HomeCeritaHadirnya RPTRA dan Hilangnya Sekat Sosial

Hadirnya RPTRA dan Hilangnya Sekat Sosial

Bagi warga yang tinggal di kontrakkan sempit ukuran 3×3 meter, mendapatkan ruang terbuka sebuah kemewahan. Program Pemerintah DKI Jakarta menghadirkan Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA), dengan menggandeng sektor swasta adalah keputusan yang sangat tepat. Dibangun diatas lahan 1500 meter persegi, kini RPTRA bukan saja berfungsi sebagai ruang bermain dan belajar anak. Bagi komunitas padat perkotaan seperti tempat tinggal Rohimah, keberadaan RPTRA kini memiliki multifungsi sebagai tempat berkumpul semua warga, melakukan aktifitas senam pagi, menggiatkan bertanam sayur, rapat kordinasi warga, peringatan 17 Agustusan yang kesemuanya bertujuan memperkuat interaksi antara warga. Bahkan sebagai ruang santai untuk sekedar ngobrol dan tahu kabar para tentangga dapat mengurai kesumpekan dan kerumitan persoalan rumah tangga.

Berlokasi di Jl. Balai Rakyat III Rt 013 Rw 01, Pd. Bambu, RT.2/RW.1, Pd. Bambu, Kec. Duren Sawit, Kota Jakarta Timur, RPTRA telah menghadirkan warna kehidupan baru untuk warga Pondok Bambu. Anak-anak lebih terlokalisir bermain di dalam RPTRA dengan bimbingan dari anak-anak muda yang ditugaskan untuk memberikan peningkatan kapasitas akademik pada anak-anak, ketrampilan berbahasa Inggris, belajar komputer dan lain-lain. Bahkan aktifitas Sekolah Perempuan Perdamaian (SP), sebuah inkubator kepemimpinan perempuan yang menjelma menjadi organisasi perempuan yang menyebarkan perdamaian dan pentingnya gotong royong, juga difasilitasi oleh RPTRA.

Bahkan RPTRA juga memiliki fungsi sebagai Pusat Informasi dan Konseling ((PIK) kini diintegrasikan di RPTRA yang salah satu fungsinya adalah menerima pengaduan adanya kekerasan dalam rumah tangga. Ibu-ibu penggerak SP menjadi pengelolah PIK yang tugasnya mendengarkan komplain, pengaduan dan curhatan warga terkait dengan keluarga.

Hadirnya RPTRA merobohkan dinding pembatas antara warga perkampungan padat dengan warga kompleks. Saya masih ingat tahun 2007 ketika saya pertama kali masuk ke Kampung Sawah, dimana Rohimah tinggal, ada tembok tinggi menyekat antara Kompleks Kebersihan dan perkampungan warga miskin. Sebuah pintu masuk kecil dibuatkan sebagai akses warga perkampungan padat menuju jalan besar tidak langsung melewati kompleks. Saya sendiri lebih sering melewati pintu kecil itu, ketika berkunjung ke Kampung Sawah, dibandingkan akses lain. Mungkin karena sejak awal, tembok itu mencuri perhatian saya, dan selalu mempertanyakan fungsi selain pembatas wilayah kompleks kebersihan.

Tembok pembatas secara literal menghalangi interaksi warga perkampungan padat dan kompleks kebersihan. Secara sosial, mereka memiliki sistem bermasyarakat sendiri, dan pola interaksi yang tersegregasi. Warga di perkampungan padat tidak menjadi bagian kegiatan sosial di Kompleks Kebersihan. Itu karenanya mengapa hampir semua ibu-ibu yang tinggal di perkampungan padat tidak menjadi anggota PKK atau organisasi lainnya. Bahkan muncul sebutan “warga bawah” dan “warga atas” untuk menandai identitas lokasi dan status sosial.

Geliat perubahan di warga bawah rupanya menarik perhatian sekelompok ibu-ibu yang tinggal di Kompleks Kebersihan. Setelah sejumlah sesi-sesi peningkatan kapasitas para ibu dijalankan, sangat terlihat bahwa mereka menemukan kembali rasa percaya dirinya. Riak-riak melalui kegiatan warga seperti perlombaan 17 Agustus, kerja bakti “mancing sampah”, mengenali tetangg dengan alat Participatory Rural Appraisal (PRA), dan lain-lain, rupanya menjadi pembicaraan di warga atas.

Puncaknya, kehadiran calon gubernur DKI, Basuki Tjahaya Purnama (biasa disebut Ahok) pada momen kampanye Pilkada 2017. Saat itu, ada diskusi Buku berjudul “A Man Called Ahok”, dimana menghadirkan Ahok sebagai salah satu pembicara. Sejumlah ibu-ibu dari Pondok Bambu hadir. Ciptaning memecah kebisuan forum dengan mengajukan sejumlah dampak negatif pembangunan RPTRA, yang membuat warga tidak nyaman. Sontak, Ahok segera memutuskan untuk mengunjungi RPTRA Pondok Bambu. Saya melihat dari jauh saja, ketika Ciptaning dan sejumlah ibu-ibu, serta beberapa warga laki-laki memberikan penjelasan dan bukti pembangunan RPTRA yang salah. Di tengah kerumunan itulah, saya mendengarkan banyak suara-suara kagum kepada Ciptaning. Ada yang menyebut-nyebut Sekolah Perempuan. Intinya, semua mata bangga karena tiba-tiba Calon Gubernur mereka hadir ditengah-tengah mereka dan melakukan blusukan diagnosa kondisi warga.

Selain hadirnya RPTRA, tentu saja kehadiran Ahok di Pondok Bambu dianggap berkat jasa Ciptaning dan Sekolah Perempuan masih melekat di memori setiap orang. Sejak itu, nama Sekolah Perempuan naik daun. Para ibu yang selama ini menjadi pengikut setia SP semakin merasa yakin bahwa pengetahuan akan membawa mereka satu level lebih tinggi. Pengetahuan akan membawa mereka pada penghargaan.

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments