Saya menjadikan September 2026 sebagai bulan perjumpaan. Pada tanggal 6–11 September 2026, melalui program Regional Learning Exchange Turning the Tide: Christian and Muslim Youth & Women Building Peace in Asia – Commemorating the 25th Anniversary of 9/11: From Hostility to Human Progress yang diadakan oleh ALL Forum, AMAN Indonesia, Yayasan Fahmina, dan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), saya mendapatkan kesempatan yang baik. Berjumpa dan berkenalan dengan nilai-nilai Islam dengan bermalam di dua pesantren di Cirebon, Pondok Pesantren KHAS Kempek dan Pesantren Pondok Jambu.
Selain itu, kami juga berkunjung ke Keraton Kasepuhan, salah satu Keraton dari Kesultanan Cirebon. Dari Keraton ini, saya menemukan fakta bahwa nenek moyang Indonesia—sejak zaman dahulu dari era kerajaan Hindu-Buddha, kemudian bergeser ke era imperialisme Islam—selalu berbesar hati menerima perbedaan, dan menganggap perbedaan sebagai bagian dari diri mereka sendiri. Bukan sebagai sesuatu yang harus diletakkan di luar pintu.
Hal ini kemudian menyadarkan saya bahwa sejak di bangku sekolah dasar, masyarakat Indonesia sudah disajikan berbagai kisah sejarah kerajaan di Indonesia yang lebih banyak menampilkan pertarungan, perebutan kekuasaan antar generasi, dan peperangan untuk memperluas kekuasaan. Tanpa pernah dijelaskan betapa beragam, kaya, dan terbuka pemikiran para pendahulu terhadap perbedaan.
Keberadaan Keraton Kasepuhan menjadi bukti fisik bahwa perbedaan sudah lama hidup berdampingan dalam satu ruang budaya, jauh sebelum kata “toleransi” menjadi jargon yang harus terus-menerus diucapkan. Salah satu buktinya adalah bahwa desain bangunan mencerminkan akulturasi budaya dan tradisi. Dari China, Arab, Belanda, hingga Jawa. Saya takjub melihat beberapa bagian dinding keraton terdapat keramik yang menggambarkan kisah-kisah dari Alkitab yang berasal dari Belanda.
Keadilan Gender untuk Perdamaian
Kunjungan ke Keraton Kasepuhan bukan hanya sekadar kunjungan biasa, tetapi juga salah satu proses investigasi tentang bagaimana kisah dan pengaruh perempuan terhadap sejarah. Berdasarkan hasil investigasi kecil saya bersama teman-teman “Family Group”, tidak semua perempuan mendapatkan kesempatan tercatat dalam sejarah.
Jikalau pun ada, harus diakui bahwa perempuan-perempuan tersebut merupakan bagian dari keluarga kerajaan, seperti Istri Pertama Sunan Gunung Jati, Ratu Pakungwati dan istri keenam Sunan Gunung Jati, yaitu Ong Tien. Selebihnya, perempuan lebih banyak diidentifikasi sebagai seorang istri dari, seorang saudari dari, dan berbagai identifikasi lain yang menunjukkan perempuan hanya bayang-bayang.
Adapun Nyi Rara Denok adalah sosok perempuan yang juga memiliki peran penting dalam Kesultanan Cirebon sebagai panglima perang. Tapi kisah spesifiknya jarang disebut; hanya nama dikenang pada sebuah ruangan, yaitu gudang penyimpanan senjata.
Satu hal lain yang saya sadari adalah, meskipun tidak sepenuhnya diceritakan dalam sejarah, perempuan selalu menjadi “alat” perdamaian dan persatuan dua budaya dan dua keluarga, yang bisa dilihat dari Kisah Ong Tien.
Karena itu, hasil dari kunjungan ke Institut Studi Islam Fahmina sebelumnya, memberikan saya sebuah pandangan yang sangat segar.

Foto: AMAN Indonesia
Dengan melakukan kombinasi antara pengetahuan dan perspektif Mubadalah (kesalingan), peserta diberikan pemahaman awal tentang perspektif gender digunakan dalammenginterpretasikan Al-Qur’an dan/atau hadis. Kemudian hasil dari interpretasi tersebut dibawa ke dalam komunitas masyarakat, tanpa adanya paksaan.
Sehingga, dalam bentuk paling sederhana, keadilan dapat dirasakan setiap insan jika memiliki perspektif gender. Memahami perspektif gender dapat membantu memahami konsep keadilan dan perdamaian, yang kemudian dapat diimplementasikan dalam setiap tindakan dan perbuatan, terutama dalam menulis dan menuturkan sejarah.
Interkulturalisme: Pertemuan dengan Peacebuilders
“Siapa yang mendefinisikan ekstremisme itu sendiri?” Sebuah pertanyaan reflektif dari Wiwin Rohmawati, salah satu narasumber dalam sesi diskusi dari KAICIID. Dalam paparannya, ia memberikan gambaran bahwa ekstremisme bukan sesuatu yang berbahaya dan juga bukan sekadar isu politis. Akan tetapi, ekstremisme bisa menjadi berbahaya ketika berubah menjadi sebuah gerakan radikal, yang berakar dari sikap intoleransi, sikap tidak menerima adanya keberagaman berpikir, keberagaman pandangan, dan sebagainya.
Keberagaman bukan sumber kekacauan, melainkan pusat dari perdamaian. Ini adalah sebuah catatan manis dari Sr. Sophia Park dari ALL Forum, salah satu pembicara pada kegiatan ini. Sebagai anak muda, kita punya keistimewaan untuk menjadi pemimpi (dreamer). Tapi kita juga perlu terus terhubung kembali dengan sesama, dengan Tuhan, dan dengan diri kita sendiri.
Sebagai negara yang kaya akan keragaman agama, suku dan budaya, Indonesia juga rentan terhadap terjadinya perpecahan. Karena itu, perjumpaan dan dialog menjadi salah satu media penting sebagai upaya mengenal satu sama lain serta mencintai perbedaan.

Foto: AMAN Indonesia
Sr. Sophia Park juga menegaskan bahwa jika ingin berjumpa dengan cinta dan perdamaian, maka perlu adanya perjumpaan dengan mereka “the other” yang berbeda dengan kita. Melalui perjumpaan, akar-akar timbulnya intoleransi dapat dipangkas perlahan dan bisa dimatikan sesegera mungkin.
Perjumpaan tersebut dapat dilakukan melalui ruang-ruang dialog dan diskusi tentang keberagaman antar agama dan budaya. Akan tetapi, apakah setiap dialog benar-benar sebuah dialog?
Selain itu, saya mencoba merefleksikan perjumpaan lain yang bukan hanya sekedar perjumpaan antar sesama manusia, tetapi juga perjumpaan antar manusia dengan benda atau bangunan yang memenuhi unsur rohani seperti perjumpaan dengan bangunan bersejarah seperti Keraton Kasepuhan dan tempat seperti Pondok Pesantren.
Di hari terakhir, ada juga perjumpaan dengan Gereja Katolik Bunda Maria Cirebon. Atau hanya dengan melihat tempat-tempat ibadah yang berdiri berdampingan seperti di Puja Mandala Bali, sudah menunjukkan bagaimana perjumpaan dapat membawa perdamaian. Dari perjumpaan dan dialog itulah bisa menjadi jalan mengenal diri sendiri dan mengenal “aku yang lain/The Other”.







