Waktu berada di Sekolah Menengah Atas (SMA), saya pernah mendengarkan orang-orang mengatakan “Musik itu haram”, “Suara perempuan itu aurat”, “Perempuan itu paling baik tetap tinggal di rumah”, “Musik metal hanya untuk laki-laki”, hingga pernah di mata pelajaran agama Islam kami sekelas ditanya, “Target nikah umur berapa?”
Saya merasa terganggu dengan larangan-larangan yang membatasi siswa-siswi untuk mengeksplorasi dunia lebih luas lagi, mengekspresikan diri, berani menyuarakan apa yang dialami, dan mewujudkan cita-cita. Perempuan masih dianggap objek yang diekspektasikan macam-macam oleh masyarakat, seperti harus kalem, penurut, menerima, dan sebagainya.
Voice Baceprot (VoB) merupakan band metal asal Kota Garut-Jawa Barat yang punya anggota tiga perempuan berhijab yang menantang dan melawan stigma dan batasan-batasan yang dilekatkan kepada perempuan. Mereka pun pernah berkesempatan menyuarakan kemarahan perempuan yang terus dikekang sambil main musik di Eropa. Ketiga perempuan ini bermusik hingga ke Belanda, Belgia, Perancis, dan Swiss pada 2021.
Firdda Marsya (vokal dan gitar), Widi Rahmawati (bass), dan Euis Siti (drum) awalnya saling mengenal ketika keluar-masuk ruang BK (Bimbingan Konseling). Mereka dianggap ‘rebel’ dan ‘bermasalah’ sejak di bangku SMA karena sering memukul-mukul meja. Guru BK pun menyarankan mereka untuk bergabung di kelompok teater, namun mereka ternyata kurang menguasai akting. Lalu, guru BK mereka menyarankan untuk memainkan musik untuk mengiringi drama. Kemampuan mereka untuk bermusik ini melahirkan Voice of Baceprot (VoB) pada 2014.
VoB juga menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa memakai hijab tidak menghalangi langkah dan suara mereka merespon hal-hal yang terjadi di sekitar. Mereka yang memakai hijab diekspektasikan masyarakat agar tampil anggun, namun VoB berani menunjukkan keberagaman perempuan memilih gaya berhijab dan berpakaian yang nyaman dikenakan tanpa memaksa orang lain untuk mengikutinya.
“I’m not the criminal
I’m not the enemytI just wanna sing a song to show my soul
I’m not the corruptor
I’m not the enemy
I just wanna sing a song to show my soul
God, allow me please to play music”,
Lirik lagu di atas mengungkapkan perasaan mereka dengan jujur. Musik adalah ruang aman dan nyaman bagi mereka berekspresi. Bermusik merupakan kegiatan yang tidak menimbulkan efek negatif kepada masyarakat, tidak seperti para kriminal dan koruptor yang tidak mendapat hukuman yang setimpal. Mereka bersuara lantang dari panggung ke panggung untuk mematahkan stigma negatif terhadap perempuan berhijab yang memainkan musik metal. Irama yang diciptakan dalam lagu “God, Allow Me (Please) to Play Music” itu menghidupkan semangat kepada para perempuan untuk berani menjadi diri sendiri dan mendobrak tembok-tembok penghalang potensi diri.
Di balik itu, VoB juga menorehkan kisah perlawanan. Mereka bermusik juga untuk menyelamatkan salah satu personilnya yang terancam akan dinikahkan pada usia anak. VoB membukakan peluang dan pilihan mereka di masa depan karena mereka bisa mandiri secara finansial, berjumpa dengan orang dan lingkungan baru, serta kesempatan berharga. Mereka membangun privilege mereka melalui musik metal.
VoB sebagai wadah berekspresi perempuan ternyata mampu mencegah perkawinan anak dengan membiarkan mereka terus menekuni hobi, mengeksplorasi potensi, dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Pada hakikatnya, perempuan mampu dan berhak menentukan arah hidupnya tanpa dibayangi stigma dan konstruksi sosial yang diyakini masyarakat.







