Thursday, October 15, 2026

Nyai Hj. Tho’atillah Ja’far: Menenun Kesetaraan dan Fiqih Ekologi dari Pesantren KHAS Kempek Cirebon

Suara yang hangat namun tegas itu bergema di ruang pengajian Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon. Di hadapan ratusan santri yang duduk menghadapnya, seorang ulama perempuan tampak telaten membacakan baris demi baris kitab klasik. Namun, suasana mengaji pagi itu tidak berhenti pada hafalan dalil semata.

Di sela-sela penjelasan hukum agama, ia menyisipkan pesan tentang pentingnya merawat kebersihan lingkungan, mengenali potensi diri, hingga membangun relasi yang adil dan saling menghormati antara laki-laki dan perempuan. Sosok tersebut adalah Ibu Nyai Hj. Tho’atillah Ja’far, pengasuh pondok pesantren yang konsisten memperjuangkan keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan dari balik tembok pesantren.

Ulama perempuan yang akrab disapa Bunda Tho’ah ini merupakan salah satu tokoh ulama perempuan dari Jawa Barat yang memusatkan perjuangannya pada pemberdayaan masyarakat pesantren.Berbasis di Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, beliau secara konsisten dari hari ke hari membimbing ribuan santri yang datang dari berbagai penjuru daerah.

Kiprah beliau hadir sebagai angin segar di tengah budaya patriarki dan pemahaman
keagamaan yang kaku. Melalui bukti nyata, Bunda Tho’ah menunjukkan bahwa ulama perempuan memiliki kedalaman ilmu, otoritas keagamaan yang sah, serta kepemimpinan yang tangguh untuk menggerakkan perubahan. Lantas, bagaimana beliau menerjemahkan nilai-nilai Islam progresif ini ke dalam aksi nyata?

Salah satu fokus utama perjuangan Bunda Tho’ah terletak pada penguatan kesetaraan gender dan perlindungan hak-hak perempuan dalam ekosistem pesantren secara utuh. Melalui majelis taklim, forum kajian keagamaan, hingga ruang diskusi interaktif, beliau secara aktif mengedukasi santri tentang bahaya pernikahan usia anak, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, serta upaya mendobrak stigma patriarki.

Di hadapan seluruh santri, Bunda Tho’ah menanamkan prinsip mubadalah atau relasi kesalingan. Santri putra dididik sejak dini untuk menjadi pelopor penghormatan terhadap perempuan dan menolak segala bentuk kekerasan, sementara santri putri didorong untuk percaya diri mengambil peran-peran kepemimpinan strategis. Bagi Bunda Tho’ah, ajaran Islam pada dasarnya sangat memuliakan manusia tanpa membeda-bedakan gender. Baik laki-laki maupun perempuan dipandang memiliki kedudukan yang setara sebagai khalifah fil ‘ardh yang memikul tanggung jawab bersama untuk menciptakan kedamaian dan keadilan.

Tidak berhenti pada isu kesetaraan, kepedulian Bunda Tho’ah juga mewujud dalam gerakan pelestarian lingkungan atau yang dikenal dengan istilah fiqih ekologi. Beliau meyakini bahwa menjaga alam adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan seorang muslim (hablum minal ‘alam). Di lingkungan pesantren yang dipimpinnya, kepedulian ini diterjemahkan menjadi kebiasaan hidup sehari-hari yang melibatkan seluruh santri. Beliau memelopori pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dengan membiasakan penggunaan tumbler, mengarahkan santri untuk memilah sampah, serta mengelola sampah secara mandiri. Salah satu program unik yang dijalankan adalah mengolah sampah anorganik menjadi paving block, serta mengarahkan budidaya maggot dengan memanfaatkan sampah organik pesantren sebagai pakan utamanya.

Isu perubahan iklim dan penumpukan sampah yang selama ini dianggap sebagai urusan teknis pemerintah, di tangan Bunda Tho’ah diubah menjadi panggilan ibadah yang dikerjakan langsung oleh para santri. Beliau bahkan membentuk tim khusus bernama “Sapu Jagat” yang melibatkan kolaborasi santri untuk bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan pondok pesantren sekaligus merealisasikan program-program ekologi tersebut.

Selain isu gender dan ekologi, Bunda Tho’ah juga menaruh perhatian besar pada kesehatan reproduksi serta penguatan literasi digital dan sastra. Berkolaborasi dengan berbagai lembaga independen dan tenaga kesehatan, beliau membuka ruang dialog yang santun namun terbuka agar para santri memahami kesehatan tubuh dan hak-hak reproduksi, sebuah topik yang dahulu kerap dianggap tabu untuk dibicarakan di lingkungan pesantren. Di saat yang sama, para santri didorong untuk aktif menulis karya sastra dan artikel opini. Beliau sering mengundang narasumber untuk memberikan pelatihan penulisan agar santri terbiasa berpikir kritis, mengolah gagasan, dan berani menyuarakan pendapatnya secara inklusif kepada publik.

Langkah konkret yang konsisten ditunjukkan oleh Nyai Hj. Tho’atillah Ja’far menjadi bukti nyata bahwa keberadaan ulama perempuan adalah pilar utama dalam membangun perdamaian dan kemajuan peradaban. Model dakwah yang beliau terapkan membuktikan bahwa Islam bukanlah ajaran yang kaku atau tertutup, melainkan ajaran yang penuh welas asih, ramah perempuan, peduli lingkungan, dan selalu responsif terhadap perkembangan zaman.

Dari mimbar pengajian hingga aksi nyata memilah sampah di sudut pesantren, beliau telah menunjukkan bagaimana nilai keagamaan, kesetaraan, dan kelestarian alam bisa berjalan bersisian untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dan bermartabat.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha