Jerman menjadi salah satu negara di Eropa yang terus mengekspor berbagai peralatan militernya ke Israel dalam beberapa bulan terakhir meskipun isu Genosida di Gaza telah terbukti. Pemerintah Jerman telah menyetujui ekspor senjata dan perlengkapan militer ke Israel dengan nilai lebih dari 250 juta euro atau sekitar 290 juta dolar AS selama periode Januari 2024 hingga Juni 2025.
Pada tahun 2024, izin ekspor mencapai 161 juta euro dan bertambah 28 juta euro pada tiga bulan pertama 2025. Informasi tersebut dirilis sebagai tanggapan atas pertanyaan parlemen dari Partai Kiri yang menuntut penghentian segera ekspor senjata ke Israel. Jerman dikenal sebagai pendukung kuat Israel dengan alasan tanggung jawab sejarah atas Holocaust dan Nazi Jerman, namun keputusan tersebut menuai kritik karena dinilai bertentangan dengan komitmen terhadap perdamaian dan Hak Asasi Manusia (HAM). Termasuk dari bangsanya sendiri.
Adalah Yasemin Acar, seorang aktivis berusia 37 tahun dari Jerman. Ia lahir di negara tersebut dari orang tua keturunan Kurdi yang berasal dari Turki. Sejak usia 15 tahun, Yasemin sudah terlibat dalam berbagai gerakan sosial, terutama dalam isu pengungsi, hak asasi manusia, dan penolakan terhadap rasisme anti-Muslim.
Ia pernah bekerja sama dengan sejumlah organisasi untuk membantu pengungsi yang datang ke Jerman dan juga aktif dalam kegiatan pemberdayaan pemuda. Saat krisis pengungsi akibat invasi Rusia ke Ukraina terjadi, Yasemin ikut mengambil peran penting. Ia memobilisasi sekitar 15.000 relawan dan membentuk sebuah inisiatif bernama Berlin Arrival Support.
Selain itu, ia menjadi penasihat bagi Senat Berlin dalam menangani krisis tersebut dan turut memberi tekanan kepada pemerintah agar bertindak lebih cepat dan tepat. Dalam beberapa tahun terakhir, Yasemin juga dikenal sebagai pendukung kuat perjuangan rakyat Palestina. Ia terlibat dalam penyelenggaraan aksi massa, kegiatan langsung, dan berbagai acara di Berlin.
Latar belakang keluarga Kurdi membuat Yasemin melihat perjuangan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sejak kecil, orang tuanya menanamkan nilai untuk selalu mengikuti jalan kebenaran atau “HAQ”, yang mereka anggap sebagai jalan paling mulia.
Yasemin memiliki komitmen kuat terhadap keadilan sosial, serta hak dan perlindungan bagi anak-anak. Menurutnya, perdamaian tidak akan hadir tanpa keadilan. Maka dari itu, ia percaya bahwa keadilan adalah kunci utama untuk menciptakan kedamaian yang sesungguhnya.
Yasemin Acar dan Kapal MV Madleen
Di tengah blokade ketat Israel atas Gaza, Yasemin Acar, seorang aktivis hak asasi manusia yang juga menjabat sebagai koordinator pers untuk Freedom Flotilla Coalition (FFC), melakukan misi kemanusiaan yang berani. Bersama kru kapal Madleen, ia bertolak dari Italia selatan membawa bantuan untuk warga Gaza yang terdampak konflik.
Namun, upaya mereka tidak berjalan mulus. Sesaat sebelum mendekati wilayah tujuan, koneksi internet mereka mulai terganggu. Acar menyampaikan bahwa gangguan ini berasal dari serangan siber yang diduga dilakukan oleh Israel, menyebabkan mereka nyaris terputus dari komunikasi global.
Dalam pernyataannya, Acar mengungkap bahwa mereka masih berada di perairan internasional, sekitar 116 mil laut dari Gaza. Ia menegaskan bahwa jika kapal mereka menjadi sasaran kekerasan, itu akan menjadi bentuk pelanggaran hukum internasional.
Acar juga menyinggung insiden masa lalu, seperti serangan mematikan terhadap kapal Mavi Marmara pada 2010 dan penyerangan drone terhadap kapal Conscience milik FFC pada Mei 2025. Menurutnya, setiap bentuk kekerasan terhadap misi kemanusiaan merupakan kejahatan perang yang tak bisa dibenarkan.
Meski menghadapi risiko besar, Yasemin Acar tetap teguh pada misinya. Ia menilai bahwa upaya membawa bantuan kemanusiaan tidak seharusnya dihalangi, apalagi dengan kekerasan atau sabotase teknologi
Yasemin Acar menunjukkan bahwa perempuan bisa terlibat aktif dalam pengambilan keputusan dalam isu besar seperti konflik dan kemanusiaan. Ia juga berani menyuarakan kritik tajam terhadap pemerintah Jerman yang terus mengirim senjata ke Israel.
Melalui berbagai unjuk rasa, pernyataan publik, dan kerja sama dengan jaringan aktivis lainnya, Yasemin mendorong agar Jerman menghentikan dukungannya terhadap tindakan kekerasan di Gaza.
Peran Yasemin membuktikan bahwa perempuan bisa membawa pengaruh besar dalam kebijakan negara. Ia terus memperjuangkan nilai kemanusiaan di ruang-ruang yang sering kali dikuasai oleh laki-laki.
Keberaniannya menjadi teladan bagi kita bagaimana perempuan bisa memimpin perubahan, mengambil sikap, dan menjadi bagian penting dalam perjuangan menuju perdamaian dan keadilan.
Referensi:
Refuge World Wide (2024). Yasmin Acar | Refuge Worldwide. [online] Refuge Worldwide. Available at: https://refugeworldwide.com/artists/yasmin-acar [Accessed 8 Aug. 2025].







