HomeBukuSebuah Panduan untuk Kehidupan Perempuan

Sebuah Panduan untuk Kehidupan Perempuan

Judul: Akhir Penjantanan Dunia, Penulis: Ester Lianawati, Penerbit: EA Books, Ketebalan: 303 halaman, Tahun Terbit: 2023

Membaca judulnya saja, pembaca pasti bisa menerka bahwa dalam tulisan ini akan dibawa pada sebuah refleksi. Terutama tentang ideologi patriarki yang mengakar dalam kehidupan masyarakat. Di mana tanpa sadar kita semua adalah pelaku yang melanggengkan budaya itu. Bagi saya, tulisan Ester tidak hanya mampu mendobrak sebuah hal yang tabu. Lebih dari itu, tulisannnya seperti Singa, di mana ketika seekor singa menerkam mangsa, akan mencabik-cabik tanpa ampun.

Begitu pula ketika membaca tulisannya, ia mampu menyingkap segala hal yang kadangkala tanpa kita sadari. Hal itu akan membuat pembaca semakin penasaran untuk terus ke halaman selanjutnya. Dalam tulisan ini, Ester menyingkap persoalan kejantanan yang ternyata, hal ini mendasari dari terjadinya kekerasan.

Menurut Ester, penguasaan masif terhadap kedaulatan diri perempuan tidak hanya berakar pada perbedaan morfologi semata. Namun, pasti ada dorongan lain yang mendasari segala bentuk opresi tersebut. Inilah yang disebut dengan ideologi kejantanan.

Ideologi kejantanan ini menjadikan laki-laki berkuasa. Otoritas kehidupan tidak lagi menjadi milik perempuan. Akan tetapi milik laki-laki. Menariknya adalah, tanpa kita sadari ternyata pelanggengan kejantanan ini dilakukan oleh perempuan. hal ini termaktub pada trinitas peran perempuan yang diungkapkan Ester, yakni: perawan-pelacur-ibu. Trinitas peran ini menjadikan perempuan semakin tidak menyadari bahwa ia juga pelaku dari pelanggengan ideologi kejantanan.

Mengapa? Pada  sebuah contoh misalnya. Laki-laki dalam mencari pasangan, pasti akan memilih seorang perawan. Tidak hanya perawan, tapi juga berasal dari perempuan baik-baik. Inilah yang kemudian menciptakan persaingan sesama perempuan. Sebab mereka akan berlomba-lomba untuk merebut cinta dari seorang laki-laki.

Dalam peran ibu, adalah sebuah glorifikasi umum bahwa seorang ibu harus mampu mengurus urusan domestic. Lalu, kemudian mengajarkan kepada anak perempuannya untuk bersikap sama dengan dirinya? ditambah lagi ketika pengasuhan yang diberikan oleh ibu kepada anaknya. Pasti akan berbeda sikap dan perilaku kepada anak laki-laki dan perempuan.

Belum lagi dengan persoalan pemilihan warna yang seringkali dilekatkan pada jenis kelamin. Pelanggengan ini akan semakin mengakar ketika ibu belum mampu memberikan pengajaran yang cukup bagi seorang anak untuk tumbuh. Serta mendobrak budaya dan mampu memberdayakan dirinya sendiri.

Memahami persoalan ini, apakah feminisme menolak menjadi ibu? Tentu tidak. Ini adalah sebuah seni bagaimana seseorang harus membebaskan diri untuk memilih kehidupannya, baik ketika memilih menjadi ibu atau tidak. Tidak hanya persoalan pengasuhan. Persoalan lain dari sosok ibu yang dijelaskan oleh Ester adalah bagaimana rivalitas yang tercipta dari seorang ibu kepada anak perempuannya. Rivalitas sesama perempuan ini mengakibatkan hubungan yang tidak sehat bahkan mematikan.

Jika kita lihat beberapa video singkat yang lewat media sosial, sebuah hubungan yang sangat intim dari anak perempuan dengan ayahnya menjadi sebuah idaman banyak orang. Namun, bukan itu yang saya maksud. Ada video seorang anak perempuan yang tidak ingin ibunya dekat dengan ayahnya.

Disinilah bibit dari persaingan ibu dengan anak perempuannya. Maka tidak salah ketika kita mengetahui beberapa fenomena ibu yang membunuh anak perempuannya. Begitu dengan ketidaksukaan ibu terhadap kebahagiaan anak perempuannya dilahirkan dari bibit rivalitas yang sudah tercipta sebelumnya.

Mengakhiri Kejantanan dengan Perlawanan

Salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh perempuan dalam mengakhiri ideologi kejantanan, yakni dengan perlawanan. Melawan berarti bergerak, entah untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain. Menurut Ester, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh perempuan yakni:

Pertama, otonomi tubuh. Perempuan harus menyadari kebebasan tubuh dan hidup yang bisa dipilih sesuai dengan keinginannya. Pembebasan atas tubuh ini semata-mata untuk menjadikan perempuan sebagai manusia yang sadar, ingin dibawa kemana kehidupan dan tubuhnya. Pilihan untuk menikah, menjadi ibu atau tidak adalah pilihan yang berada di tangan perempuan. Ia harus mampu memilih tersebut secara sadar, tanpa introgasi dari pihak manapun, khususnya laki-laki

Kedua, persaudaraan antar sesama perempuan. wacana tentang women support women harus terus digaungkan. Sebab rivalitas ini sering terjadi pada perempuan, utamanya barangkali atas dasar tidak suka, merasa tersaingi ataupun faktor lain. Padahal, peran untuk mendukung sesama ini sangat penting dilakukan. masalah-masalah biologis yang sama dialami oleh perempuan, ketika tercipta persaudaraan, akan menjadi support system yang cukup berpengaruh bagi kehidupan seorang perempuan.

Ketiga, kerjasama dengan laki-laki sangat pentng dalam banyak hal. Hal ini bisa diupayakan dalam pekerjaan domestik yang selama ini dilekatkan kepada perempuan. pola pengasuhan juga bisa dimulai dalam bentuk sebuah kerjasama. Sebab dalam budaya patriarki, tidak hanya perempuan yang dirugikan dalam standart maskulinitas. Laki-laki juga turut dirugikan. Oleh sebab itu, ketika berupaya memutus rantai ini, maka perlu kesadaran dan peran dari kedua belah pihak, yakni laki-laki dan perempuan.

Ester mengakui bahwa kita semua dilahirkan dari budaya patriarki. Kenyataan ini juga barangkali berimbas kepada pola asuh yang diterapkan dalam keluarga. Tentu tidak sempurna untuk diterapkan. Namun, barangkali dari berbagai penjelasan yang sudah disampaikan, kita menjadi paham bahwa, ada banyak aspek yang ternyata dalam diri perempuan menyimpan sebuah kotak pandora, yang berisi kepatuhan, penindasan yang tidak disadari, dan itu berasal dari budaya serta kehidupan yang dijalani.

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments