Perempuan dan alam merupakan dua entitas yang tidak dapat dipisahkan karena saling bergantung. Para perempuan seringkali berinteraksi langsung dengan alam sebagai tempat pencaharian makanan, sumber mata air, dan kegiatan domestik. Â
Alam telah memberikan banyak manfaat dan menyimpan sumber daya alam untuk manusia dan turunannya sehingga sangat penting, khususnya bagi masyarakat adat untuk keberlangsungan hidupnya. Namun, tidak semua manusia sadar pentingnya menjaga kelestarian alam dan ingin mengeruk sumber daya alamnya melalui aktivitas pertambangan. Aktivitas pertambangan besar-besaran akan merusak alam sekitar dan mengganggu keberlangsungan ekologis yang meminggirkan kaum perempuan.Â
  Para ekofeminis mengungkapkan bahwa peran gender yang diberikan kepada perempuan membentuk kepekaan dan kedekatan dengan alam. Peran gender perempuan mengharuskan mereka berinteraksi secara langsung dengan sumber daya alam khususnya masyarakat yang tinggal di dekat hutan. Bagi perempuan, hutan memiliki peranan yang penting bagi kebutuhan hidup keluarganya dan memiliki nilai spiritual, budaya bagi perempuan.Â
   Gerakan perlawanan perempuan dalam melindungi lingkungan telah terjadi untuk mempertahankan kelestarian hutan salah satunya yakni penolakan aktivitas tambang marmer PT Karya Asta Alam di Gunung Mutis, Desa Mollo, Nusa Tenggara Timur oleh para perempuan Mollo yang berani menentang perusahaan dan pemerintah. Mereka telah menjaga sumber daya alam secara turun temurun akan tetapi mulai dirusak keberadaannya. Perjuangan masyarakat adat Mollo untuk memulihkan alam yang telah dirusak sangat sulit karena kerusakan hutannya cukup besar hingga terjadi perubahan geografis seperti kekeringan, longsor, hutan gundul, dan pencemaran air (Parastasia, 2024). Â
   Selain kerusakan alam, sumber air yang tercemar karena limbah meningkatkan resiko kesehatan perempuan karena 90% kehidupan perempuan sangat dekat dengan air yang biasanya digunakan untuk mencuci dan memasak. Pencemaran air oleh perusahaan tambang dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, gatal-gatal, keracunan bahkan kematian. Selain itu, pencemaran udara juga menimbulkan gangguan pernapasan seperti asma dan kanker paru-paru. Banyak masyarakat yang merasakan perbedaan tempat tinggal mereka hingga memicu gerakan perempuan yang diinisiasi oleh Mama Aleta Baun.Â
   Mama Aleta sebagai sosok pemimpin perempuan yang bergerak dalam mengorganisir masyarakat untuk bersama-sama menolak dan menghentikan praktik penambangan marmer PT Karya Asta Alam sejak tahun 1980-an. Perjuangannya dimulai pada tahun 1990-an ketika Gunung Batu Anjaf dan Nausus dikeruk dan diolah menjadi batu marmer. Batu, bagi orang Timor adalah batu nama, nama marga terdapat di batu-batu tersebut sehingga jika batu nama dihilangkan sama dengan menghilangkan identitas orang Timor.Â
   Pada awalnya, mama Aleta dan kelompok kecil perempuan pergi dari satu rumah ke rumah lainnya, dari satu desa ke desa lainnya dan menjangkau sebanyak mungkin orang mengetahui tujuannya. Meskipun letak rumah dan desa berjauhan yang harus menempuh perjalanan selama 6 jam, mereka senantiasa semangat dan meyakinkan kepada masyarakat tentang pentingnya kelestarian hutan dan menjaga unsur-unsur alam yang telah menganugerahi zat pewarna tenun yang menjadi identitas dan budaya mereka (Mongabay.co.id, 2013).Â
   Perjuangan mama Aleta sangat berat dan sulit karena harus menghadapi perusahaan besar, pemerintah dan masyarakat sekitar bahkan beliau difitnah sebagai pelacur karena sering keluar malam untuk melakukan aksinya. Kemudian, di cap perempuan yang tidak baik, tidak punya harga diri, tidak bertanggung jawab terhadap urusan domestik, dan selingkuh dengan tukang ojek. Mama Aleta harus keluar masuk kampung pada malam hari untuk bertemu dengan masyarakat lain agar tidak dihadang oleh para preman dan polisi saat melakukan aksi protes (Triyanto, 2018).Â
   Adapun bentuk protes yang mereka lakukan yakni melakukan aktivitas menenun di lokasi pertambangan dan terus membujuk pemerintah untuk mencabut izin dari operasi tambang. Peran kelompok perempuan Mollo menjadi garda terdepan untuk melakukan perlawanan ini karena ditakutkan jika para laki-laki akan memicu kekerasan dan tidak menyelesaikan masalah. Para suami senantiasa mendukung istrinya untuk melakukan aksi protes ini dengan melakukan pekerjaan domestik saat para istri keluar. Para perempuan yang berjuang untuk menuntut keadilan sangat percaya melakukan perlawanan dengan cara halus dan tanpa kekerasan dapat menjadi upaya mereka untuk mempertahankan hutan adat Mollo. Mama Aleta menyatakan bahwa perlawanan ini harus dilakukan oleh kelompok perempuan karena perempuan berhak dan berkepemilikan atas tanah. Beliau meyakinkan warga bahwa kepemilikan tanah mereka sebagai masyarakat adat dilindungi oleh konstitusi. Gerakan perempuan Mollo terus berkembang hingga didukung sekitar 150 warga desa yang melakukan aksi menenun selama kurang lebih 1 tahun di lokasi penambangan marmer. Pada 2007, mereka mulai mendapatkan banyak dukungan dan menjadi pusat perhatian pemerintah hingga tahun 2010, mereka mampu menghentikan 4 perusahaan tambang di Mollo (Mongabay.co.id, 2013).Â
   Dengan melihat perjuangan panjang para perempuan, mereka patut dijuluki sebagai para pejuang yang berani merebut kembali tanahnya dari perusahaan marmer. Perlawanan mama aleta dan masyarakat Mollo dapat menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk bekerjasama mempertahankan lingkungan dan menjaganya tetap asri.Â
Referensi
Parastasia, C. (2024). Ekofeminisme Spritiualis pada Gerakan Perempuan Adat dalam Menolak Tambang Marmer di Mollo, Nusa Tenggara Timur. Peradaban Journal of Religion and Society, 3(1), 67-83.Â
Triyanto, R. V. P. (2018). Perempuan Dan Gerakan Lingkungan: Pengalaman Perempuan Masyarakat Adat Menjaga Alam. Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan Melalui Pendidikan Kewarganegaraan Persekolahan Dan Kemasyarakatan. Surakarta: Laboratorium Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, Surakarta.Â
https://mongabay.co.id/2013/04/15/mama-aleta-berjuang-mempertahankan-lingkungan-melawan-tambang-dengan-menenun/







