HomeBukuPerempuan Jogja, Buku Sederhana Tentang Perempuan

Perempuan Jogja, Buku Sederhana Tentang Perempuan

Buku berjudul Perempuan Jogja karya Achmad Munif terbit pada tahun 2012.  Di bagian awal buku Perempuan Jogja menceritakan penokohan pemuda asal Kediri bernama Ramadan, kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama  di Yogyakarta  dan sekaligus berprofesi sebagai journalist di salah satu media masa lokal. Ramadan menempati lantai atas sebuah rumah kos bersama -Guntur- sesama Mahasiswa yang juga sekaligus bekerja di bengkel, dimana tempat kos tersebut berada disamping rumah -yang tergolong- mewah dan dihuni oleh seorang ibu muda beranak dua.

Saat Ramadan memergoki ibu muda berada di samping kolam renang rumahnya sedang memetik bunga, maka aksi memotretpun diperankan oleh Ramadan, sang jurnalis. Adegan itulah yang akhirnya menimbulkan argumentasi antara Ramadan dan Gilang dan membuat saya -sebagai pembaca- bisa tersenyum lantaran teringat ungkapan wong ndesa namun lumayan ngintelek. Dari buku ini diceritakan 3 tokoh perempuan. Tokoh pertama adalah Rumanti, Popi dan

Pertama, sebut saja lika-liku hidup rumahtangga antara Rumanti yang berasal dari kalangan wong cilik. Namun, bersuamikan Raden Mas Danudirja yang berasal dari kalangan darah biru alias ningrat. Akhirnya Rumanti dmadu, lantaran RM Danudirja kembali menikah dengan bekas pacar yang justru pernah menyakiti hatinya. Istri kedua Danu tersebut sempat meninggalkannya untuk kawin dengan orang lain, walau pada akhirnya cerai juga. Cerita keluarga kecil antara Rumanti dengan RM Danudirja yang beranak dua ini menghiasi buku dari awal hingga jelang akhir halaman.

Sisi-sisi keseharian kaum urban dan kesadaran sebagai wong cilik yang -merasa- diangkat derajatnya tergambar dari penokohan Rumanti. Sementara sisi-sisi kaum priyayi atau kaum ningrat dilukiskan dalam penokohan Danudirja. Di posisi ini, Rumanti adalah gambaran perempuan Jogja yang berasal dari kaum jelata, hanya saja terlepas bersuamikan seorang ningrat ataupun bukan, penokohan Rumanti mencerminkan sebagai seorang isteri yang taat, patuh, serta setia pada suami. Bagaimanapun keadaan dan sakitnya Rumanti, dia juga harus menjaga image kewanitaan utamanya dalam kaitannya sebagai peran seorang Ibu, yaitu tetap memberikan perhatian dan kasih sayang pada anaknya meskipun sejatinya dia sendiri menderita.

Di sisi lain, anak perempuan bernama Popi, anak gadis umur 15 tahun. Popi adalah gambaran anak remaja yang terlahir dari keluarga tak harmonis. Sebenarnya ayah Popi adalah lelaki hebat, pekerja keras, namun juga sekaligus pekerja kasar. Ayah Popi berasal dari desa dimana simbah Popi yang melahirkan ayahnya adalahkeluarga baik-baik dan bersahaja. Namun karena ingin mengadu nasib lebih baik, maka pergilah ayah Popi ke kota. Kenyataan yang tak sesuai harapan, Beruntung sebelum pada akhirnya semua terlanjur, Popi menemukan orang berharta yang peduli padanya.

Namun pengalaman Popi hidup di jalanan sampai dengan keakrabannya pada rakyat terbawah yang hidup di bantaran Kali Code inilah yang -saya rasa- mampu membuka wawasan para pembaca ‘perempuan Jogja‘ dalam melihat kehidupan nyata dan realita diseputaran kita ini. Bahwa masih banyak wanita di seputaran kita ini yang menjadi objek pelecehan seksual, akan tetapi jika diberikan kesempatan toh ada satu bentuk kesadaran demi memutuskan kehidupan yang lebih baik.

Di sisi lain, kehadiran tokoh remaja putri bernama Raden Ayu Indri Astuti yang kuliah di Sastra Prancis Universitas ternama Jogja, dan sekaligus adik kandung Raden Mas Danudirja memberikan inspirasi kepada para pembaca  tentang gambaran wanita maju dan modern, wanita yang tetap memandang penting suatu pendidikan. Inilah hal yang juga sangat memberi warna pada keseluruhan isi buku perempuan Jogja ini.Digambarkan bahwa Indri Astuti adalah sosok perempuan berdarah biru dimana orangtuanyapun memiliki cukup harta, namun Indri tak pernah mengagung-agungkan kekayaan orangtuanya tersebut. Bahkan dalam memilih lelaki -calon- pendamping hidupnya Indri tak pernah menjadikan harta sebagai ukuran.

Sebaliknya, Indri justru memiliki sikap pendobrak yang sudah semestinya ada pada generasi sekarang ini. Dalam buku ini, bahwa perempuan tak harus selalu nurut terhadap ketidak-adilan yang diperlakukan oleh laki-laki, bahwa sebagai seorang wanita jangan pernah hanya diam saja ketika harus dihadapkan pada tindakan semena-mena dari seorang pria. Di lain sisi, justru perempuan sebagai seorang istri  bisa memposisikan diri dijadikan rekan diskusi pun lawan argumentasi bagi sang suami, tentu demi mendapatkan satu solusi. Ini adalah era emansipasi, dimana hak perempuan itu tak sebatas di sumur di kasur dan di dapur.

Nita Nurdiani
Nita Nurdiani
Penulis dan Staf Media
RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments