Monday, July 15, 2024
spot_img
HomeBukuKetika Arisan Jadi Medium Rekonsiliasi Pasca Konflik di Banjarmasin

Ketika Arisan Jadi Medium Rekonsiliasi Pasca Konflik di Banjarmasin

Novel Someone Has to Die yang ditulis oleh Jim Baton, menceritakan peristiwa terorisme dan ekstremisme yang terjadi di Indonesia, khususnya di daerah Banjarmasin. Novel ini menceritakan juga bagaimana peran arisan yang jadi medium rekonsiliasi ibu-ibu yang berbeda latar belakang agama dapat bertetangga dengan damai. Konflik yang diceritakan pada novel ini berdasarkan pengalaman Jim saat pertama kali tiba di Indonesia dari Amerika.

Jim sendiri mengenal Indonesia sebagai negara yang beragama dan ramah tamah. Bahkan Jim merasakannya saat ia tinggal di rumah keluarga muslim. Saat itu tahun 1996. Jim menyaksikan lengsernya Presiden Soeharto yang berdampak pada banyaknya kerusuhan, salah satunya di Banjarmasin. Kerusuhan ini menimbulkan pertanyaan bagi Jim, kenapa orang Islam dan Kristen susah berdamai?

Di Banjarmasin sendiri, orang yang beragama Kristen itu minoritas. Populasi mereka di sana mungkin tidak sampai satu persen. Namun, akibat kerusuhan tersebut, semua gereja diserang bahkan ada yang sampai dibakar oleh oknum. Dengan berbekal pertanyaan itulah, Jim menginisiasi ruang perjumpaan bersama temannya dengan tujuan perdamaian. Ruang perjumpaan itu berupa ruangan untuk berdoa. Siapapun bisa berdoa di sana.

Sembari mengelola ruangan tersebut, Jim melakukan penelitian tentang ekstremisme dan terorisme di Indonesia. Hasil penelitian ini kemudian dituangkan ke dalam novel dengan judul Someone Has to Die. Awalnya, novel ini dibuat agar dibaca oleh orang-orang di Amerika yang masih merasa trauma pasca tragedi pemboman tahun 2012. Trauma ini ternyata menimbulkan prasangka sebagian orang Amerika terhadap pemeluk Islam. Jim ingin mengubah paradigma tersebut.

Meskipun sebagian pemeluk Islam berkaitan dengan masalah ekstremisme, tetapi tidak semua orang Islam terlibat. Setelah novelnya terbit pada tahun 2012, Jim keliling Amerika selama satu tahun untuk mengisi kegiatan bertajuk perdamaian. Jim membahas tema-tema yang tercantum dalam novel tersebut, salah satunya bagaimana komunitas arisan ibu-ibu di Banjarmasin bisa menjadi salah satu medium rekonsiliasi pasca konflik.

Usaha Jim berhasil. Ia sering mendengar orang-orang Kristen Amerika yang telah membaca novelnya menyampaikan, bahwa prasangka mereka terhadap pemeluk Islam telah berubah. Jim sangat merasa senang, prasangka mereka kian berkurang. Upaya Ibu-ibu Arisan Membangun Damai Pasca Konflik Kerusuhan di Banjarmasin yang diceritakan pada novel ini berlangsung pada masa orde baru.

Saat itu terjadi kampanye dari salah satu partai politik yang akhirnya menyebabkan kerusuhan. Dampaknya kurang lebih lima gereja diserang, dirusak, dan dibakar. Mulanya konflik ini hanya tentang politik. Namun berkembang menjadi konflik agama, secara spesifik Islam dan Kristen. Dalam perkembanganya, residu konflik ini menyebabkan saling kebencian antar kelompok Islam dan Kristen. Juga mulai ada teroris yang mencari pengantin wanita di Banjarmasin.

Mereka merekrut perempuan dari Kampung Klayan. Namun, disamping berkembangnya terorisme, ada pula sebagian orang di Banjarmasin yang sedang berupaya membangun jembatan untuk perdamaian antara komunitas Islam dan Kristen. Mereka ini berupaya menunjukkan bahwa perdamaian itu tidak hanya diperjuangkan di level makro seperti politik dan pendidikan, tapi juga perlu diperjuangkan di level mikro, salah satunya di ranah komunitas.

Di tengah kondisi saling membencinya komunitas Islam dan Kristen pasca berbagai konflik, ada cerita sekelompok ibu-ibu arisan yang beragama Islam di Kampung Klayan, mengajak seorang perempuan dari latar belakang agama Kristen untuk bergabung dengan mereka. Dimulai dari sinilah, interaksi antar ibu-ibu yang berlatar belakang agama ini cair. Bahkan mereka ngobrol seperti biasanya tanpa menyinggung perbedaan agama. Mereka tertawa, berdikusi, dan makan bersama.

Sebelum acara arisan ini, kondisi ibu-ibu dari kelompok Islam dan Kristen tidak pernah bersosialisasi, interaksi, bahkan tidak bertetangga. Setelah gabung arisan, ibu-ibu lain dari kelompok Kristen mulai berteman dan bertetangga dengan ibu-ibu dari kelompok Islam. Sekilas cerita ibu-ibu arisan ini seperti mudah untuk didengar dan dilakukan di era sekarang. Namun,pada masa itu agama seolah menjadi penghalang bagi mereka untuk saling bersosialisasi pasca konflik. Dengan adanya acara arisan ini, kondisi menjadi berubah.

Membayangkan bagaimana kedua kelompok ibu-ibu yang berbeda agama ini awalnya penuh kebencian dan canggung, bisa menjadi promotor dalam rekonsiliasi pasca konflik. Ibu-ibu arisan ini secara tidak langsung telah menjadi role model bagi kelompok lain. Bahkan mereka telah memutus rantai kebencian yang mungkin kalau tidak diputus, kebencian itu akan tetap hadir hingga era sekarang ini. Oleh sebab itulah, penting bagaimana melibatkan perempuan dalam proses rekonsiliasi konflik.

Mela Rusnika
Mela Rusnika
Aktif menulis dan saat ini aktif di Puan Menulis
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments