Apa makna perdamaian bagiku sebagai perempuan? Bagaimana perdamaian yang ideal dalam imajinasiku?
Kedua pertanyaan ini menggema dalam kepalaku saat saya mengikuti Regional Learning Exchange yang diselenggarakan oleh the Asian Lay Leaders (ALL) Forum yang bekerjasama dengan AMAN Indonesia, Fahmina, dan KUPI. Kegiatan ini bertajuk Turning the Tide: Christian and Muslim Youth and Women Building Peace in Asia: Christian and Muslim Youth & Women Building Peace in Asia – Commemorating the 25th Anniversary of 9/11: From Hostility to Human Progress yang dilaksanakan di Cirebon pada 6-11 September 2026.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk memorialisasi tragedi 9/11 dan menuju Hari Internasional Perdamaian (International Day of Peace) yang diperingati setiap 21 September, yang mengusung tema “Invest in Peace-For Everyone, Everywhere, Everyday”. Regional Learning Exchange ini mempertemukanku dengan 45 peserta dengan keberagaman latar belakang, bahasa, pengalaman dan identitas yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Korea Selatan. Di ruang ini, saya meletakkan perdamaian dalam tubuh saya.
Di tengah kondisi nasional dan global yang penuh permasalahan dan rakyat yang menanggung paling banyak dampaknya, kita harus menghadapi konteks perang, kemiskinan, kekerasan, bencana, kapitalisme, militerisme, dan permasalahan lainnya. Apakah perdamaian mampu diwujudkan dalam kondisi yang kacau seperti ini?
Perawatan dan Pertemanan dalam Imaji Perdamaian
Salah satu sesi yang membuatku banyak berefleksi dalam Regional Learning Exchange ini adalah di Sesi 4: Faith, Dialogue, and Youth Leadership for Peace. Sophia Park, Ph.D. memaparkan tentang “Hospitality and Friendship: In the Dream of Peace”, yang membicarakan tentang harapan, pertemanan, perempuan, orang muda, serta keadilan dan perdamaian.
Hari ini, saya semakin banyak mendengar orang-orang yang kehilangan harapan, tidak mampu memimpikan masa depan, dan menderita berkepanjangan. Mampu memimpikan masa depan dan mampu menjalani hari ini tanpa khawatir akan hari esok menjadi privilese bagi sebagian dari kita. Tentu ini bukan suatu hal yang ideal, bukan kehidupan yang kita mimpikan.
Tapi, di sisi lain, pertemanan, ruang dialog, serta keadilan dan perdamaian yang kita praktekkan sehari-hari menjadi kekuatan untuk terus bertahan, merawat dan melawan penindasan. Pertemanan atau sisterhood membuat kita tidak sendirian untuk menyelesaikan permasalahan, sebagai kawan untuk berbagi kehidupan, saling mendengarkan dan merawat, serta sebagai lingkar kepercayaan di tengah kerapuhan.
Regional Learning Exchange ini membawaku pada praktik pertemanan baru dan dialog lintas iman dengan keterbukaan, pemahaman, dan penguatan dalam persaudaraan. Di sini saya mendengar lebih banyak, belajar lebih dalam, dan memahami dengan lebih baik, bahwa perdamaian bisa dilakukan oleh semua orang dan kami menjadi bagian di dalamnya.
Hidup Berdampingan dengan Ketidakpastian dan Keterhubungan
Di tengah ketidakpastian karena kondisi politik, sosial, dan ekonomi yang bergejolak, saya harus berstrategi menghadapi segala hal. Sophia Park, Ph.D. menjelaskan bagaimana untuk hidup di tengah ketidakpastian, yaitu dengan memahami bahwa hidup adalah perjalanan panjang menuju ketidakpastian dan kita perlu terbuka pada ketidakpastian. Kita pasti akan mengalami perubahan dan pengalaman-pengalaman baru dalam hidup.
Di sisi lain, Dr. Paul Hwang juga menjelaskan bahwa segala hal itu saling terhubung dalam perspektif integral ecology. Ekosistem alam, manusia, agama, budaya, ekonomi, dan nilai-nilai spiritual berinteraksi secara terus-menerus dan saling mempengaruhi. Sehingga permasalahan tidak hanya dipandang sari satu sudut pandang saja, melainkan dengan berbagai kacamata
Foto: AMAN Indonesia
Kekerasan berbasis gender, ekstremisme beragama, krisis ekologi, perang, genosida, dan kemiskinan, saling mempengaruhi satu sama lainnya. Sehingga, merespons satu permasalahan ini akan membantu mengurai permasalahan lainnya. Kekerasan yang terjadi di masa lalu membawa gerakan lintas iman, lintas generasi, dan lintas isu, yang saling menguatkan untuk transformasi sosial.
Menjadi Tubuh Perdamaian: Kepemimpinan Perempuan dan Praktik Keberagaman
Agama yang saya pahami adalah yang mempraktikkan kasih sayang, kedamaian, dan keadilan dalam keberagaman. Membuka ruang untuk pertemanan, dialog dan kolaborasi lintas iman adalah praktik sekaligus imaji perdamaian yang kami lakukan bersama dalam Regional Learning Exchange ini.
Tinggal di pesantren bukanlah hal yang baru bagiku. Namun, kali ini kami tinggal dan menjadi bagian dari dinamika kehidupan di pesantren KHAS Kempek dan pesantren Kebon Jambu Al-Islamy selama 6 hari bersama kawan-kawan lintas iman. Kawan-kawan perempuan yang tidak memakai kerudung, kemudian memakai selendang dan kami menyesuaikan pakaian kami dengan etika di pesantren. Kepemimpinan perempuan di kedua pesantren ini juga begitu kuat dan menginspirasiku.
Kami juga menelusuri jejak sejarah di Keraton Kasepuhan dan Goa Sunyaragi, mengingat kembali bagaimana keberagaman masyarakat, budaya dan agama pada zaman Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah. Hal ini mengingatkanku bahwa perbedaan dan keberagaman bukanlah suatu permasalahan, justru menjadi kekayaan yang membawa harmoni dalam kehidupan sehari-hari.
Serta dibalik sejarah ini pula, ada sosok-sosok perempuan seperti Nyai Syarifah Mudaim, Nyai Ratu Dewi Pakungwati, dan Putri Ong Tien Nio. Mereka berperan besar dalam Kesultanan Cirebon, yang juga mengingatkanku peran central perempuan dalam peradaban.
Kemudian, doa lintas iman, peace performance, pembacaan Deklarasi Bersama untuk Perdamaian di Asia, dan dialog lintas iman sebagai penutupan acara di Gereja Katolik Bunda Maria, adalah praktik-praktik yang kami lakukan untuk merawat keberagaman. Saya belajar banyak dari kawan-kawan pemuda gereja dalam dialog lintas iman ini, tanpa mengurangi sedikitpun imanku dalam Islam.
Bagiku, perempuan adalah tubuh perdamaian yang mempraktikkan anti kekerasan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang yang berjuang dan mempraktikkan anti kekerasan, adalah tubuh perdamaian itu sendiri.






