HomeCeritaObertina, Memadamkan Bara Api dari Gengaman (Part 1)

Obertina, Memadamkan Bara Api dari Gengaman (Part 1)

Training of Trainer on Strengthening Women-led Community Resilience toward Violent Extremism for Civil Society Organization yang difasilitasi AMAN Indonesia di Jakarta adalah kali pertama aku bertemu dengan sosok perempuan yang sangat antusias berdiskusi, bertanya, dan bersuara tentang isu perempuan, perdamaian, dan kesetaraan.

Tutur katanya begitu santun dan intonasinya sangat lugas. Pembawaannya berkarisma, namun tetap rendah hati. Mungkin memang begitulah seharusnya gambaran pemuka agama ditonjolkan. Perempuan itu adalah Obertina, akrab disapa Obet, seorang pendeta di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Bandung.

Menjadi Minoritas di Tanah Rantau yang Penuh Resistensi dan Stigma Masyarakat

Lahir dan tumbuh di Jawa Barat, Obet yang berdarah asli Maluku Tenggara ikut orang tuanya pindah ke Jawa pada tahun 1977. Program pembangunan pendidikan SD Inpres pada era pemerintahan Soeharto menyebabkan sejumlah guru dari Jawa dikirim ke Ambon. Sebaliknya, sejumlah guru di Ambon dikirim ke Jawa, beberapa di antaranya adalah orang tua Obet.

Kali pertama tinggal di suatu daerah yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam, tentunya tidak mudah bagi keluarga Obet. Apalagi masyarakat sekitar kampung belum pernah sama sekali hidup berdampingan dengan kelompok berbeda. Keluarga Obet bahkan menjadi satu-satunya umat Kristiani yang berdomisili di Cileungsi, Kabupaten Bogor hingga hampir 30 tahun lamanya.

Menjadi seorang pendatang tentunya akan melewati fase adaptasi yang tidak selalu mudah. Apalagi dengan adanya perbedaan yang amat kentara mulai dari suku, ras, hingga agama. Tak ayal, masa kecil Obet dipenuhi dengan perundungan atau bullying di tengah masyarakat yang belum pernah sama sekali bersentuhan dengan kelompok yang berbeda.

“Rumah dinas mama papa saya bahkan pernah dilempari kotoran manusia, karena menurut mereka orang Kristen itu kafir. Stereotipe ‘kafir’ itu kayak udah jadi makanan sehari-hari,” tutur Obet saat diwawancarai pada Senin, 20 Maret 2023 silam.

“Masa kecil saya dan adik-adik saya juga kerap kali menjadi korban bullying. Kalau kami lagi jalan, di belakang kami itu anak-anak kampung seperti ngarak kami sambil ngata-ngatain kami kafir, walanda, Cina, najis karena belum disunat. Makannya, selama di kampung itu kami nggak punya teman,” imbuhnya.

Beragam bentuk penolakan masyarakat setempat terhadap keluarga Obet dialami tidak hanya semasa kanak-kanak, melainkan saat remaja hingga dewasa. Terlebih saat Obet resmi menjadi seorang pendeta.

Tidak jauh berbeda dari yang dialami Obet semasa kecil di tahun 2006 ia bertugas di jemaat Dayeuhkolot dan tinggal di Pastori atau rumah yang terletak persis di samping gereja. Berbagai bentuk intimidasi juga kerap kali dialami sehari-hari. Misalnya masyarakat setempat melempar batu ke arah rumah Obet. Bahkan, saat bulan puasa pun, anak-anak atau para remaja kampung yang tengah bermain di sepanjang gang, berani melempar petasan ke dalam rumah Obet.

Bentuk intimidasi semacam itu belum seberapa. Ada satu peristiwa yang menimbulkan trauma cukup besar bagi Obet saat ia ditugaskan memimpin jemaat di Leuweung Kolot, Bogor. Pada Januari 2007 silam, terjadi perusakan yang cukup besar di gereja yang dilakukan sekelompok orang tidak bertanggung jawab. Bangku-bangku gereja dilempar hingga ke halaman, teriakan takbir saling bersahutan. Situasi begitu mencekam dan tak karuan.

Pada situasi tersebut, berkali-kali suami Obet, Gunawan, meneleponnya. Tapi, tak kunjung ada jawaban dari Obet. HP ia tanggalkan karena tengah khusyuk berkhotbah, memimpin ibadah bersama para jemaat. Seusai ibadah, Obet akhirnya menelpon balik suaminya. Sontak melemas tubuh Obet mendengar kabar demo dan situasi terkini di sekitar rumahnya. Ia khawatir terjadi hal-hal yang akan melukai keluarganya dan para jemaat di sekitar rumah. Namun, Gunawan menguatkannya.

Setelah melakukan aksi perusakan di gereja, sekelompok orang tidak bertanggung jawab itu menyasar rumah Obet untuk melanjutkan aksinya. Saat itu Obet sedang bertugas di jemaat lain di desa yang berbeda. Hanya ada Gunawan, anak Obet yang baru berusia 4 bulan, dan seorang pekerja rumah tangga beragama Islam, Emak Amay, yang tinggal di dalam rumah. Emak Amay bukan orang asli desa setempat. Obet membawa Emak Amay dari kampung halaman mamahnya. Ia sudah lama membantu Obet, bahkan sudah dianggap seperti anggota keluarga sendiri.

Sedetik sebelum melayangkan aksinya, sekelompok orang tidak bertanggung jawab itu tepergok oleh Emak Amay yang baru saja keluar dari kamar mandi. Karena rumah Obet pada waktu itu sangat sederhana, kamar mandinya bertempat di luar rumah.

“Mana yang punya rumah?” tanya salah satu dari mereka dengan nada seolah berteriak. Emak Amay dengan cerdiknya menjawab, “Tidak ada siapa-siapa. Rumahnya kosong.” Setelah mendapati info dari Emak Amay dan mengamati tidak ada tanda-tanda adanya orang di dalam rumah, lantas pergilah sekelompok orang tidak bertanggung jawab itu menjauh dari rumah Obet. Gunawan dan anak mereka selamat. Bayi usia 4 bulan itu seakan tahu bahwa ia harus tetap tenang meski kondisi ricuh di luar rumah.

Begitu mudahnya mereka dikelabui. Apa karena Emak Amay, seorang Muslimah, yang mengatakannya? Kelompok seperti mereka memang hanya mempercayai dan mendengarkan perkataan dari orang yang sesama golongan saja. Sekalipun perkataan yang dilontarkan dusta. Tapi tidak mengapa jika dusta yang disampaikan dapat menolong orang lain, seperti halnya yang dilakukan Emak Amay.

Selang beberapa saat, keonaran yang dilakukan oknum itu mereda. Menyisakan puing-puing bangku gereja, dan tangis orang-orang yang tak berdosa. Sebagai seorang tokoh agama dan pemimpin di komunitas, Obet menghadapinya dengan jiwa kesatria dengan merangkul dan menguatkan mereka yang terluka.

Kejadian perusakan di gereja dan sekitarnya tahun 2007 itu amat membekas dalam relung hati dan ingatan Obet. Saking dalamnya, ia tidak sanggup merangkul emosinya sendiri. Ia pun berusaha tetap berdiri tegak, meski terus-terusan diinjak berulang kali. Namun, dari rasa sakit itulah timbul semangat Obet yang semakin membara untuk turut ambil peran dalam membumikan perdamaian. Mewujudkan dunia yang lebih baik untuk anak cucu kelak.

Nilai-nilai Perdamaian yang Diterapkan dalam Keluarga

“Ada satu ayat dalam Alkitab yang berbunyi; Jika kamu membalas perlakuan buruk orang lain terhadapmu dengan keburukan yang lain, maka ibarat kamu menaruh bara api di atas kepalanya. Jadi, biarlah Tuhan saja yang membalas. Kita sebagai manusia hanya perlu terus berbuat baik kepada sesama,” kata Obet.

Sejak kecil, orang tua Obet mendidiknya untuk menjadi sangat agamis. Obet seringkali diberi tugas membaca Alkitab yang panjang, kemudian dirangkum nilai-nilai apa yang terkandung di dalamnya. Apabila melanggar aturan di rumah, hukumannya pun membaca Alkitab. Bahkan, ketika adzan Maghrib berkumandang, televisi harus dimatikan. Orang tua Obet, terutama mamahnya, mengatakan bahwa “Kalian itu anak terang.” Hal ini berdampak pada terjadinya pengerasan di keluarga Obet.

Sejak di bangku Sekolah Dasar (SD), mamah Obet sering memberikan tugas kepada anak-anaknya untuk membaca Alkitab yang sangat panjang. Bila ada yang melanggar aturan di rumah, hukumannya pun membaca Alkitab dan meringkasnya.

Dalam Alkitab, Paulus mengatakan bahwa dalam konteks penindasan atau penganiayaan, sebenarnya kita adalah anak terang, karena kejahatan adalah hal yang gelap. Maka, jangan mendekat pada kegelapan, teruslah bersinar terang. Dalam artian, jangan ikut-ikutan berbuat jahat, tetaplah berbuat baik kepada sesama.

Nilai-nilai kebaikan dan perdamaian tidak hanya diajarkan oleh orang tua Obet, melainkan benar-benar diteladani. Sebagai pendatang, mereka tak segan berkunjung ke rumah Pak RT atau orang yang dituakan di desa. Berkenalan dan berbaur dengan masyarakat sekitar. ‘Lapor Diri’ istilah yang disebut Obet.

Saking ramahnya keluarga Obet dan usaha mereka agar tidak berjarak dengan masyarakat meskipun berbeda, sampai ada salah satu keluarga Muslim yang cukup dituakan di kampung, menjalin hubungan baik dengan keluarga Obet. Mereka menganggapnya seperti orang tua sendiri. Abah dan Nin, keluarga Obet memanggilnya.

Suatu ketika, anak perempuan Abah dan Enin meninggal dunia, meninggalkan seorang anak yang masih bayi. Usianya sepantaran dengan Obet waktu itu. Dengan penuh ketulusan hati, Alaida menyusui cucu Abah dan Enin. Mereka pun menerimanya tanpa terhalang prasangka.

Lambat laun penerimaan terhadap keluarga Obet mulai muncul. Saat Lebaran tiba, keluarga Obet ikut berkeliling menyapa masyarakat dengan suka cita. Atau saat perayaan Natal, keluarga Obet juga membagikan bolu buatan sendiri kepada tetangga-tetangga. Terlebih saat Papa Obet, Samuel Johanis, menjadi kepala sekolah, kepala koperasi, bahkan kepala desa.

Selama menjadi kepala sekolah, Samuel banyak membantu warga yang kesulitan membayar SPP. Lantas, ia memperbolehkan wali murid membayar SPP dengan hasil tani atau ternak. Sedangkan, honor guru lainnya diberikan dari gajinya. Tak hanya urusan di sekolah, beberapa warga juga berdatangan ke rumah keluarga Obet untuk meminta bantuan.

Kebaikan yang disebarkan keluarga Obet membuahkan hasil. Masyarakat mulai menerima kehadiran kelompok berbeda. Hingga hampir 30 tahun lamanya, baru ada lagi keluarga lain yang Kristen berasal dari Suku Batak. Penolakan kadangkala masih terasa, tetapi tidak begitu kuat seperti awal mula keluarga Obet menapaki kaki di sana untuk pertama kalinya.

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments