Wednesday, May 20, 2026

Perempuan Bukan Figuran Sejarah: Tafsir Kritis KH. Husein Muhammad tentang Kiprah Perempuan Ulama

Setiap kali menyebut kata ulama, banyak dari kita yang langsung berpikir bahwa ia adalah seorang laki-laki. Bahkan ketika mengingat tokoh-tokoh besar dalam sejarah perkembangan Islam dan kemerdekaan Indonesia pun, sosok yang selalu muncul dan dikenang oleh sebagian besar masyarakat sering kali hanya laki-laki. Mulai dari nama pemimpin, panglima perang, pejuang kemerdekaan dan orang yang memiliki pengetahuan tentang agama.

Khusus dalam sebutan ulama, masyarakat muslim di dunia juga seolah telah mempunyai definisi khusus dan bersifat final, bahwa sebutan ulama hanya ditujukan untuk kaum laki-laki. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa perempuan masih dianggap tidak layak disebut sebagai ulama. 

Kenyataan pahit lainnya, perempuan juga sering kali dianggap sebagai figuran dalam narasi sejarah. Padahal baik dalam perjalanan dakwah Islam, maupun kemerdekaan Indonesia, banyak perempuan yang ikut berjuang, bahkan sampai mengorbankan nyawanya. 

Hal ini lah yang menjadi perhatian seorang ulama perempuan progresif dari Indonesia, KH. Husein Muhammad, atau akrab disapa Buya Husein. Sebagai salah satu dewan penasehat Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Buya Husein seringkali melakukan kritik atas penafsiran-penafsiran teks Islam yang merendahkan, mendiskriminasi dan menyudutkan perempuan. Termasuk dalam penafsiran kata “ulama” yang hanya disematkan pada kaum laki-laki saja.

Sebab dalam pandangan Buya Husein, ada banyak perempuan yang layak untuk disebut menjadi ulama. Kiprahnya nyata, bahkan banyak catatan yang memperlihatkan perempuan tersebut telah mampu mendidik dan melahirkan para tokoh-tokoh besar. 

 Siapakah Ulama Itu?

Dalam bukunya yang berjudul “Perempuan Ulama di Atas Panggung Sejarah” Buya Husein menjelaskan bahwa kata “ulama” sebetulnya telah disebutkan oleh Allah SWT dalam QS. Faathir ayat 28 yang artinya “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya, yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama. Sesungguhnya, Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Menurut Buya Husein, kata “ulama” dalam teks tersebut merujuk pada orang yang memiliki pemahaman mendalam dan wawasan yang luas mengenai hukum-hukum kehidupan di alam semesta, termasuk di dalamnya ahli fisika, matematika, kimia dan mungkin bahkan ilmu-ilmu modern lainnya di masa saat ini. 

Namun, seiring perkembangan waktu, makna kata ulama mengalami penyempitan, yaitu ditujukan kepada mereka yang menguasai ilmu-ilmu keagamaan.

Dari penjelasan tersebut, Buya Husein ingin menegaskan bahwa kedudukan sebagai ulama tidak terbatas pada jenis kelamin tertentu. Tetapi siapapun yang memiliki pemahaman ilmu yang luas dan mampu mengemplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam merespon konteks sosial yang beragam dan terus berubah, maka ia layak untuk disebut sebagai ulama. Perempuan ataupun laki-laki.

Lalu jika berangkat dari definisi yang dijelaskan oleh Buya Husein tersebut. Apakah ada ulama perempuan yang sudah tercatat dalam sejarah? 

Masih dalam buku yang sama, Buya Husein menunjukkan betapa banyaknya  tokoh-tokoh perempuan yang memiliki kapasitas intelektual layaknya laki-laki, atau bahkan melebihi laki-laki. Namun sayangnya nama-nama tersebut tidak terlalu populer dan diketahui banyak orang.

Hal ini tak lepas dari konstruksi sosial yang sudah berlangsung berabad-abad, sehingga peran ulama perempuan cenderung dikecilkan atau bahkan diabaikan dalam catatan sejarah.

Perempuan-Perempuan Ulama yang Menjadi Guru bagi Ulama Laki-laki

Setidaknya, ada tiga puluh perempuan ulama yang Buya Husein sebutkan dalam buku tersebut. Meskipun beliau menyadari betul, bahwa masih banyak perempuan ulama hebat lainnya yang belum tertulis.

Di antara tiga puluh tokoh tersebut ada sosok Aisyah ra. Yang sudah sangat terkenal di kalangan komunitas muslim. Ia merupakan perempuan kritis yang menjadi guru bagi banyak sahabat, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan. Sahabat yang berguru pada Aisyah ra. ada sekitar 299 orang: 67 perempuan dan 232 laki-laki.

Selain Aisyah ra. ada juga Hafshah binti Umar: 20 murid, 3 perempuan dan 17 laki-laki. Ada juga Hujaimiyah al-Washabiyyah: 22 murid laki-laki. Lalu Ramlaha bint Abi Sufyan: 21 murid, 3 perempuan dan 18 laki-laki dan Fatimah binti Qais: 11 murid laki-laki.

Pada periode berikutnya sejarah juga mencatat nama-nama perempuan ulama yang cemerlang. Beberapa di antaranya adalah Sayyyidah Nafisah (w. 208 H), cucu Nabi. Nafisah dikenal sebagai perempuan yang cerdas dan sering dirujuk sebagai sumber pengetahuan Islam. Ia juga pemberani dan tekun menjalani ritual dan asketis. Ia adalah guru Imam al-Syafi’I dan kemudian Imam ahmad bin Hanbal.

Imam al-Syafi’I dan kemudian Imam ahmad bin Hanbal, ada juga Ibn Arabi, seorang sufi terbesar sepanjang zaman. Ternyata kebesarannya tersebut ia peroleh setidaknya dari tiga perempuan ulama. Diantaranya ialah, Pertama, Fakhr al-Nisa, perempuan sufi terkemuka dan idola para ulama laki-laki dan perempuan. Kepadanya dia mengaji kitab hadis “Sunan al-Tirmidzîy”. 

Kedua, Qurrah al-Ain. Ketika tengah asik tawaf memutari Ka’bah, Ibn Arabi bertemu dengan Qurrah dan mengaji kepadanya. Lalu perempuan ketiga ialah Sayyidah Nizham (Lady Nizham). Ia biasa dipanggil “Ain al-Syams” (mata matahari), dan “Syaikhah al-Haramain” (Guru Besar untuk wilayah Makkah dan Madinah).

Lalu yang terakhir, Buya Husein juga menyebutkan nama Ibn Hazm dari Andalusia. Dari hasil bacaannya, Buya Husei menemukan bahwa Ibn Hazm memperoleh pengetahuan pertamanya dari kaum perempuan. Ia belajar membaca al-Qur’an sekaligus menghafal, menulis dan memperolah sejumlah pengetahuan dasar dari perempuan. 

Tidak selesai di situ, Buya Husein juga menyebutkan beberapa perempuan ulama di Indonesia yang kiprah dan perjuangnnya sangat berpengaruh terhadap peradaban manusia. Nama-nama tersebut diantaranya ialah Rahmah El-Yunusiah, Nyai Khairiyah Hasyim, Tengku Fakinah dan Fatimah. 

Menurut Buya Husein para perempuan yang memiliki kemampuan ilmiyah yang setara dengan laki-laki atau bahkan lebih. Mereka yang bekerja dalam dunia ilmiyah dan memimpin lembaga -lembaga pendidikan tradisional, seperti madrasah, dayah, majelis ta’lim dan pesantren, maupun modern; Perguruan tinggi dan pusat-pusat riset sosial keagamaan, sangat layak untuk disebut sebagai ulama. 

Oleh sebab itu, peran dan kontribusi perempuan ulama dalam ruang khidmah apapun, tidak boleh diabaikan. 

Karena meniadakan kontribusi perempuan dalam perdaban dunia, sama saja dengan mengecilkan eksistensi mereka sebagai manusia. Padahal prinsip Islam sudah sangat jelas, laki-laki dan perempuan adalah manusia yang setara. Ia sama-sama sebagai hamba, kebaikannya akan diberi pahala, tingkat ketaqwaannya menjadi hal paling mulia di hadapan Allah Swt. []

 

Fitri Nurajizah
Fitri Nurajizah
Fitri Nurajizah, lebih senang dipanggil Fitri aja. Senang berkegiatan di alam, terutama hutan & gunung. Sehari-hari aktif bekerja di Media Mubadalah.id dan sedang menjadi sahabat teman-teman Program Beasiswa Sarjana Ulama Perempuan Indonesia (SUPI) ISIF menulis. Jika ingin lebih dekat, bisa disapa di akun Instagram @fitri-nurajizah

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha