Perjalanan Learning Exchange di Cirebon membawa saya pada pemahaman baru tentang konsep Mubadalah. Bukan hanya sebagai metode interpretasi, tetapi juga sebagai etika dalam berelasi. Jika saya ingin keyakinan saya dihormati, saya perlu belajar menghormati keyakinan orang lain. Jika saya ingin pengalaman keagamaan saya didengarkan, saya juga perlu memberi ruang bagi pengalaman keagamaan orang lain. Jika saya ingin diperlakukan sebagai manusia yang utuh, maka saya perlu memperlakukan orang lain sebagai manusia yang utuh.
Kesalingan semacam ini bukan berarti menghapus perbedaan. Sebaliknya, ia justru mengakui perbedaan sambil menolak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan martabat manusia. Bagi saya, ini penting dalam membicarakan perdamaian.
Mengingat perdamaian tidak mungkin dibangun jika kita hanya ingin orang lain memahami kita, tetapi tidak memiliki kemauan untuk memahami mereka. Tidak mungkin ada dialog jika hanya satu pihak yang merasa memiliki kebenaran sementara pihak lain ditempatkan sebagai objek yang harus mendengarkan. Begitupun tidak mungkin ada relasi yang setara jika kita hanya meminta penghormatan tanpa bersedia memberikan penghormatan yang sama.
Pemikiran ini membawa saya pada Paulo Freire yang memandang dialog sebagai bagian penting dari proses humanisasi. Dialog bukan sekadar pertukaran kata, tetapi proses ketika manusia bertemu sebagai subjek yang sama-sama memiliki pengalaman dan pengetahuan. Dan pemikiran Freire ini membantu saya memahami kembali pengalaman Learning Exchange.
Saya tidak hadir di sana hanya untuk “belajar tentang orang lain”. Saya juga belajar bersama orang lain. Perbedaannya mungkin tampak kecil, tetapi secara epistemologis sangat penting.
Belajar tentang orang lain masih memungkinkan kita menempatkan diri sebagai pusat pengetahuan. Sementara belajar bersama orang lain mengharuskan kita mengakui bahwa pengetahuan tidak hanya berada pada diri kita.
Pengalaman orang lain juga merupakan sumber pengetahuan, cerita orang lain juga valid dan otoritatif, serta perspektif yang berbeda tidak otomatis keliru. Karena itu, Kegiatan Learning Exchange bagi saya bukan sekadar pertukaran pengetahuan, tetapi pertukaran pengalaman, cara pandang, dan cara memahami dunia dengan damai dan setara.
Refleksi Mubadalah dalam Relasi Keluarga
Ada satu hal yang kemudian terasa menarik bagi saya. Semakin jauh saya berbicara tentang perdamaian, keberagaman, dan relasi lintas agama, saya justru semakin teringat pada bidang yang selama ini saya tekuni: keadilan dan kesetaraan dalam keluarga. Bukankah keluarga adalah ruang pertama manusia belajar tentang relasi?
Di dalam keluarga, seseorang pertama kali belajar apakah suaranya didengarkan atau tidak. Apakah perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman atau kesempatan untuk berdialog. Apakah keputusan selalu ditentukan oleh satu pihak atau dapat dibicarakan bersama. Karena itu, prinsip Mubadalah yang saya kenal dalam kajian gender ternyata memiliki relevansi yang jauh lebih luas.
Kesalingan dapat menjadi prinsip dalam keluarga, kesalingan dapat menjadi prinsip dalam relasi sosial, kesalingan dapat menjadi prinsip dalam kehidupan beragama. Bahkan, kesalingan dapat menjadi salah satu etika dalam membangun perdamaian.
Pada akhirnya, memang benar bahwa perdamaian global tidak benar-benar jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Ia bisa dimulai dari keluarga. Dari cara pasangan memperlakukan satu sama lain.
Dari cara orang tua mendengarkan anak. Dari cara kita memperlakukan tetangga yang berbeda keyakinan. Dari cara kita berbicara tentang kelompok lain ketika mereka tidak berada di ruangan. Dan dari kesediaan untuk bertanya sebelum menghakimi.
Pulang dengan Cara Pandang Baru
Saya datang ke Cirebon dengan membawa sebagian bekal pengetahuan tentang Mubadalah. Tetapi saya pulang dengan pengalaman baru tentang bagaimana Mubadalah dapat dibaca dalam konteks yang lebih luas. Saya datang dengan pemahaman bahwa Mubadalah adalah perspektif penting dalam perjuangan keadilan gender.
Saya pulang dengan kesadaran bahwa prinsip kesalingan juga dapat menjadi cara untuk membangun perjumpaan keberagamaan yang lebih setara. Bukan berarti saya menemukan definisi baru tentang Mubadalah. Justru sebaliknya. Saya menemukan kemungkinan baru untuk membaca gagasan yang sebenarnya sudah cukup familiar bagi saya. Mungkin itulah salah satu hal paling menarik dari belajar: terkadang kita tidak selalu membutuhkan konsep baru. Kita hanya membutuhkan ruang baru untuk melihat kembali konsep yang sudah kita kenal.
Cirebon menjadi ruang bertumbuh bagi saya. Di sana saya belajar bahwa perdamaian bukan hanya persoalan bagaimana membuat orang yang berbeda dapat hidup berdampingan. Perdamaian juga tentang bagaimana kita memandang orang yang berbeda tersebut. Apakah kita melihatnya sebagai objek yang perlu kita pahami? Ataukah sebagai subjek yang memiliki pengalaman, pengetahuan, keyakinan, dan martabat yang perlu kita dengarkan?






