Pencarian akan rasa aman kerap ternoda oleh prasangka dan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Tragedi pengeboman Masjid Az-Zikra Mapolres Cirebon Kota pada 2011 menjadi cermin kelam bahaya penafsiran agama yang kaku. Namun, prasangka tidak hanya hadir dalam ideologi besar, melainkan kerap menguji perjumpaan personal sehari-hari. Pengalaman enam hari mengikuti program Regional Learning Exchange bertajuk Turning the Tide: Christian and Muslim Youth & Women Building Peace in Asia pada 6-11 September 2026 di Cirebon menjadi saksi nyata bagaimana rasa ragu dan ketakutan dapat dilebur melalui perjumpaan langsung (real engagement).
Perjalanan ini diawali dengan rasa minder yang merayap. Memulai langkah dari Pondok Kebon Jambu menuju Pondok KHAS Kempek.Bayangan awal akan bertemu rekan sebaya yang berbeda agama mendadak runtuh saat melihat profil peserta lain: perempuan-perempuan hebat lulusan S1, S2, hingga penggerak komunitas. Keterbatasan bahasa Inggris dan kondisi fisik luka kaki pasca operasi makin memicu kecemasan.
Namun, ketakutan akan dihakimi tidak terjadi. Saat sesi perkenalan, seluruh peserta justru memberi waktu dan empati. Rasa persaudaraan makin hangat saat luka di kaki dirawat dengan tulus oleh rekan-rekan peserta berbeda agama; sebuah wujud nyata kemanusiaan yang melampaui batas sekat sosial.
Di Pesantren KHAS Kempek, perjumpaan juga menghadirkan inspirasi pengasuhan dari Kak Sinta dan putrinya, Pijar yang usianya baru genap 8 tahun. Pijar memang menjalani homeschooling, tetapi yang luar biasa adalah Kak Sinta sendiri yang turun tangan langsung mengajar dan mendidik putrinya tersebut di rumah.
Mendidik anak secara mandiri tanpa bantuan sekolah formal sering dianggap hampir mustahil oleh banyak orang tua, sebab anak biasanya lebih manja, malas, atau membangkang jika diajar oleh ibunya sendiri. Namun, ketelatenan dan kesabaran Kak Sinta membuktikan sebaliknya.
Pijar tumbuh sangat cerdas, gemar membaca, fasih berbahasa Inggris, dan santun. Perjumpaan ini mempertegas filosofi bahwa ibu adalah sekolah pertama (al-madrasah al-ula), di mana kesabaran dan ketekunan seorang ibu sanggup melahirkan generasi berkarakter mulia.
Pembelajaran kian kaya saat rombongan menelusuri UIN Siber Cirebon, Keraton Kasepuhan, hingga Taman Sari Gua Sunyaragi. Di Keraton Kasepuhan, akulturasi budaya Islam, Hindu, dan Tiongkok terekam indah pada arsitektur tiang dan Kereta Singa Barong.
Begitu pula kisah Putri Ong Tien Nio dari Dinasti Ming yang mendukung dakwah Sunan Gunung Jati sekaligus menggerakkan perekonomian pesisir. Di Gua Sunyaragi, sekat ruang belajar putri kerajaan menyimbolkan penghormatan pada privasi dan martabat perempuan.
Perjalanan berlanjut ke Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy. Di sana, pimpinan pesantren, Nyai Hj. Masriyah Amva membagikan kisah kepemimpinannya yang lahir dari panggilan keadaan usai sang suami berpulang. Beliau menegaskan bahwa kepemimpinan Islam tidak terbatas pada jenis kelamin, melainkan siapa yang paling mampu membawa kemaslahatan.
Keteladanan literasi Bu Nyai yang melahirkan puluhan karya buku juga sukses menular kepada para santri perempuan, membuktikan bahwa pesantren adalah ekosistem yang melahirkan ulama perempuan berdaya.
Momen paling menguji keteguhan batin terjadi saat kunjungan ke Gereja Katolik Bunda Maria Cirebon. Tumbuh di lingkungan pesantren dengan tradisi busana tertutup, perjumpaan dengan peserta beda agama memicu culture shock. Saat hendak melangkah ke area gereja, jantung berdebar kencang diselimuti rasa ragu: “Ya Allah, apakah hamba boleh masuk ke dalam gereja? Kuatkan iman hamba.”
Di tengah keraguan, ingatan kembali pada perkuliahan Hak Asasi Manusia (HAM) bersama KH. Husein Muhammad di Ma’had Aly Kebon Jambu. Kiai Husein pernah menjelaskan bahwa mayoritas ulama membolehkan umat Muslim memasuki rumah ibadah non-Muslim untuk tujuan mulia seperti silaturahmi, belajar, dan membangun perdamaian (peacebuilding). Dengan ucapan “Bismillah”, langkah kaki pun diayunkan masuk. Rasa waswas bahkan sempat hadir saat menyantap risol, sebelum akhirnya meyakini hidangan tersebut halal dan lezat.
Di dalam gereja, kehangatan menyapa melalui sambutan Romo Ryan dan alunan tembang perdamaian dari Kidung Harmoni, Komunitas Perempuan Lintas Agama Cirebon. Pesan perdamaian Kiai Husein Muhammad, Dr. Paul Hwang, dan Ibu Ruby Kholifah (Direktur Eksekutif AMAN Indonesia) mengukuhkan pentingnya sinergi pemuda dan perempuan dalam merawat toleransi. Momen sakral berpuncak pada pengukuhan Deklarasi Perdamaian (Joint Peace Declaration) dan peragaan busana daerah, di mana seluruh peserta menari bersama tanpa sekat.
Saat menyusuri Taman Doa Bunda Maria dan mendengarkan Kak Clara menjelaskan kemiripan makna spiritual nyanyian doa Gregorian (cantus) dengan selawat, sebuah perenungan mendalam timbul di dalam hati: “Kenapa Allah menciptakan kita berbeda keyakinan?”
Perbedaan ini adalah keniscayaan dalam kehidupan agar manusia saling mengenal (li-ta’arafu). Kita semua adalah sama-sama ciptaan Tuhan; lantas bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai Allah Sang Pencipta, jika ia tidak mencintai dan mengasihi sesama makhluk ciptaan-Nya?
Enam hari perjalanan ini memberi kelimpahan pengalaman dan wawasan. Enam hari yang singkat ini mengajarakan keberanian melampaui ketakutan diri, arti empati tanpa batas, serta pentingnya kesadaran gender dan kemanusiaan.
Perjumpaan nyata di Cirebon membuktikan bahwa tembok perbedaan akan runtuh ketika manusia saling membuka hati untuk mendengarkan, merawat, dan mengasihi satu sama lain. Pengalaman ini menjadi bekal berharga untuk terus menyuarakan dan merawat benih-benih perdamaian dimanapun kaki melangkah.







