Saturday, May 23, 2026

Namaku Teweraut: Suara Perempuan Adat dari Alam Papua

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Di tanah Papua, pohon-pohon menjulang tak hanya sebagai peneduh rimba, melainkan sebagai penjaga rahasia sejarah yang jarang diungkap. Salah satunya adalah kisah Teweraut. Lewat novel Namaku Teweraut karya Ani Sekarningsih (2008), kita tidak hanya diajak mengenali satu tokoh, tetapi menyelami semesta perempuan adat yang selama ini terpinggirkan oleh sejarah negara dan narasi dominan. Buku ini menjadi ruang kontemplatif yang mengisahkan bagaimana perempuan adat menjadi bagian tak terpisahkan dari tanah, air, hutan, dan kehidupan itu sendiri.

      Teweraut bukan pahlawan dengan senjata. Ia tidak tampil dalam poster propaganda atau catatan buku pelajaran. Namun dalam novel ini, ia hadir sebagai penjaga alam dan identitas yang terabaikan. Diangkat menjadi Putri Irian Barat pada 1969, Teweraut disorot kamera, dielu-elukan oleh negara, lalu dilupakan. Ia dipuja karena kecantikan fisiknya, bukan karena kekuatan jiwanya. Seperti halnya tanah Papua yang diklaim dan dieksploitasi tanpa persetujuan rakyatnya, Teweraut menjadi tubuh yang diambil tanpa didengarkan.

      Namun jangan salah, ini bukan kisah tentang perempuan yang kalah. Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang perempuan adat menyimpan kekuatan dalam diam, dalam kesetiaan pada tanah, dalam ingatan terhadap pohon, sungai, dan kampung halaman yang terus dikeruk.

 

Perempuan dan Alam: Satu Napas, Satu Harapan

      Pendekatan ekofeminisme melihat bahwa perempuan dan alam sering mengalami bentuk penindasan yang sama. Seperti ditulis Vandana Shiva (1988), kapitalisme dan patriarki sama-sama memperlakukan keduanya sebagai “sumber daya” yang dapat dikendalikan, dikomersialisasi, bahkan dihancurkan. Dalam konteks Papua, hubungan ini sangat terasa.

      Ketika tambang emas Freeport menggali perut bumi Papua, bukan hanya lingkungan yang rusak. Jantung komunitas adat juga ikut tercabik. Sungai tercemar, hutan gundul, dan perempuan kehilangan ruang untuk hidup. Teweraut adalah simbol dari kehilangan itu. Namun lebih jauh, ia juga simbol kekuatan untuk tetap bertahan.

      Dalam skripsi Inneke Rahayu Nuur Wasilah (2023), perempuan dalam Namaku Teweraut ditunjukkan mengalami ketertindasan ganda: oleh struktur patriarki adat dan oleh negara. Namun, Teweraut tidak tunduk sepenuhnya. Ia tetap menyimpan ingatan tentang kampung, tentang ibunya, tentang tanah tempat ia menari dan bernyanyi. Ia adalah perwujudan dari perlawanan sunyi yang tidak perlu teriak, tapi terus hidup.

 

Perempuan Adat sebagai Pelindung Pengetahuan

      Perempuan adat bukan sekadar penghuni kampung. Mereka adalah pustaka hidup. Mereka tahu kapan musim tanam dimulai, tanaman apa yang bisa menyembuhkan, dan pohon mana yang tak boleh ditebang karena itu rumah bagi roh leluhur. Ketika perempuan seperti Teweraut dilupakan, kita tak hanya kehilangan satu manusia, tetapi juga satu sistem pengetahuan yang tak tergantikan.

      Dalam analisis Amalia dkk. (2023), Teweraut    digambarkan sebagai representasi dari “memori ekologis” yang tak tercatat secara resmi. Ia tidak sekolah tinggi, tapi ia tahu nilai air dan tanah. Ia tak memegang jabatan politik, tapi ia tahu bagaimana komunitasnya bisa bertahan di tengah perubahan yang merusak.

      Perempuan seperti ini seringkali tidak terdengar di ruang rapat atau forum internasional. Tapi tanpa mereka, hutan tidak akan lestari. Ekosistem lokal akan runtuh. Novel ini menyuarakan peran mereka dengan cara yang halus namun menusuk: bahwa perempuan adat adalah garda terdepan perlindungan alam, dan dunia harus mulai mendengarkan.

 

Perempuan Sebagai Akar Penopang Lingkungan

      Seringkali narasi tentang perempuan adat dibungkus dalam kata-kata seperti “terpinggirkan”, “terluka”, atau “terkalahkan”. Padahal, dalam kenyataannya, mereka adalah yang paling teguh bertahan. Mereka tetap merawat kebun meski tanahnya direbut. Mereka tetap menyusui bayi sambil menghafal lagu-lagu suci. Mereka tetap memandangi langit untuk membaca tanda-tanda cuaca, meski langit itu kian kabur oleh debu tambang.

      Novel Namaku Teweraut menunjukkan bahwa kekuatan perempuan adat bukan dalam kekerasan, melainkan dalam keteguhan. Ia bisa diam, tapi diamnya adalah bentuk kritik. Ia bisa tak melawan secara fisik, tapi ia melawan lewat ingatan dan kesetiaan pada identitasnya.

      Sebagaimana ditulis oleh Purnamasari & Fitriani (2020), narasi dalam novel ini merekam bahasa perempuan yang tidak hanya menderita, tapi juga membangun ruang untuk bertahan dan mengklaim kembali martabatnya.

 

Budaya dan Lingkungan Takkan Selamat Tanpa Perempuan

      Salah satu ironi pembangunan modern adalah meninggalkan perempuan adat dari proses pengambilan keputusan. Ketika proyek pembangunan datang, baik jalan, tambang, atau perkebunan skala besar, jarang ada perempuan adat yang diajak bicara. Padahal, mereka yang paling tahu kondisi tanah. Mereka yang paling terdampak. Dan mereka pula yang paling setia menjaga. Novel ini mengingatkan kita bahwa pelestarian lingkungan tidak bisa dilepaskan dari keadilan gender. Alam dan perempuan tidak bisa diselamatkan satu per satu, keduanya terikat. Ketika perempuan adat diberi ruang, maka pelestarian lingkungan bukan lagi sekadar proyek teknis, tapi bagian dari proses pemulihan kultural yang menyeluruh.

 

Kesimpulan: Teweraut Adalah Kita Semua

      Kisah Teweraut dalam novel ini tidak berhenti pada 1969. Ia terus hidup dalam perempuan-perempuan yang hari ini masih merawat tanah adatnya, meski tanpa pengakuan. Ia hidup dalam suara ibu yang menasihati anak gadisnya agar tidak lupa menanam. Ia hidup dalam peluh para petani perempuan yang terus bertahan meski digusur proyek-proyek besar.

      Namaku Teweraut bukan hanya novel, tapi sebuah refleksi. Tentang siapa yang kita dengarkan dan siapa yang kita abaikan. Tentang bagaimana perempuan adat bukan beban masa lalu, tapi penentu masa depan bumi. Mereka bukan pihak yang membutuhkan penyelamatan, tapi pihak yang sejak awal menyelamatkan kita semua.

Referensi:

  • Sekarningsih, A. (2008). Namaku Teweraut. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • Amalia, N., dkk. (2023). Ekofeminisme dalam Novel Namaku Teweraut. Jurnal Basastra, Universitas Sebelas Maret.
  • Wasilah, I. R. N. (2023). Kajian Ekofeminisme dalam Novel Namaku Teweraut. Skripsi. ULM Banjarmasin.
  • Purnamasari, I., & Fitriani, Y. (2020). Analisis Ginokritik dalam Novel Namaku Teweraut. Jurnal Pembahsi, Universitas PGRI Palembang.
  • Shiva, V. (1988). Staying Alive: Women, Ecology, and Development. London: Zed Books.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha