Wednesday, May 20, 2026

Sekolah Eyang dan Penuh Kasih Sayang untuk Mencegah Ekstremisme

Selama ini, lansia kerap mendapatkan beragam stigma negatif hingga diskriminasi di masyarakat Indonesia. Lansia dianggap lemah, tidak mampu, tidak produktif, bahkan tidak menarik. Jahatnya, media dan masyarakat sekitar turut melanggengkan stigma kepada lansia dengan menggambarkan lansia dengan cara negatif, seperti rapuh, tak berdaya, dan pikun. Padahal, lansia mampu aktif, melakukan beragam hal bermanfaat, dan berekspresi.

Stigma buruk tersebut membuat lansia terkadang percaya, menginternalisasi, dan membatasi diri mereka sendiri. Hal itu berdampak kepada psikologis, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya. Ketika lansia bergerak dan beraktvitas, tak jarang malah dikasihani dan disuruh untuk beristirahat saja.

Namun, di sini lain, lansia-lansia pun kerap dilimpahi tanggung jawab mengurus anak yang kedua orang tuanya bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari. Permasalahannya, terkadang lansia tidak tega untuk mengajari cucunya disiplin, memanjakan makanan makanan cucu (kurang edukasi tentang gizi), kurang pengetahuan tentang cara menggunakan teknologi yang bijak, tak jarang mendapatkan berita hoaks dan menyebarkannya. Meski begitu, lansia sangat sayang kepada cucunya. Rasa sayang tersebut juga tercermin dari kekhawatiran kepada cucu terhadap lingkar pergaulan cucunya dan tantangan di zaman sekarang. 

Eyang Juhariyah menceritakan kisah di sekitarnya. “Karena setiap datang itu dia sedikit-sedikit mengatakan ke orang tuanya ‘itu haram, lho’, ‘ini nggak boleh’”, ucap Eyang Juhariyah. Lingkungan sekitar pertemanan anak atau di sekolah diajarkan pendidikan agama, namun hanya tekstual, luput mengajarkan mengenai empati dan jauh dengan peristiwa yang ada di masyarakat.

“Kami ingin mendampingi cucu. Cucuku, cucumu, cucu kita”, ucap Eyang Juhariyah yang merupakan Kepala Sekolah Eyang. Bagi Eyang Juhariyah dan warga sekitar, cucu tetangga juga merupakan cucunya yang harus diasuh bersama. Pertemanan yang sehat antar-eyang ternyata membuka wawasan dan empati.

Berawal dari khawatir terhadap sikap cucunya sepulang kuliah atau sekolah berasrama, didirikan Sekolah Eyang agar dapat mengedukasi diri sendiri dan cucu dengan baik, serta menjadi eyang yang berkualitas. Eyang tidak mau cucunya terkena ekstremisme selama menuntut ilmu. Sekolah Eyang membantu eyang lebih memahami diri sendiri, cucu, keluarga, dan tidak berhenti untuk belajar hal-hal baru.

Lansia kadang suara dan nasihatnya tidak didengarkan oleh cucu karena ia diremehkan, dianggap ketinggalan zaman dan tidak tahu apa-apa. Padahal, dengan cara yang tepat eyang bisa memberi teladan tindakan menghormati sesama, semangat untuk belajar dan berpikir kritis, mengajari budaya-budaya baik di masyarakat, dan menghargai keberagaman.

“Maka, agar ‘nyambung’ (tetap relevan dengan cucu), eyang perlu sekolah lagi di Sekolah Eyang yang diadakan oleh kolektif. Sekolah Eyang ini harapannya membuat lansia produktif dan berkualitas”, ucap Eyang Juhariyah.

“Eyang yang bersekolah membuat remaja berpikir bahwa ‘nanti juga saya akan begitu’ (giat menuntut ilmu). Anak-anak akan terpesona melihat neneknya dan tidak lagi bergumam, seperti ‘halah, mbah wae … (nada meremehkan)’”, ucap Alfisah Nurhayati, aktivis pendamping Desa Damai. Nenek punya posisi penting untuk mengedukasi remaja tentang perdamaian, melihat keberagaman sejak dini, supaya anak terhindar dari ekstremisme dari dini.

“Maka, agar ‘nyambung’ (tetap relevan dengan cucu), eyang perlu sekolah lagi di Sekolah Eyang yang diadakan oleh kolektif. Sekolah Eyang ini harapannya membuat lansia produktif dan berkualitas”, ucap Eyang Juhariyah.

Namun, selama ini lansia sering diabaikan cerita dan pendapatnya karena mungkin belum menemukan cara komunikasi yang pas dan relevan. Bukan tidak mungkin kalau eyang dan remaja bisa berteman ketika mereka sama-sama mau belajar, menurunkan ego, mengedukasi diri, dan semangat menyerap beragam hal baru. 

Di Sekolah Eyang, lansia juga diajarkan bagaimana menyiapkan menu makan sehat tanpa penyedap, pertolongan pertama terhadap kecelakaan kecil di rumah, menanam obat, dan pengasuhan anak. Sekolah Eyang merupakan praktik baik yang dilakukan oleh eyang-eyang di Jember. Bukan hanya kelompok muda yang berperan sebagai agent of change. Eyang-eyang pun punya perspektif terkait dengan pencegahan ekstremisme dengan pendekatan-pendekatan ala eyang.

“Karena ada yang dirawat, ada alasan untuk berkumpul dan bersenda gurau. Sekolah Eyang di Jember diadakan sebulan dua kali. Sekolah Eyang menggandeng para tokoh potensial yang memiliki kegelisahan untuk belajar, berbagi pengetahuan, dan mencegah potensi radikalisme dan ekstremisme di lingkungannya”, ucap Zaka Ardiansyah, aktivis pendamping Desa Damai.

Hadirnya Sekolah Eyang merupakan matahari bagi cita-cita eyang dan mengikis stigma buruk kepada lansia. Lansia bisa aktif, merasa berguna, merasa disayangi, dan semangat belajar banyak hal baru. Lansia punya andil terhadap pencegahan ekstremisme dengan cara memberikan kasih sayang mulai dari rumah dan senantiasa mengedukasi diri.

Lena Susanti
Lena Susanti
Lena Sutanti merupakan konten kreator dan digital storyteller yang belajar tentang manusia dan budayanya di Antropologi. Dari 2019 sampai sekarang bikin ilustrasi, tulisan, komik, dan video tentang keberagaman gender dan seksualitas, kebebasan beragama dan berkeyakinan, budaya dan lingkungan. Lena hobi traveling, eksplorasi fesyen, dan kuliner lokal. Karya-karyanya bisa ditengok di Instagram @lenasutanti.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha