Thursday, October 15, 2026

Berbeda Keyakinan, Satu dalam Kemanusiaan: Ketika Perbedaan Menjadi Ruang untuk Saling Mengenal

Keberagaman agama adalah kenyataan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Data BPS 2024 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia terdiri atas pemeluk Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, serta kelompok kepercayaan.

Sekitar 87,2 persen penduduk Indonesia beragama Islam, sementara sisanya merupakan pemeluk agama dan kepercayaan lainnya. Maka tidak bisa dipungkiri bahwa dalam lingkungan sekolah, kerja, bertetangga, dan berteman dengan orang-orang yang mungkin memiliki keyakinan serta tradisi keagamaan yang berbeda satu dengan lainnya.

Belajar Mengenal Perbedaan dari Lingkungan Pendidikan

Hidup berdampingan dengan keberagaman tidak selalu berarti kita telah benar-benar saling memahami. Di satu sisi, perbedaan dapat menjadi sumber pengetahuan dan memperkaya pengalaman hidup.

Naasnya, di sisi lain, perbedaan yang tidak dipahami dapat dengan mudah berubah menjadi prasangka, stereotip, bahkan memicu terjadinya konflik. Jarak antara keduanya terkadang sangatlah tipis. Bahkan tanpa sadar, dimulai dari sebuah candaan yang tidak dipikirkan, komentar tentang ritual agama lain, atau keyakinan bahwa cara beragama kelompok lain adalah sesuatu yang aneh.

Ketika duduk di bangku sekolah menengah di salah satu sekolah di Way Kanan, Lampung, saya berada di kelas yang dihuni oleh siswa dengan latar agama dan budaya yang beragam. Ada teman Muslim, Kristen, dan Hindu.

Pada awalnya, keberagaman itu terasa biasa saja. Kami bercanda tentang tradisi agama masing-masing sebagaimana anak-anak seusia kami bercanda. Sampai suatu ketika, candaan tersebut menyentuh pada ranah yang tidak seharusnya.

Ejekan yang semula hanya menyentuh tradisi mulai masuk ke wilayah keyakinan. Pertengkaran pun terjadi. Beberapa siswa yang terlibat akhirnya dipanggil ke ruang kepala sekolah.

Setelah mereka kembali ke kelas, tak lama kemudian, wali kelas kami masuk dan berbicara panjang lebar tentang toleransi. Beliau mengajak seluruh kelas untuk belajar saling memahami dan menghormati perbedaan. Dari situlah kami akhirnya mulai melakukan sesuatu yang sederhana tapi sangat bermakna: bertanya dan mendengarkan.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu pelajaran berharga kami tentang makna sebuah perdamaian. Kami mulai paham bahwa konflik tidak selalu lahir karena orang-orang saling membenci. Terkadang konflik lahir karena manusia belum cukup saling mengenal.

Sejak itu, kami mulai bercerita tentang tradisi agama masing-masing, bertukar pengetahuan tentang sejarah keagamaan, saling mengucapkan selamat ketika hari raya masing-masing agama, dan bertamu bersama-sama  ke rumah teman yang sedang merayakannya.

Perlahan, sesuatu yang semula menjadi sumber pertengkaran berubah menjadi ruang untuk belajar. Dari sanalah kita memahami bahwa perdamaian antar agama tidak selalu dimulai dari gagasan besar. Kita selalu dapat memulainya dari perjumpaan yang sederhana, serta melapangkan hati untuk memberikan kesediaan untuk mendengar, melihat seseorang sebagai manusia, bukan berdasarkan identitas agamanya.

Merajut Persahabatan Lintas Iman

Di antara teman-teman kelas itu, ada satu sahabat yang sampai sekarang saya ingat dengan hangat. Namanya Ketut. Ia beragama Hindu.

Kami sangat dekat, sering belajar bersama, bermain bersama, dan bahkan dia sangat baik sering menjemputku untuk bekerja kelompok bersama di rumah teman kami. Bahkan ketika saya sedang menjalankan puasa Senin-Kamis, ia memilih untuk duduk bersama di kelas dan belajar daripada pergi ke kantin untuk jajan di jam istirahat.

Di lain waktu, saya juga pernah pura-pura tidak berpuasa agar dia mau ke kantin, sehingga saya dapat menemaninya jajan meskipun sedang berpuasa. Kami bahkan pernah berdebat tentang agama.

Saya bercerita tentang puasa Ramadan, sementara ia bercerita tentang Nyepi. Kami saling bertanya dan sesekali berbeda pendapat. Tetapi tidak pernah ada kebencian dalam perdebatan itu. Perdebatan justru membuat kita saling memahami satu sama lain. Kami tidak perlu menjadi sama untuk bersama-sama.

Nilai Perdamaian dalam Ayat Suci Al-Qur’an

Pengalaman semasa sekolah menengah itu terasa dekat dengan QS. Al-Hujurat [49]: 13, ketika Al-Qur’an menyebut keberagaman manusia sebagai bagian dari kehendak Allah dan mengatakan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku  agar kamu saling mengenal (lita’arafu).

Tafsir Kementerian Agama juga menjelaskan bahwa Allah SWT menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Juga saling membantu satu sama lain, bukan saling mengolok-olok dan saling memusuhi antara satu kelompok dengan yang lainnya.

Ta’aruf bukan berarti harus menyamakan atau bahkan sampai memaksakan keyakinan. Sebab dalam Qur’an Surat al-Baqarah ayat 256 sudah ditegaskan bahwa (Laa ikraaha fiddiin) tidak ada paksaan dalam beragama. Saya tetap Muslim dan Ketut tetap Hindu. Tetapi kami belajar memahami dan menghargai satu sama lain tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.

Al-Qur’an juga menegaskan dalam QS. Al-Mumtahanah [60]: 8 bahwa Allah tidak melarang  untuk berbuat baik, mengadakan hubungan persaudaraan, tolong-menolong, dan bantu-membantu dengan orang yang berbeda keyakinan.

Kita tidak harus memiliki keyakinan yang sama untuk saling menghargai. Kita bahkan boleh berbeda pendapat, selama perbedaan itu tidak menghilangkan kemanusiaan. Ketika berjalan bersama-sama, bukankah justru segalanya tampak lebih indah dan mudah?

Bahkan jika bersama-sama, kita punya lebih banyak hari raya daripada yang lainnya.

Salam hangat untuk Mba Ketut di Lampung, dari sahabatmu, Leni.

Leni Nur Azizah
Leni Nur Azizah
INFJ. Suka, buku, puisi dan alam. Sapa aku lewat instagram @Leni_azie.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha