HomeFilmGangubai Kathiawadi: Bos Mafia yang Memperjuangkan Hak Perempuan

Gangubai Kathiawadi: Bos Mafia yang Memperjuangkan Hak Perempuan

Barangkali kita selama ini berpikir bahwa, perempuan pekerja seks adalah perempuan yang tidak layak dan memalukan ketika hidup di tengah-tengah masyarakat. Namun, pandangan tersebut seperti sirna ketika melihat film “Gangubai Kathiawadi”. Film ini justru menjawab stigma negatif tentang sosok perempuan pekerja seks yang ada di India.

Diadaptasi dari “The Matriarch of Kamathipura”, sebuah bab dalam novel “Mafia Queens of Mumbai: Stories of Women from The Ganglands”. Sebuah antologi kriminal dari Hussain S. Zaidi yang ditulis bersama Jane Borges pada tahun 2011. Gangubai Harjivandas atau juga yang dikenal sebagai Gangubai Kothewali atau Gangubai Kathiawadi, pemilik rumah bordil di daerah Kamathipura pada era tahun 1960-an yang kemudian menjadi “penguasa” di daerah tersebut.

Menjadi pemilik rumah bordil tidak lain bermula dari pilihan hidupnya yang ingin merantau untuk menjadi aktris, kemudian ia kabur dan kawin lari bersama kekasinya, yakni Ramnik Lal. Namun, sesampainya di Mumbai, Gangu ternyata di jual oleh kekasihnya kepada salah satu rumah bordil untuk menjadi pekerja seks. Akhirnya, di tempat itu, ia terpaksa menjadi pekerja seks yang memiliki nilai tawar lebih tinggi dibandingkan yang lain.

Selain parasnya yang cantik, ia juga memiliki kemampuan negosiasi yang bagus. Hal ini terlihat dari pertemuan bersama Rahim Lala (Ajay Devgn) yang menjadikan Gangu sebagai ratu mafia yang dihormati oleh masyarakat Kamathipura. Pada awal film, Gangubai tampil sebagai sosok yang hadir kepada seorang gadis yang menolak untuk dijadikan pekerja seks. Lalu datanglah Gangu, perempuan pemiliki rumah bordil yang menceritakan kisah hidupnya untuk memilih menjadi pekerja seks.

Namun, gadis tersebut nyatanya memilih untuk kembali ke rumah, sehingga Gangu memutuskan untuk memberikan kebebasan kepada gadis itu. Kehidupan Gangu penuh lika-liku. Kesedihan dialaminya ketika ia mengetahui bahwa ayahnya meninggal. Selama 12 tahun Gangu berada di Kamathipura setelah meninggalkan rumahnya. Film ini berkisah tentang kehidupan perempuan yang kompleks. Tokoh Gangu awalnya bernama Ganga, seorang gadis yang tampil sangat ceria dan penuh optimis untuk menjadi aktris.

Namun, setelah dijual oleh kekasihnya itu, kemudian ia terpaksa menjadi pekerja seks. Sejak melayani pelanggan pertamanya, namanya berubah menjadi Gangubai. Kehidupan Gangu tampil dengan kehidupan penuh tantangan, kesedihan. Kebahagiaan hingga pilihan yang mengharuskan ia untuk menjadi pemilik rumah bordil. Kisah cintanya berakhir tragis, sebab setelah dijual oleh kekasihnya, ada sosok laki-laki yang bernama Afshaan, mampu memikat hatinya.

Namun, hubungan dengan Afshaan Gangu tinggalkan. Ia justru menikahkan Afshaan dengan anak dari pekerja seks untuk mendapatkan kehormatan. Tantangan lainnya juga datang ketika ia harus berhadapan dengan Razia Bai, seorang transgender yang menjadi lawan Gangubai dalam perebutan kekuasaan di daerah Kamathipura, Raaz tampil brilian dengan pesona layaknya mafia yang benar- benar menjadi rival bagi Gangu. Perebutan kekuasaan dimenangkan oleh Gangu.

Hal itu tidak terlepas dari peran Rahim, yang sedari awal selalu membantu Gangu. Menariknya, Gangubai tampil sebagai perempuan perkasa yang tidak takut kepada apapun. Hal ini bisa dilihat dari perjuangannya agar prostitusi di negara tersebut dilegalkan lantaran ia mempertimbangkan kehidupan para perempuan yang tinggal di rumah bordirnya. Di tempat itulah, perempuan menggantungkan nasib untuk hidup. Ada anak-anak yang harus diberikan masa depan lebih baik.

Rumah bordil itu diperjuangkan secara lantang oleh Gangubai untuk mendapatkan keadilan. Meskipun demikian, disisi lain, dualisme kepribadian yang ditampilkan dari sosok Gangu terlihat jelas. Artinya, di satu sisi, Gangu adalah perempuan yang sedang memperjuangkan martabat perempuan lainnya agar tetap hidup tanpa stigma, tanpa bully, serta mendapatkan keadilan yang sama. Disisi lain, ia adalah mantan pekerja seks, pemilik rumah bordil, serta bos mafia.

Kehidupan Gangu tampil secara terhormat dengan ketiadaan pasangan yang melekat dalam dirinya. Ia justru tampil sebagai perempuan perkasa tanpa kehadiran laki-laki dalam hidupnya. Keberaniannya juga terlihat ketika ia bertemu dengan perdana Menteri untuk meminta agar prostitusi dilegalkan. Hal itu perlu dilakukan karena bagi Gangu, ada beribu-ribu perempuan yang harus hidup dan bergantung dengan bisnis tersebut. Gangu adalah pelajaran bagi kita semua untuk melihat bahwa pekerja seks juga manusia.

Previous article
Next article
RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments