Editor: Yuyun Khairun Nisa
Marianne Katoppo adalah salah satu intelektual dan sastrawan perempuan Indonesia yang berupaya meningkatkan harkat dan martabat perempuan melalui karya-karyanya. Baik dalam bidang sastra maupun teologi, Marianne menghadirkan kritik tajam terhadap ketimpangan sosial dan sistem patriarki yang melekat dalam budaya serta institusi keagamaan.
Dalam karya-karyanya, sosok perempuan senantiasa menjadi tokoh utama dan pusat pergumulan hidup—mereka memiliki idealisme, daya pikir, dan perasaan yang sering kali tidak mudah dipahami, bahkan disalahartikan oleh pembacanya. Ia menulis bukan sekadar untuk memperkaya khazanah literasi Indonesia, tetapi juga untuk menggugat struktur kuasa yang menempatkan perempuan sebagai pihak terpinggirkan, baik dalam masyarakat maupun dalam teologi.
Melalui karya sastra, Marianne menyalurkan kritik sosialnya dengan cara yang halus namun tetap tajam. Ia menampilkan perempuan bukan sebagai korban pasif, melainkan sebagai subjek yang berpikir, merasa, dan bertindak. Dalam novelnya Raumanen, misalnya, ia menggambarkan tokoh Manen—gadis Minahasa yang mencintai Monang, pria Batak—tetapi cintanya terhalang oleh hukum adat Batak yang kaku dan diskriminatif.
Konflik antara cinta dan tradisi adat ini memperlihatkan bagaimana hukum sosial yang lawas mengekang kebebasan perempuan. Tokoh-tokoh seperti Swasti, Pingkan, dan Tessie dalam karya-karya lainnya juga digambarkan sebagai perempuan bebas, tabah, dan bijaksana dalam menghadapi tekanan sosial.
Mereka adalah simbol perempuan yang berani meninggalkan “tempurung kelapa”, mengembara secara intelektual dan raga. Bagi Marianne, menulis adalah bentuk pelayanan. Ia memandang sastra sebagai sarana penyembuhan bagi jiwa-jiwa yang terluka oleh ketidakadilan sosial dan kultural.
Selain melalui sastra, pemikiran teologis Marianne menegaskan posisinya sebagai teolog feminis Asia yang progresif. Dalam bukunya Compassionate and Free: An Asian’s Theology, ia menyoroti bagaimana agama seringkali berperan dalam menciptakan ketimpangan gender di masyarakat.
Agama yang didominasi oleh laki-laki telah membentuk sistem hak istimewa yang timpang dan membatasi perempuan untuk menjadi manusia yang utuh. Melalui reinterpretasi terhadap konsep “Allah yang berbelas kasih,” Marianne menolak pandangan teologis yang menekankan kekuasaan dan dominasi. Baginya, Tuhan justru hadir dalam kelembutan, kasih, dan solidaritas—nilai-nilai yang selama ini dilekatkan pada perempuan dan sering diremehkan.
Kritik Marianne tidak berhenti pada level teologis. Ia menegaskan bahwa pemahaman agama yang bias gender turut memperkuat ketidakadilan sosial. Tafsir agama yang menempatkan perempuan di posisi inferior bukanlah kehendak ilahi, melainkan hasil konstruksi budaya patriarki. Karena itu, tugas teologi bukan hanya menafsirkan teks, tetapi juga membaca konteks, membebaskan manusia dari ketidakadilan—terutama perempuan yang selama berabad-abad menjadi korban penafsiran sempit.
Meskipun dikenal sebagai teolog feminis, Marianne menolak pandangan ekstrem yang menganggap emansipasi berarti perempuan harus setara dalam segala hal dengan laki-laki. Ia berpendapat bahwa konteks perempuan Indonesia berbeda dengan perempuan Barat. Feminisme Indonesia, menurutnya, harus bersifat “harmonis dan membumi-pertiwi,” tidak meniru gerakan Barat secara mentah.
Marianne bahkan menemukan akar penghargaan terhadap perempuan dalam bahasa Indonesia itu sendiri. Kata “wanita” berarti “dia yang dipuji seluruh dunia,” sedangkan “perempuan” berarti “dia yang dihormati.” Kedua istilah ini mencerminkan penghargaan mendalam terhadap perempuan di Indonesia—pandangan yang berpijak pada budaya lokal, bukan sekadar adopsi ideologi asing.
Dalam konteks ini pula, menarik untuk melihat pandangan Marianne terhadap tokoh emansipasi klasik seperti R.A. Menurutnya, Kartini adalah sosok sederhana yang secara sadar mendokumentasikan pengalaman ketertindasannya sebagai perempuan dalam masyarakat patriarki dan feodal. Pemikiran Kartini, kata Marianne, merupakan bentuk “pemberontakan budaya yang revolusioner” pada zamannya.
Bagi Marianne, ada tokoh-tokoh lain yang perjuangannya lebih revolusioner dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Dewi Sartika di Pasundan, misalnya, berani melawan budaya yang menempatkan perempuan di posisi lemah dengan mendirikan sekolah-sekolah khusus perempuan yang menanamkan nilai-nilai kesetaraan.
Di Tanah Rencong, Cut Nyak Dien tampil sebagai panglima perang yang strategi perangnya sangat cerdik dan menyulitkan penjajah. Sementara di Minangkabau, banyak perempuan pendidik yang menolak bantuan Belanda untuk mendirikan sekolah demi mempertahankan independensi mereka. Menurut Marianne, semangat perjuangan para perempuan ini menunjukkan keberanian dan tindakan nyata dalam menegakkan martabat perempuan Indonesia.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa Kartini berpotensi menjadi figur “ciptaan” Belanda. Melalui politik etis, Belanda mengangkat Kartini sebagai contoh bahwa kemajuan hanya bisa dicapai dengan mengikuti sistem pendidikan dan pola pikir Barat. Citra Kartini sebagai perempuan “maju” dapat dimaknai sebagai bagian dari strategi kolonial untuk menegaskan superioritas budaya Belanda. Karena itu, Marianne tidak menolak Kartini, melainkan menolak mitos tunggal yang menempatkan Kartini sebagai satu-satunya ikon perjuangan perempuan Indonesia.
Karya dan pemikiran Marianne Katoppo mengajarkan bahwa perjuangan perempuan tidak cukup berhenti pada tuntutan kesetaraan formal, tetapi harus menyentuh akar budaya, spiritualitas, dan struktur sosial yang membentuk cara pandang terhadap perempuan. Baik lewat sastra maupun teologi, ia menunjukkan bahwa nilai-nilai kasih, kelembutan, dan empati—yang selama ini dianggap “feminin”—justru memiliki kekuatan besar untuk membebaskan manusia dari penindasan. Dalam dirinya, Marianne memadukan keberanian intelektual, kepekaan spiritual, dan cinta terhadap kemanusiaan—mewariskan jejak pemikiran yang tetap relevan bagi perjuangan perempuan Indonesia hingga kini.
Sumber:
Katoppo, M. (1980). Compassionate and Free: An Asian Woman’s Theology (e-book). Orbis Books.
Krisna, Y. A. N. (1982). Marianne Katoppo: Wanita Lembut tetapi Berhati Keras. Mutiara No. 279. Kol. 1, 6. Rabu, 13 Oktober 1982.
Wijaksana, M. (2016). (Almh.) Marianne Katoppo: Yang Hampir Terlupakan dari Sastra Indonesia. Jurnal Perempuan. https://www.jurnalperempuan.org/tokoh-feminis/almh-marianne-katoppo-yang-hampir-terlupakan-dari-sastra-indonesia







