Haidar Bagir dalam launching bukunya berjudul Islam Tuhan, Islam Manusia mengatakan, “Tuhan tidak butuh agama karena agama itu bukan agamanya Tuhan. Agama diturunkan untuk manusia dan menjadikan mereka bahagia di bumi ini. Jangan pernah berpikir Tuhan mengorbankan manusia demi Tuhan.”
Dari sini dapat kita pahami bahwa agama turun ke bumi bukan untuk menjadi sebab konflik. Agama mengajarkan perdamaian dan menghargai perbedaan, namun manusia hari ini banyak mengatasnamakan agama untuk bersikap intoleran terhadap perbedaan itu sendiri.
Pada hakikatnya, beragama adalah mengamalkan, memahami, dan mengejewantahkan nilai-nilai agama dalam kehidupan kita. Konflik yang terjadi atas nama agama merupakan kesalahpahaman dalam menafsirkan teks agama, sehingga agama menjadi eksklusif dan menakutkan, bukan sebagai penebar perdamaian dan cinta kasih. Setiap individu memiliki kebebasan tersendiri untuk memilih dan menjalankan agamanya, tidak ada paksaaan untuk menganut salah satu agama tertentu.
keberagaman merupakan sesuatu yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan masyarakat kita, terlebih Indonesia memiliki banyak keberagaman mulai dari agama, suku, dan budaya. Perbedaan agama bukan untuk saling menutup diri atau menjaga jarak dari orang lain, tetapi untuk kita bisa saling mengenal satu sama lain, saling belajar, saling memahami, dan menerima perbedaan sudut pandang. Agama bukan menjadi penghalang untuk menerima keberagaman, karena dengan mengenal keberagaman itu kita dapat mengenal sesama manusia secara lebih dekat.
Belajar dari Perjumpaan Kelompok Lintas Iman
Perjalananku mengenal keberagaman ketika aku bergabung dengan Gusdurian Cirebon dan Jaringan Muda Fahmina. Salah satu kegiatan yang menarik adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Fahmina yaitu Sekolah Agama dan Kepercayaaan (SAK). Dari kegiatan tersebut saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dalam hidup saya.

Foto: Pribadi
Terlahir dari keluarga religius dan homogen, bisa bertemu berkenalan dan berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda mulai dari agama, budaya, dan kepercayaan, membuat pemahaman saya tentang keberagaman semakin berkembang. Dari kegiatan SAK saya seperti mendapatkan klarifikasi pengetahuan langsung dari tokoh-tokoh agama, tentang beberapa kesalahpahaman atas pengetahuan tentang agama selama ini.
Salah satu pembelajaran yang saya dapat adalah setiap agama mengajarkan tentang cinta kasih seperti pada Katolik;ajaran cinta kasih (caritas) adalah inti dan hukum yang paling utama dalam agama Katolik yang merangkum seluruh hukum Taurat dan Kitab Para Nabi.
Kemudian ketika saya aktif dalam komunitas Gusdurian Cirebon, saya mendapatkan pengalaman yang membuat pemahaman saya tentang keberagaman semakin berkembang. Saya bertemu dengan teman-teman yang memiliki latar belakang agama berbeda. Pada awalnya, perbedaan tersebut mungkin terasa sebagai sesuatu yang cukup besar. Namun, melalui percakapan dan interaksi, saya menemukan banyak kesamaan di antara kami.
Kami memiliki kepedulian yang sama terhadap persoalan sosial, memiliki keresahan terhadap ketidakadilan, dan memiliki keinginan untuk menciptakan lingkungan yang lebih damai. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa identitas agama bukan alasan untuk membangun tembok pemisah.
Dalam pemikiran Gus Dur, keberagaman bukan sesuatu yang harus dihapuskan. Justru keberagaman merupakan bagian dari kehidupan manusia yang harus dikelola dengan bijaksana. Gus Dur menunjukkan melalui tindakan-tindakannya bahwa membela kelompok yang berbeda bukan berarti meninggalkan identitas keagamaannya sebagai seorang Muslim. Ia tetap seorang Muslim yang kuat, tetapi pada saat yang sama mampu berdiri bersama kelompok yang mengalami diskriminasi dan ketidakadilan.
Hal tersebut memberikan pelajaran penting. Saya tidak harus menjadi kurang Muslim hanya karena berteman dan bekerjasama dengan orang yang berbeda agama. Sebaliknya, saya justru merasa bahwa nilai-nilai Islam menjadi lebih bermakna ketika diwujudkan dalam kehidupan sosial.
Merayakan Hari Raya Natal
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah ketika saya mendapatkan kesempatan untuk mengisi sambutan dalam sebuah perayaan Natal. Pengalaman tersebut menjadi momen yang cukup reflektif bagi saya sebagai seorang Muslim. Pada Natal 24 Desember 2025 di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pamitran, salah satu Gereja Protestan yang ada di Cirebon, dan di tanggal 25 Desember 2025 di salah satu Gereja tertua di Jawa Barat yaitu Gereja Katolik Paroki St. Yusuf. Saya mendapatkan kesempatan untuk memberikan sambutan perwakilan dari Gusdurian Cirebon.

Foto: Gusdurian Cirebon
Saya menyadari bahwa saya sedang berada di tengah komunitas yang sedang merayakan hari besar keagamaannya. Ada perbedaan keyakinan yang tentu tidak bisa saya abaikan. Namun, kehadiran saya pada saat itu bukan untuk mencampuradukkan ajaran agama atau mengubah keyakinan masing-masing. Saya hadir sebagai seorang Muslim yang ingin menunjukkan penghormatan, persahabatan, dan komitmen terhadap kehidupan yang damai.
Pada sambutan itu saya mengutip dari kitab suci Al-Qur’an dan Alkitab.Dalam Al-Qur’an saya mengutip dari surat Al-Hujurat ayat 13 bahwa “Tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan menciptakan perbedaan karena untuk saling mengenal.”Begitu juga dalam Alkitab saya mengutip ayat Roma 12:18 bahwa “Hiduplah dalam perdamaian untuk semua orang.”
Pada momen itu, saya semakin memahami salah satu semangat yang sering terlihat dalam perjuangan Gus Dur membangun kehidupan bersama dengan menjadikan kemanusiaan sebagai titik temu. Bagi saya, menghormati umat agama lain tidak berarti harus mengorbankan keyakinan sendiri. Kita dapat tetap teguh dengan iman masing-masing sekaligus menghormati orang lain yang berbeda iman.
Pengalaman tersebut mengubah cara pandang saya terhadap toleransi. Sebelumnya, toleransi mungkin saya pahami sebatas membiarkan orang lain menjalankan keyakinannya. Namun, pengalaman lintas iman membuat saya melihat toleransi secara lebih aktif. Toleransi juga berarti kesediaan dan penerimaan untuk saling mengenal, mendengarkan, dan membangun hubungan baik dengan orang beragam. Tabik.







