Editor: Adzka Hanina
Nadia Murad. Salah satu perempuan Irak yang menjadi korban perbudakan oleh kelompok Negara Islam (ISIS). Mulanya ia dan keluarga hidup tenang di Kocho, sebuah kampung yang terletak di dekat perbatasan dengan Suriah.
Namun, ketika Militan Islamic State of Iraq (ISIS) menyerbu desanya dan memaksa seluruh penduduknya hidup dalam kengerian. Murad, yang kala itu baru berusia 19 tahun, menyaksikan keluarganya dibantai. Para laki-laki dibunuh, sementara perempuan dan anak-anak diculik untuk dijadikan budak seksual.
Melansir dari Tirto.id, salah satu alasan ISIS menargetkan Sinjar adalah karena wilayah tersebut dihuni oleh komunitas Yazidi, yang dianggap memiliki kepercayaan berbeda dari Islam. Mereka dianggap sebagai “kafir”, yaitu kelompok yang harus dipaksa untuk berpindah agama atau dimusnahkan.
Pada tahun 2014, ISIS melakukan penyerangan ke Sinjar, termasuk Kocho. Dalam peristiwa tersebut, mereka membunuh ribuan manusia, melakukan penganiayaan yang luar biasa, dan ribuan perempuan dan anak diperkosa dan dijadikan budak seksual.
Sebagai salah satu dari ribuan perempuan Yazidi yang diculik oleh ISIS, Murad mengalami kekerasan seksual dan penyiksaan fisik. Bahkan pada wartawan BBC ia mengaku bahwa ia sempat menjadi korban perdagangan manusia.
Perjalanan Nadia Murad Lolos dari Perbudakan ISIS
Ketika milisi yang menjaganya tengah lengah, Murad memberanikan diri pergi dan ia berhasil menuju ke perbatasan Irak berkat bantuan keluarga di Mosul yang memberikannya abaya hitam dan kartu identitas baru.
Seperti dilaporkan Channel News Asia, Murad bergabung dengan ribuan warga Yazidi di kamp pengungsian setelah tiga bulan ditawan ISIS. Di sanalah ia mulai berani membuka kisah hidupnya kepada wartawan, tentang kekerasan yang dialaminya dan trauma mendalam akibat perkosaan yang dilakukan oleh milisi.
Setelah itu, Murad pun memutuskan untuk menerima tawaran lembaga bantuan untuk tinggal di negara lain sebagai pengungsi. Ia akhirnya menetap di Jerman setelah memperoleh izin lewat program yang diadakan oleh pemerintah negara bagian Baden-Württemberg.
Dari Luka, Lahir Keberanian
Melarikan diri dari perbudakan ISIS adalah awal dari kebangkitan Murad. Setelah lolos, ia dengan berani mengungkapkan penderitaannya pada publik. Dilansir dari Infid.org, pada tahun 2015, Murad diundang untuk memberikan kesaksian di hadapan Dewan Keamanan PBB. Di forum itu, ia menceritakan nasib buruk yang dialami oleh perempuan Yazidi yang dipaksa menjadi budak seksual oleh ISIS.
Berangkat dari itu, Murad mendesak komunitas internasional untuk mengakui kekejaman dan penyerangan brutal ISIS sebagai tindakan genosida. Ia menuntut pelaku kejahatan tersebut diadili.
Pada tahun 2016, PBB menunjuk Murad sebagai Duta Besar Kehormatan untuk Martabat Korban Perdagangan Manusia. Sejak saat itu, ia tak hanya menyuarakan perlindungan bagi perempuan dan anak-anak di wilayah konflik, tapi juga mendorong perubahan kebijakan internasional agar dunia lebih serius merespons korban kekerasan seksual dalam perang.
Bagi Murad, pemulihan para penyintas tidak bisa hanya berhenti pada bantuan fisik saja. Sebab, mereka juga membutuhkan dukungan psikologis dan sosial, agar bisa kembali menata hidup dengan bermartabat.
Murad memilih untuk tidak diam. Dia terus bersuara, bukan hanya untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk kehidupan semua perempuan yang masih terjebak dalam perbudakan seksual di zona konflik.
Dalam berbagai wawancara, Murad sering menyampaikan, “Saya di sini karena saya tidak ingin ada anak perempuan lain yang mengalami apa yang saya alami. Tidak ada satu orang pun yang pantas hidup dalam ketakutan, dipaksa menyerahkan tubuhnya kepada orang lain.”
Menularkan Keberanian Lewat Nadia’s Initiative
Pada tahun 2018, Murad mendirikan organisasi Nadia’s Initiative. Lewat organisasi ini, Murad membantu warga Yazidi untuk kembali ke tanah kelahirannya dengan rasa aman. Ia memberikan bantuan psikologis untuk korban kekerasan seksual.
Nadia’s Initiative mengajak berbagai lembaga lokal dan internasional untuk bekerja sama membantu para penyintas menerima terapi dan konseling yang mereka butuhkan sebelum kembali ke tanah kelahirannya.
Nadia’s Initiative juga memberdayakan korban lewat program pendidikan dan pelatihan keterampilan untuk membantu penyintas membangun kehidupannya kembali. Lebih dari itu, organisasi ini juga aktif mengadvokasi komunitas global untuk mengakui kekejaman yang dialami oleh warga Yazidi sebagai tindakan genosida.
Lewat Nadia Initiative, Murad dan tim juga membuat program berkelanjutan di daerah Sinjar lewat Sinjar Action Fund (SAF) untuk memberikan berbagai bantuan bagi masyarakat Yazidi. Pada 2018, mereka menerbitkan laporan berjudul “In The Aftermath of Genocide” yang berisi analisis data lapangan soal keadaan Sijar pasca-serangan ISIS pada 2014.
Dari data ini, Murad melihat bahwa pendidikan dan tempat tinggal yang aman merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk diperhatikan agar pengungsi Yazidi dapat kembali ke daerah asalnya.
Gerakan yang dilakukan Murad merupakan bentuk perjuangan dia dalam memulihkan martabat kemanusiaan warga Yazidi yang sebelumnya dirampas oleh ISIS. Ia memilih untuk terus bersuara, karena baginya, diam hanya akan membuat ketidakadilan terus hidup.
Dari Penyintas Menjadi Simbol Perdamaian
Dari kegigihannya memperjuangkan hak-hak para korban, Murad mendapatkan berbagai penghargaan, seperti penghargaan Vaclav Havel dan Sakrarov tahun 2016. Selain itu, ia juga mendapatkan Clinton Global Citizen Award dan Peace Prize dari United Nations Association of Spain. PBB kemudian menunjuk Murad sebagai Duta Persahabatan untuk Martabat Para Penyintas Perdagangan.
Kemudian pada tahun 2018, Murad juga dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian dari perjuangannya. Ia telah memperjuangkan pembentukan tim investigasi PBB untuk mengumpulkan bukti kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida yang dilakukan oleh ISIS.
Gerakan Murad menjadi cermin bagaimana sebagai penyintas ia memberikan kesempatan bangkit bagi mereka yang hancur oleh perang. Oleh karena itu, penghargaan yang ia terima bukan hanya sebagai pengakuan atas perjuangannya, tetapi juga sebagai harapan bagi mereka yang masih hidup dalam ketakutan dan penindasan.
Di balik semua penghargaan yang ia terima, ada pesan mendalam yang Murad sampaikan bahwa “Kita semua tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan orang lain.”.[]







