Editor: Yuyun Khairun Nisa
Di Peristiwa Hudaibiyah, umat Muslim sempat merasa kecewa dan bingung setelah perjanjian damai dengan kaum Quraisy dianggap merugikan mereka. Dalam situasi penuh ketegangan itu, Ummu Salamah memberikan nasehat bijak kepada Nabi Muhammad SAW untuk memberi teladan terlebih dahulu kepada para sahabat, hingga akhirnya suasana yang semula sulit perlahan mencair dan konflik dapat dihindari.
Ummu Salamah, yang bernama asli Hind binti Abu Umayyah, berasal dari Bani Makhzum, salah satu kabilah besar di Mekah. Menurut WIZ (2024), ia dikenal sebagai perempuan yang cerdas dan berani, bahkan menjadi perawi hadis dengan lebih dari 388 riwayat yang disampaikan. Beberapa di antaranya tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Melalui hadis-hadis tersebut, Ummu Salamah sering membahas tentang adab, keimanan, dan peran perempuan dalam masyarakat Islam.
Sebelum menikah dengan Rasulullah, Ummu Salamah adalah istri Abu Salamah, sahabat Nabi yang pertama kali memeluk Islam dari kabilahnya. Melansir NU Online (2022), pasangan ini sempat dua kali hijrah ke Habasyah untuk mempertahankan keyakinan. Kehidupan Ummu Salamah sarat dengan ujian; ia pernah berpisah dari suami dan anaknya hampir setahun lamanya. Namun, kesabarannya membuatnya dikenal sebagai simbol keteguhan iman. Setelah Abu Salamah wafat, ia menikah dengan Rasulullah SAW dan menjadi bagian penting dalam penyebaran ilmu serta pandangan bijak di kalangan umat.
Kontribusi Ummu Salamah: Berdakwah dengan Memberi Teladan
Tahun keenam Hijriah, Rasulullah berangkat bersama ribuan sahabat menuju Mekah untuk melaksanakan umrah. Namun, mereka tertahan di Hudaibiyah oleh kaum Quraisy. Setelah negosiasi panjang, lahirlah Perjanjian Hudaibiyah. Isinya terasa berat.
Dikutip dari Suara Islam (2025), Muslimin tidak boleh umrah tahun itu meski sudah mengenakan ihram. Bahkan, jika ada orang Quraisy yang masuk Islam lalu lari ke Madinah, ia harus dikembalikan. Sebaliknya, jika seorang Muslim murtad dan kembali ke Mekah, kaum Quraisy tidak wajib memulangkannya. Ketentuan ini membuat banyak sahabat kecewa. Umar bin Khattab bahkan bertanya lantang, “Mengapa kita menerima perjanjian yang merendahkan agama kita?”
Walau Rasulullah menenangkan mereka dengan penuh keyakinan pada Allah, kekecewaan itu tetap menyelimuti. Saat diperintahkan menyembelih hewan kurban dan bercukur sebagai tanda tahallul, tak satupun sahabat bergerak. Mereka terpaku, tak sanggup menerima kenyataan pahit itu.
Dalam suasana muram itu, Rasulullah masuk ke tenda dan mencurahkan isi hati pada Ummu Salamah. Di saat para sahabat kebingungan, justru suara perempuan yang memberi arah baru. Dengan lembut namun tegas, Ummu Salamah menyarankan Rasulullah untuk tidak menunggu, melainkan memberi contoh langsung, menyembelih hewan kurban dan mencukur rambutnya di depan para sahabat.
Saran itu menjadi titik balik. Rasulullah menuruti nasihat tersebut, dan begitu beliau bertindak, para sahabat pun tergerak. Mereka berbondong-bondong menyembelih hewan dan mencukur rambut sambil menahan air mata. Kekecewaan berubah menjadi ketundukan, dan suasana yang semula tegang berganti menjadi kelegaan.
Namun, dampak nasihat itu tak berhenti di sana. Menurut Suara Islam (2025), langkah yang diawali di Hudaibiyah justru membuka babak baru dalam sejarah dakwah Islam. Perjanjian yang awalnya tampak “merugikan” ternyata membawa masa damai yang panjang. Di masa inilah, dakwah Rasulullah menyebar luas ke Jazirah Arab tanpa pertumpahan darah. Banyak tokoh Quraisy yang akhirnya masuk Islam setelah melihat sikap tenang dan konsistensi Nabi dalam menepati janji. Perjanjian itu menjadi simbol kemenangan melalui kesabaran, bukan peperangan dan di baliknya, ada nasihat bijak seorang perempuan.
Jejak Kebijaksanaan yang Tak Lekang Waktu
Kisah Ummu Salamah bukan sekadar potongan sejarah, tetapi pesan abadi tentang kebijaksanaan dan keberanian perempuan dalam mengambil peran publik. Melansir dari WIZ (2024), Ummu Salamah dikenal karena nalar kritis dan pandangannya yang jernih. Ia menunjukkan bahwa perempuan bisa menjadi penentu dalam momen krisis.
Di masa kini, kisah ini tetap relevan. Saat dunia dihadapkan pada konflik dan perbedaan pandangan, kepemimpinan perempuan seperti Ummu Salamah sangat dibutuhkan. Perempuan dekat dengan narasi kehidupan yang merawat dan menjaga damai serta menghindari konflik kekerasan. Kisah Ummu Salamah mengingatkan kita bahwa perdamaian bukan hanya urusan para pemimpin di panggung besar, tetapi juga lahir dari langkah kecil dan dari keberanian berbicara.
Daftar pustaka:
- Suara Islam. (2025). Ummu Salamah dan Perannya dalam Perjanjian Hudaibiyah. https://suaraislam.id/ummu-salamah-dan-perannya-dalam-perjanjian-hudaibiyah/3/
- WIZ. (2024). Ummu Salamah: Cerdas Akalnya, Benar Pandangannya. https://wiz.or.id/ummu-salamah-cerdas-akalnya-benar-pandangannya/
- NU Online. (2022). Kisah Pernikahan Rasulullah dan Ummu Salamah di Bulan Syawal. https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/kisah-pernikahan-rasulullah-dan-ummu-salamah-di-bulan-syawal-mpV7E







