Editor: Yuyun Khairun Nisa
Paguyuban Simbar Wareh berdiri di kawasan Gunung Kendeng merupakan organisasi perempuan yang fokus pada pelestarian lingkungan hidup. Paguyuban ini memiliki tujuan untuk mempersatukan perempuan di Kabupaten Pati dan sekitarnya untuk menolak keberadaan sesuatu yang dapat merusak lingkungan.
Melalui organisasi Simbar Warih perempuan Samin mampu berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan di Pegunungan Kendeng. Masyarakat Samin memiliki pemikiran tentang menjaga kelestarian alam dan melindunginya dari kerusakan yang disebabkan oleh manusia. Bumi telah menyediakan kehidupan bagi anak-anak dan keluarganya secara turun temurun dan menjadi tradisi dalam menjaganya.
Dalam beberapa tahun terakhir, permasalahan muncul dari adanya perencanaan operasi pabrik semen di kawasan wilayah Kendeng. PT Semen Indonesia akan menambang batu karst di Pegunungan Kendeng, pegunungan ini menjadi pemasok kebutuhan air bagi kawasan pertanian dan rumah tangga di sekitarnya. Para kaum perempuan adat Samin melakukan gerakan penolakan secara masif terhadap rencana tersebut sebagai bentuk pencegahan terhadap kerusakan Pegunungan Kendeng. Pada tahun 2016, 9 petani wanita melakukan aksi menyemen kaki di depan istana Negara sebagai bentuk protes dan penolakan pabrik semen di wilayahnya dan terjadi kembali aksi kedua pada Maret 2017 yang melibatkan 10 orang dan semakin bertambah setiap harinya (voaindonesia.com, 2016).
Kesembilan perempuan itu adalah Sukinah, Supini, Murtini, Surani, Kiyem, Ngatemi, Karsupi, Deni, dan Rimabarwati. Ibu Sukinah yang memiliki rumah dekat dengan tambang semen merasakan dampak negatifnya berupa debu tebal yang mengganggu saluran pernapasan dan kehilangan sumber mata air akibat penambangan air tanah Watuputih. Selain aksi menyemen kaki, W=warga kaki Gunung Watuputih, Kabupaten Rembang, Jateng bergantian tinggal di tenda tepatnya lahan yang dijadikan pabrik semen. Para ibu rumah tangga menempati tenda hampir 100 hari untuk menunjukkan penolakan tegas tanpa kekerasan (voaindonesia.com, 2014).
Peran perempuan dalam menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian dari perjuangan untuk menjaga kualitas hidup sehat bagi keluarganya. Merawat bumi menjadi bentuk dalam menjalankan nilai-nilai luhur dan budaya adat Samin yang percaya bahwa bumi akan memperlakukan manusia sesuai dengan yang dilakukannya.
Sembilan (9) tokoh perempuan dari komunitas Samin menyampaikan bahwa pendirian pabrik semen menjadi salah satu perusak lingkungan yang dapat mengkontaminasi tanah dan air yang tentu saja keasrian Gunung Kendeng akan berubah. Selain itu, dampaknya nanti akan dirasakan oleh perempuan khususnya para ibu rumah tangga yang senantiasa menggunakan air dalam kegiatan sehari-hari seperti memasak, mencuci, mandi, dan menanam tanaman di kebun.
Perempuan Samin juga membuat minuman dari bahan-bahan alami seperti jahe, asem, kunir, temulawak, dan lain-lain sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian alam dan mengajak generasi muda Samin untuk turut aktif dan terlibat langsung dalam upaya menjaga bumi melalui rembug keluarga dan rembug besar (Setyani, 2020). Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran kepada seluruh anak muda agar lebih mengetahui bahaya dan dampak yang ditimbulkan dari adanya aktivitas pabrik dan industri yang dapat mengancam kehidupan dan alam sekitarnya. Bumi yang lestari merupakan anugerah yang tidak ternilai dari sang pencipta dan sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk terus melindunginya dari berbagai ancaman di masa yang akan datang.
Para perempuan Samin juga melakukan pengelolaan sampah rumah tangga. Mereka memilah-milah jenis sampah yang dapat digunakan kembali dan tidak. Sampah yang tidak bernilai dapat dibakar di halamannya sendiri dan menggunakan sampah plastik yang masih bisa digunakan. Mereka telah membuat tempat pembuangan akhir (TPA) sebagai tempat sampah rumah tangga agar lebih tertata dan bisa dimanfaatkan. Mereka senantiasa mengajarkan anak-anaknya untuk membuang sampah di tempatnya agar tumbuh rasa peduli dan menjadi bagian dari kebiasaan dan adat istiadat yang dipegang teguh oleh masyarakat Samin (Setyani, 2020).
Kepedulian terhadap lingkungan sekitar telah dilakukan oleh perempuan adat Samin yakni bertani. Mereka menggunakan pestisida organik dan pupuk alami dari kotoran sapi untuk tanamannya sehingga lebih sehat dan tidak merusak lingkungan sekitar. Para perempuan Samin lebih sering menggunakan bobok (kosmetik alami dari beras kencur) untuk merawat tubuh.
Komunitas perempuan Samin memiliki keunikan sendiri yang menjadi identitas diri mereka. Identitas ini menjadi karakter kuat serta ajaran Saminisme yang dianutnya tetap lestari dan terjaga. Keyakinan terhadap ajaran Samin Surosentiko yang memandang bumi sebagai ibu yang telah memberikan kehidupan bagi manusia harus terus diperhatikan kelestariannya.
Peran perempuan Samin dalam organisasi Simber Wareh menjadi perjuangan inspiratif bagi seluruh masyarakat Indonesia yang berani menolak kerusakan alam. Mereka mampu menyampaikan pendapat dan melakukan aksi serta mengedukasi generasi muda dalam pengelolaan sampah. Perjuangan yang dilakukan bertahun-tahun dan menguras seluruh energi, tenaga dan pikiran demi anak temurunnya membuktikan bahwa mereka memiliki nilai-nilai moral dan budaya sebagai pegangan hidupnya.
Referensi
https://www.voaindonesia.com/a/protes-pabrik-semen-9-perempuan-semen-kakinya-/3282635.html
https://www.voaindonesia.com/a/warga-rembang-dan-pati-tolak-pendirian-pabrik-semen-di-jawa-tengah/2452772.html
Setyani, I., Yulistianto, A., & Gunawan, Y. W. (2020). Eksplorasi peran perempuan samin dalam melestarikan lingkungan alam (exploring the roles of samin women in preserving the natural environment). Jurnal Psikologi Perseptual, 4(2), 348272.







