HomeBukuSekelumit Kisah Kehidupan Persaudaraan Perempuan

Sekelumit Kisah Kehidupan Persaudaraan Perempuan

Judul              : Little Women (Gadis-Gadis March)

Pengarang     : Louisa May Alcott

Penerjemah   : Annisa Cinantya Putri, Widya Kirana

Tahun terbit  : 2020 (cetakan kedua)

Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama,

Ukuran buku : 378 hlm; 20 cm

ISBN               : 978 602 03 1036 7

Novel terjemahan ini bagi saya, seperti menyingkap perasaan perempuan, di tengah kehidupan persaudaraan sesama perempuan. Bagi saya, tulisan ini cukup mewakili para pembaca yang memiliki pengalaman kehidupan serupa. Bercerita tentang kehidupan 4 perempuan bersaudara yang memiliki latar belakang berbeda, tinggal bersama ibunya, dan hari-harinya dihabiskan untuk menunggu ayahnya pulang.

Novel klasik ini memberikan kesan luar biasa bagi saya sebagai pembaca dengan kehadiran 4 perempuan luar biasa, di antaranya: Meg, anak tertua, yang berusia 16 tahun. Ia tampil sebagai perempuan cantik dan lembut. Jo, berumur 15 tahun, memiliki karakter penuh semangat, tempramental, suka bereksperimen dan senang menulis. Beth, gadis berusia 13 tahun yang memiliki hati lembut, pendiam dan baik hati. Serta si bungsu, Amy, gadis berusia 12 tahun yang memiliki jiwa seni, egois dan manja serta kekanak-kanakan.

Karakter Amy tampil sebagai anak bungsu pada umumnya. Ia adalah perempuan bontot yang memiliki sejuta keinginan dan selalu ada kakak-kakak perempuannya yang dapat merealisasikan. Tanggung jawab menjadi seorang Meg dan Jo adalah sebagai generasi sandwich pada umumnya digambarkan secara jelas. Mereka harus bekerja lantaran menjadi anak tertua, ditambah dengan kondisi perekonomian keluarga yang sedang buruk.

Tidak hanya itu, sosok ayah yang belum kembali pulang dalam kondisi perang, membuat kehidupan di keluarga ini memiliki tantangan sangat besar. Uniknya, dalam karakter yang ditampilkan pada novel ini, cerita tentang pertikaian, rasa semburu, egois yang terjadi pada persaudaraan perempuan sangat menarik untuk dikaji.  Fenomena sibling rivalry sangat cocok untuk menunjukkan salah satu konflik dalam tulisan ini.

Kompetisi antar saudara kandung sebenarnya di satu sisi baik. Sebab hal ini merupakan wajar dialami oleh seseorang yang menjalani kehidupan sosial. Di sisi lain, fenomena ini akan menjadi salah satu penguat hubungan antar saudara yang sama-sama memiliki rasa kepemilikan antara yang satu dengan lainnya. Akan tetapi, permasalahan semacam ini apabila tidak diselesaikan dan tidak tidak ada rasa kepemilikan antara yang satu dengan lainnya akan menciptakan masalah besar dalam sebuah keluarga.

Dalam cerita di novel ini, hubungan persaudaraan di antara mereka ternyata kuat. Hal tersebut dibuktikan dengan hubungan hangat dan saling mendukung antar persaudaraan itu. Segala bentuk pertikaian yang diwujudkan dalam rasa iri, dan cemburu, hancur dengan rasa persaudaraan yang kuat dan hubungan yang hangat.

Sosok Ibu yang Terbuka dan Hangat

Satu hal yang saya pelajari dalam alur cerita yang disampaikan oleh penulis adalah sikap yang ditampilkan oleh sosok ibu dari keempat ini. Mrs. March yang dipanggil Marmee oleh anak-anaknya merupakan sosok ibu yang bijak. Ia sangat terbuka untuk menerima segala perbedaan dari anak gadisnya itu. Ia juga tidak pernah memaksa dan mendikte anak-anaknya untuk melakukan sesuatu.

Hal ini terlihat ketiga Meg, mulai beranjak dewasa dan memimpikan kehidupan yang indah, dengan keluarga yang hangat, Marmee mengaminkan harapan anaknya tersebut. Dukungan kepada harapan yang dimiliki oleh anak gadisnya itu juga ditambah dengan saran dan masukan kepada anaknya. Seperti ketika Marmee mengatakan bahwa materi bukan puncak tujuan hidup. Ia berharap anak-anaknya menjadi perempuan yang baik, terhormat dan rendah hati serta tidak materialistis.

Menurut Marmee, lebih baik menikah dengan pria miskin asal bahagia, daripada menikah dengan orang kaya, tapi menjadi silau materi karena kenikmatan yang tercipta dalam hubungan tersebut. Meskipun demikian, kemiskinan bukanlah harapan hidup yang baik. Berbeda dengan Meg, Jo, gadis nomor 2 dari kisah persaudaraan itu memilih untuk menjadi perawan tua dibandingkan dengan memimpikan sebuah kisah pernikahan yang indah.

“Benar, Jo. Lebih baik menjadi perawan tua yang bahagia, ketimbang istri yang menderita, atau gadis-gadis yang tidak menjaga kehormatannya dan berkeliaran mencari suami. (hlm.160).

Memberikan komentar atas kehadiran buku ini rasanya menjadi panjang sekali. Sebab cerita yang disampaikan cukup lambat dengan banyak alur yang saya rasa tidak perlu untuk disampaikan. Cerita yang berlatar tahun 1850-an ini masih sangat relate dengan kehidupan perempuan saat ini.

Pembaca akan menemukan kesederhaan, kehangatan sebuah keluarga dan persaudaraan. Di balik kesederhanaan dan permasalahan perekonomian yang dihadapi oleh sebuah keluarga, sosok ibu yang memiliki peran sentral dalam mendidik keempat anak perempuannya, menjadi salah satu referensi parenting bagi pembaca.

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments