Tuesday, September 22, 2026

Saya Pernah Takut Pada Gereja: Sebuah Pengalaman Pertama Berjumpa Kelompok Berbeda

Suatu hari di tahun 2022, seorang dosen menawarkan sebuah kegiatan camping keberagaman sesaat sebelum kelas berakhir. Kala itu dosen tersebut menawarkan untuk tiga orang dapat bergabung mencakup laki-laki dan perempuan di kegiatan tersebut.

Satu kelas tentu bertanya, camping keberagaman itu apa, seperti apa, dan akan dipertemukan dengan siapa saja kami disana? Mengingat latar belakang mahasiswa yang homogen, rata-rata berasal dari pesantren.

Dosen tersebut menjelaskan bahwa dalam kegiatan tersebut diinisiasi oleh paroki-paroki gereja di wilayah sekitar Cirebon. Pada kegiatan ini seluruh peserta akan dipertemukan dengan orang-orang berlatar belakang agama dan keyakinan yang berbeda dari tiga wilayah: Cirebon, Majalengka dan Kuningan.

Kedengarannya sangat menarik sekaligus menakutkan bagi saya yang tidak memiliki pengalaman bertemu dengan orang-orang yang berbeda, khususnya agama dan keyakinan. Bahkan Melihat gereja saja takut, apalagi bertemu orang-orang yang beribadah di dalamnya.

Namun, saat itu saya mengambil keputusan untuk ikut serta dan mengajukan diri bergabung dengan dua orang teman lainnya. Meski takut, aku mencoba untuk menantangnya!

Pada saat hari keberangkatan tiba, saya bersama dengan seorang teman perempuan menuju titik kumpul sebelum keberangkatan ke lokasi camping yang berada di daerah Kuningan. Kemudian yang membuat saya semakin gugup adalah titik kumpul tersebut berada di sebuah gereja, yaitu Gereja Bunda Maria.

Ketakutan ternyata sudah dimulai sejak saat berangkat ke lokasi titik kumpul. Berbagai ketakutan dan asumsi yang ada dalam pikiran pada akhirnya berhadapan langsung dengan kenyataan.

Untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di sebuah gereja dan bertemu dengan salah satu penganut agama Katolik yang menjadi salah satu peserta camping tersebut. Di gereja tersebut, kemudian saya bertemu berbagai peserta lainnya yang berasal dari agama Katolik, Kristen, Islam Buddha dan Hindu.

Di gereja tersebut kemudian kami bertemu dengan Romo Antonius Haryanto, yang akrab disebut Romo Hary. Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan akan bertemu langsung dengan tokoh agama Katolik yang ramah dan bersedia berbincang mengiringi keberangkatan rombongan ke lokasi camping.

Betul sekali bahwa sampai sini ketakutan yang selama ini saya yakini tidak terjadi.Di lokasi camping, perjumpaan menjadi semakin luas dengan pertemuan bersama lebih banyak orang dengan latar belakang agama dan keyakinan yang berbeda. Diantaranya, Kristen, Katolik, Sunda Wiwitan, Buddha dan Hindu. Dari pertemuan ini saya berkenalan dengan Komunitas Gusdurian Cirebon.

Pertemuan yang pada awalnya hanya berlangsung dalam sebuah camping ternyata menjadi awal dari banyak perjumpaan berikutnya. Hingga saat ini, melalui komunitas Gusdurian saya memiliki relasi yang begitu dekat dengan orang-orang berbeda. Ikatan tersebut sangat terasa seperti seorang teman, adik hingga seperti keluarga.

Mengapa Pengalaman Keberagaman Ini Begitu Spesial dan Terdengar Sangat Berkesan?

Terikat secara emosional dengan orang yang berbeda agama rasanya seperti sangat aneh bagi saya, awalnya. Sebagai seorang perempuan yang tumbuh dan dekat dengan lingkungan pesantren, sangat tidak akrab dengan orang-orang yang berbeda karena masyarakat yang relatif seragam.

Keseragaman membuat saya takut untuk mengambil banyak keputusan berbeda dari lingkungan sosial dan keyakinan keluarga, begitupun dalam kehidupan beragama. Jelas sekali dalam ingatan bahwa sebagai seorang muslim saya diajarkan untuk menjaga akidah dan keimanan dengan tidak terlalu berdampingan dengan non-muslim, termasuk dalam mengunjungi rumah ibadah agama lain dapat mengancam keimanan dan membawa kita pada kemurtadan. Ketika kecil, saya tidak mempertanyakan pemahaman tersebut, saya menerima sebagai bagian dari pengetahuan agama yang saya miliki.

Dunia perkuliahan kemudian mempertemukan saya dengan lingkungan yang beragam. Mengajak saya untuk masuk lebih dalam memaknai berbagai pemahaman seperti toleransi antar umat beragama, salah satunya melalui kegiatan camping lintas iman. Sejak kecil saya mengenal keberagaman agama, keyakinan dan budaya yang ada di Indonesia hanya sebatas pengetahuan, bukan melalui perjumpaan. Kini saya memahami bahwa akan ada pengalaman yang berbeda jika keberagaman hadir menjadi sebuah implementasi nyata antar manusia. Seperti menjadi teman berbicara, tertawa, berdiskusi, bekerja sama, bahkan kemudian menjadi bagian dari kehidupan kita

Camping lintas iman menjadi titik balik bagi saya. Perjumpaan-perjumpaan berlanjut melalui berbagai kegiatan keberagaman melalui komunitas GUSDURian Cirebon dan lingkungan akademik di kampus Institut Studi Islam Fahmina yang dikenal sebagai kampus transformatif yang aktif berperan dalam mempromosikan keberagaman dan menjaga kerukunan antar umat beragama dan berkeyakinan. Melalui komunitas tersebut dan lingkungan akademik, saya mulai mengenal Gus Dur dengan membaca, memahami hingga merefleksikan nilai, pemikiran dan keteladanannya melihat perbedaan.

Sebagai bapak pluralisme Gus Dur membawa saya jauh untuk bertemu, berbincang, berdiskusi dan hidup bersama dengan tokoh agama, anak muda hingga komunitas perempuan dari berbagai agama dan keyakinan yang ada di daerah Cirebon dan sekitarnya. Keberagaman kemudian menjadi sebuah ruang untuk bertemu, belajar dan membangun kehidupan bersama.

Perjumpaan-perjumpaan ini membawa saya pada satu pertanyaan penting, bagaimana saya ingin memahami Islam?

Berbagai pengalaman yang saya lalui tidak membuat saya kemudian menjauh dari Islam. Justru sebaliknya, saya semakin terdorong untuk memahami Islam melalui nilai-nilai yang menjadi makna setiap ajarannya. Saya meyakini bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam beragama, begitupun dengan saya. Bertemu dengan realitas terlebih dahulu, kemudian mencoba membaca dan memaknai proses tersebut dengan nilai-nilai Islam itu sendiri.

Islam hadir sebagai agama yang mengajarkan kasih sayang untuk seluruh alam, yang kita kenal dengan rahmahtan lil al ‘alamiin. Kemudian seorang muslim mengemban amanah sebagai pemimpin di dunia dan berperan dalam menciptakan kemaslahatan. Kemaslahatan itu tidak mungkin terwujud tanpa keadilan, termasuk keadilan dalam memperlakukan mereka yang berbeda agama dan keyakinan. Karena pada dasarnya manusia sama dengan martabat yang setara.

Maka dari itu, berbagai pengalaman ini justru seringkali memunculkan pertanyaan. Jika kita meyakini Islam sebagai agama yang membawa rahmah dan keadilan, mengapa perbedaan agama seringkali masih dipandang sebagai sebuah ancaman?

 

 

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha