar kembali menjadi murid. 

Soekarno terus meminta Trimurti untuk menulis di majalah Pikiran Rakyat. Awalnya Trimurti tak yakin dengan kemampuannya, ia terus menunda dan akhirnya memutuskan untuk menulis. Dari situ lah semangat Trimurti makin membara untuk menuliskan propaganda-propaganda anti-penjajah. Demi keselamatannya, seringkali nama Trimurti diubah agar ia lebih bebas menulis. Trimurti menulis untuk beberapa surat kabar, seperti Pikiran Rakyat, Bedun, Genderang, Pesat, dan sebagainya.

Setelah menikah dengan Sayuti Melik, tak membuat perjuangan Trimurti terhenti. Ia mendirikan Pesat (Putera Sedar), sebuah organisasi yang menjadi ruang pendidikan politik dan kesadaran bagi rakyat, khususnya kaum perempuan dan buruh. Melalui Pesat, Trimurti tidak hanya menyebarkan gagasan kemerdekaan, tetapi juga membangun keberanian kolektif—bahwa perempuan bukan sekadar pendukung di belakang layar, melainkan aktor utama dalam perubahan sosial.

Bersama kawan seperjuangannya, Trees Metty dan Umi Sardjono, Trimurti kemudian juga mendirikan Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar) yang menjadi cikal-bakal lahirnya Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Namun, pada akhirnya Trimurti keluar dari Gerwani karena merasa harus banyak kompromi setelah pergantian nama dari Gerwis dan beberapa hal mengubah langkahnya. 

“Anggota-anggota Gerwis itu militan sekali, makin lama makin banyak (anggota). Lantas, kan organisasi partai itu banyak yang ingin menguasai Gerwis, to. Nah, oleh karena itu nama Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar) itu kan ide saya, kebetulan diterima dan dasarnya Pancasila. Jadi itu ada anggota-anggota yang usul supaya namanya diganti Gerwani, itu juga menjurus dasarnya dan asasnya Gerwis itu diganti juga. Langkah-langkahnya diganti. Sebetulnya saya sendiri tidak setuju dengan pergantian nama itu, karena saya sudah ada feeling, ada perubahan nama bakal ada pergantian segalanya”, tutur Trimurti dalam film dokumenter karya Lola Amaria.

Trimurti sangat peduli terhadap kaum buruh. Ia setuju kalau barisan buruh perlu punya instrumen politik seperti partai, sehingga beliau ikut mendirikan Partai Buruh Indonesia. Trimurti memperjuangkan hak-hak pekerja dan pernah diangkat menjadi Menteri Ketenagakerjaan Indonesia.

Pada masa Orde Baru, Trimurti namanya ‘diabaikan’. Ketika Soeharto menetapkan Hari Pers Nasional dan memberi penghargaan, Trimurti tidak masuk dalam daftar. Kepemimpinan Soeharto memberikan penghargaan kepada wartawan yang usianya maksimal 70 tahun, sedangkan Trimurti kala itu sudah terjun lebih dari 70 tahun. Hingga akhir hayat, Trimurti aktif dalam dunia tulis-menulis dan jurnalisme.

Untuk mengenang agensinya, Aliansi Jurnalis Indonesia (Aji Indonesia) pun membuat SK Trimurti Award pada 2008 untuk mengenang dan menghormati perjuangan perempuan yang sepak terjangnya tak main-main di dunia jurnalisme. S.K. Trimurti dipilih sebagai simbol kekuatan dan keberanian menyuarakan ketidakadilan, mendobrak stigma, dan membela kelompok rentan.

 

Lena Susanti
Lena Susanti
Lena Sutanti merupakan konten kreator dan digital storyteller yang belajar tentang manusia dan budayanya di Antropologi. Dari 2019 sampai sekarang bikin ilustrasi, tulisan, komik, dan video tentang keberagaman gender dan seksualitas, kebebasan beragama dan berkeyakinan, budaya dan lingkungan. Lena hobi traveling, eksplorasi fesyen, dan kuliner lokal. Karya-karyanya bisa ditengok di Instagram @lenasutanti.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha