Editor: Yuyun Khairun Nisa
Di tengah keragaman karakteristik bangsa Indonesia, bentuk penerimaan diri seringkali menjadi pondasi penting bagi gerakan perdamaian yang berkelanjutan. Redy Saputro, Ketua Peace Leader Indonesia, sebuah komunitas kelompok muda lintas iman, menghadirkan perspektif unik dalam merajut kerukunan antar kelompok.
Perjalanan awalnya dibentuk oleh pengalaman pahit mengalami perundungan. Sebagai seorang Tionghoa beragama Katolik yang tumbuh di lingkungan mayoritas Muslim, Redy mengalami perundungan verbal berbasis ras yang mencederai perasaannya.
Pengalaman tersebut membentuk pandangan hidup Redy, menyadarkannya akan pentingnya mengubah suatu perbedaan menjadi kekuatan positif. Melalui organisasi Peace Leader Indonesia, Redy membuka ruang-ruang perjumpaan dengan kelompok berbeda untuk merawat keberagaman di Indonesia.
Support System Keluarga
Redy menceritakan bahwa perjumpaan awalnya dengan perbedaan identitas terjadi sejak usia belia. Panggilan rasial seperti “Cina sipit putih” sering ia terima, menimbulkan luka emosional yang mendalam saat masa kanak-kanak.
Beruntung, ia memiliki pondasi keluarga yang sangat kuat, terutama dari sang nenek dan bibi yang berperan sebagai orang tua pengganti. Mereka memberikan narasi tandingan terhadap ejekan yang diterima dari lingkungan sekitar sejak dini. Keluarga menanamkan pemahaman bahwa Indonesia terdiri dari berbagai etnis dan agama, bukan sekadar satu golongan saja.
Pesan tersebut menjadi benteng pertahanan utama bahwa identitas Tionghoa dan kulit putih merupakan keniscayaan serta anugerah dari Tuhan. Lingkungan positif dari keluarga inilah yang mengubah panggilan negatif menjadi cambuk untuk meningkatkan daya resistensi.
Mengubah Ejekan Menjadi Kekuatan
Kekuatan keluarga mengajarkan Redy untuk mengalihkan energi negatif dari bullying menjadi kekuatan yang produktif. Tips utama agar seseorang dapat bertahan hidup (survive) dari perisakan adalah perlu mendengarkan omongan yang merendahkan. Ia percaya bahwa setiap orang dilahirkan berbeda dengan keunikan masing-masing, dan hal itu patut disyukuri.
Memelihara kesehatan mental menjadi prioritas utama sebab gangguan mental akan menghambat produktivitas kerja sehari-hari. Prinsip yang dipegangnya ialah terus bergerak dan berkarya, memulai dari hal-hal kecil yang bermanfaat bagi orang lain.
Redy meyakini bahwa apresiasi sejati datang dari karya, bukan dari ukuran fisik atau latar belakang suku. Apa yang dulunya merupakan cemoohan, pada akhirnya akan berubah menjadi pengakuan positif dari masyarakat luas. Pada tahun 2020, kontribusi tersebut diakui Gubernur Jawa Timur saat itu, Khofifah Indar Parawansa, memberinya penghargaan sebagai Pemuda Utama di bidang Penggerak Keberagaman dan Toleransi.
Peace Leader Indonesia: Merajut Keberagaman Lewat Aksi Sederhana yang Nyata
Organisasi Peace Leader Indonesia yang dipimpin Redy lahir dari keresahan dan kebutuhan untuk membuka ruang interaksi dan dialog kelompok muda lintas iman. Dari hal terkecil, seperti kegiatan bersih-bersih rumah ibadah melalui Peace Service. Peace Leader menghubungkan kelompok muda dari Islam, Kristen, Katholik, Konghucu, Hindu, Budha, bahkan kepercayaan.
Peace Service menjadi pintu masuk yang sederhana dan aman untuk membangun relasi antar umat beragama. Di sela kegiatan bersih-bersih, kelompok muda berdialog dengan pengurus rumah ibadah dan mempelajari berbagai agama secara langsung melalui pengalaman berharga.
Meski sederhana, tak selalu berjalan mulus. Peace Leader Indonesia menghadapi tantangan, terutama dari pihak internal pengurus rumah ibadah yang rata-rata berusia sepuh. Pengurus sering mempertanyakan identitas dan agama Redy serta para peserta lain yang datang.
Tantangan yang lain ialah dinamika partisipasi peserta muda, di mana banyak yang bersedia bersih-bersih, tetapi kurang bersedia berdialog atau makan bersama. Beberapa peserta muda mundur karena kekhawatiran soal pindah keyakinan atau isu makanan halal.
Namun, Peace Leader Indonesia meyakini penerimaan perbedaan terjadi secara bertahap, dan kesediaan melakukan service bersama sudah merupakan langkah kemajuan. Kelompok ini telah dikenal sebagai rujukan dalam isu lintas agama, bahkan membantu rumah ibadah yang hampir tutup karena sepi penganutnya, kemudian terkoneksi dengan pemerintah daerah hingga mendapatkan dukungan operasional.
Perdamaian dan Kesetaraan Gender sebagai Ruh Gerakan
Bagi Peace Leader Indonesia, perdamaian dan kesetaraan gender merupakan ruh yang menghidupi gerakan. Integrasi antara 2 isu ini jarang terjadi di gerakan pemuda lain. Gerakan ini memastikan keterwakilan setara antara laki-laki dan perempuan, serta melibatkan kelompok disabilitas dan kelompok rentan lainnya dalam mencegah kekerasan dan membangun perdamaian.
Kerja-kerja perdamaian tentu perlu waktu yang panjang dan ketekunan. Redy mendefinisikan kepemimpinan sebagai kesediaan mewakafkan diri 24 jam dan siap merespon kebutuhan orang lain kapan saja. Prinsip utama yang dipegang dalam memimpin gerakan volunteer adalah kejujuran dan totalitas. Seorang pemimpin harus jujur saat mengatakan tidak mampu melakukan sesuatu, namun siap untuk belajar dan ditempa.
Tantangan terbesar dalam memimpin ialah menjaga komitmen diri sendiri dan mengatasi keinginan anak muda yang suka berubah-ubah. Tantangan besar lainnya adalah mendapatkan dukungan dari keluarga yang sering kali kurang memahami aktivisme sebagai pekerjaan.
Keluarga sering bertanya kejelasan pekerjaan dan menuntut prestasi yang terukur, seperti penghargaan atau atau yang bersifat finansial. Mobilitas tinggi sebagai aktivis juga menjadi tantangan besar terhadap kesehatan fisik dan mental. Redy harus pandai mencari jaringan dan link untuk menjamin keberlangsungan roda gerakan komunitas.
Pembelajaran dan Kunci Keberlanjutan
Pengalaman panjang Redy sebagai aktivis, yang dimulai sejak usia 15 tahun dan diperkuat oleh latar belakang broken home, memberinya pelajaran berharga. Ia belajar bahwa ia tidak sendiri dan bahwa kerja-kerja sosial dapat diakui serta membawa manfaat luas. Pembelajaran paling mendasar ialah pentingnya memiliki banyak teman yang menyayangi dirinya dan komunitas yang ia pimpin.
Teman-teman ini memberikan dukungan kecil yang esensial bagi gerakan Peace Leader Indonesia. Bagi anak muda yang ingin memulai aktivisme tetapi bingung, Redy menyarankan untuk berani bercerita dan menghubungi Peace Leader Indonesia untuk dijejaringkan. Ia menekankan bahwa kegalauan jangan dipendam sendiri karena akan menjadi beban.
Pada intinya, kunci utama untuk menerima perbedaan dan bekerja sama adalah cinta kasih dan kasih sayang. Cinta kasih inilah yang melandasi seseorang untuk menerima orang lain apa adanya, menyadari bahwa setiap ciptaan memiliki misi yang unik.
Referensi:
She Builds Peace Indonesia (2024). Laki-Laki Jadi Aktivis Perdamaian dan Kesetaraan? Kenapa Engga? [online] YouTube. Available at: https://www.youtube.com/watch?v=0AWz5qVCzOA [Accessed 8 Oct. 2025].







