Saturday, July 13, 2024
spot_img
HomeBukuPerjalanan Perempuan dalam Novel ‘Surapati’

Perjalanan Perempuan dalam Novel ‘Surapati’

Novel Surapati merupakan salah satu tulisan Abdol Moeis, penulis yang dianugerahi oleh presiden sebagai pahlawan pergerakan nasional. Karyanya yang berjudul ‘Surapati’ pertama kali terbit di Balai Pustaka pada tahun 1953 dan merupakan salah satu dari sekian karyanya, yakni: Salah Asuhan (Balai Pustaka, 1928), dan Pertemuan Jodoh (Balai Pustaka, 1933). Dalam setiap alur cerita, selalu dibuka dengan beberapa kisah tentang sejarah yang belum saya ketahui. Khususnya kerajaan Mataram hingga kehidupan para saudagar Belanda, menjadi salah satu wahana bagi para pembaca.

Novel ini tidak hanya berisi tentang sejarah kerajaan Mataram dan berdirinya Pasuran serta kematian Surapati. Abdoel Moeis menyampaikan kisah tersebut dalam bentuk novel berdasarkan catatan sejarah  Surapati dari buku Babad Tanah Djawa, Geschiedenis van N.I.Dr. F.W. Stapel. Sedjarah Indonesia. Sanusia Pane, Si Untung, Melati Van Jaya. Dalam Novel ‘Surapati’ penulis menggambarkan secara detail gambaran sejarah kekuasaan Belanda yang berakibat pada penolakan hubungan gadis Belanda dengan pribumi.

Sepertinya, melihat kasta antara orang Belanda dengan pribumi, sangat jelas terlihat dalam novel ini. Hal tersebut terlihat ketika Kapten Moor mengetahui bahwa anaknya, Suzane sudah menikah dengan seorang budak, yakni Untung. Alkisah, pada zaman penjajahan, hiduplah seorang budak dari Bali yang bernama si Untung. Ia dipelihara oleh saudagar belanda bernama Kapten Moor. Kehidupan Kapten Moor sangat sibuk. Sedangkan hubungan yang dibangun oleh Untung dan Suzane menyebabkan keduanya jatuh cinta lalu memutuskan untuk menikah tanpa sepengetahuan Kapten Moor.

Lambat laun, hubungan keduanya diketahui oleh Kapten Moor karena sang putri hamil. Mengetahui hal itu, Kapten Moor menghukum Untung. Tidak terima dengan perlakuan Kapten, ia melarikan diri dan menerima tantangan untuk memcari Pangeran Purbaya. Namun, hubungannya kandas dengan Suzanne. Dalam kisah ini, pertentangan diri yang dimiliki oleh Suzanne sebagai perempuan keturunan Belanda yang menikah tidak diretui oleh sang ayah, berakibat pada keputusan untuk meninggalkan Untung.

Meskipun demikian, Suzane memiliki anak bernama Robert yang nantinya akan bertemu dengan sang ayah. Dalam cerita ini, jelas sekali terlihat bahwa, pernikahan antara gadis Belanda dengan pribumi mengalami pertentangan bahkan kepada Suzane sendiri. Sebagai seorang perempuan, sosok Suzane menanggung beban yang sangat berat. Dalam kondisi hamil, ia terpaksa memilih untuk meninggalkan sang suami. Surat yang ditulisnya adalah sebuah tanda bukti bahwa dirinya adalah perempuan tidak berdaya yang harus meninggalkan sang suami.

Akan tetapi disisi lain, hadirnya surat tersebut justru menjadi salah satu kemarahan Untung terhadap perempuan Belanda tersebut. Padahal sebenarnya, menjadi Suzane adalah menjadi sosok yang berat dengan pilihan tidak mudah. Disinilah ketidakberdayaan Suzane sebagai seorang perempuan yang tidak memiliki kemerdekaan atas kehidupannya sendiri. Ia bahkan tidak bisa memilih untuk hidup layak dan bahagia menjadi manusia. Selain Suzane, ada perempuan lain yang akan menjadi istri Untung. Pertemuan keduanya terjadi ketika Untung mencari pangeran Purbaya.

Pertemuan Untung dengan pangeran Purbaya ini nantinya yang akan menyambungkan jodoh antara Untung dan Raden Gusik Kusuma yang pada saat itu statusnya masih menjadi istri ke dua pangeran Purbaya. Raden Gusik tidak terima suaminya menyerah kepada kompeni dan akhirnya Raden Gusik Kusuma meminta untuk diceraikan. Karena dalam prinsip Raden Gusik sangat pantang untuk menyerah kepada Belanda. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing, begitulah yang dialami oleh Untung, Raden Gusik, dan kawannya yang lain.

Hal itulah yang memperkuat hingga akhirnya nanti Raden Gusik menjadi istri Untung. Sebelum memutuskan Raden Gusik menjadi Istrinya, Untung sangat kebingungan karena ia masih mengharapkan kehadiran Suzane dan anaknya yang waktu itu pulang ke Amsterdam. Dan, mereka mau kembali asalkan Untung mau menjadi orang Belanda. Namun, akhirnya karena kepentingan bangsa lebih penting. Maka, untung melepaskan kepentingan pribadinya untuk lebih memilih berjuang melawan Belanda. Akhirnya, Untung yang sudah menikah dengan Raden Gusik. Susah senang mereka hadapi bersama. Saat mendapatkan tekanan, dan harus segera keluar dari kerajaan Mataram, mereka hadapi dengan penuh ketegaran.

Sampai pada Untung atau Surapati mendapatkan masa kejayaannya waktu memimpin di Pasuruan. Dan, Untung berhasil memperluas kekuasannya. Untung dan Raden Gusik di karunia tiga orang putera yaitu Pengantin, Surapati, dan Raden Surodilogo. Baik Suzane ataupun Raden Gusik adalah perempuan yang sama-sama mempertahankan kebangsaannya.

Suzane adalah sosok perempuan yang memilih untuk menjadi orang Belanda karena disanalah dia berasal. Sedangkan Raden Gusik juga perempuan yang mempertahankan kebangsaannya sebagai bangsa Indonesia. Keduanya memiliki nasib yang tidak sama menjadi seorang perempuan.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments