Saturday, August 30, 2025

Mengenal Ani Idrus, Jurnalis Perempuan di Pusaran Kemerdekaan Indonesia

Ani Idrus, salah satu tokoh perempuan dalam sejarah paska kemerdekaan Indonesia. Ia dikenal sebagai jurnalis perempuan yang melintasi zaman demi zaman sejak era pergerakan nasional. Selain itu, ia juga dikenal sebagai aktivis perempuan yang memperjuangkan pendidikan, serta aktif berkiprah di ranah politik. 

Melansir dari Historia.id, Ani Idrus lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada 25 November 1919 dari pasangan Djalisah dan Sidi Idrus. Ayahnya, bekerja sebagai kerani (juru tulis) di kantor tambang batubara Ombilin, dan ibunya merupakan ibu rumah tangga yang mengurus kedua anaknya, Ani dan Ana (kakaknya).

Ani Idrus menuntaskan pendidikan dasarnya di tanah kelahirannya, sembari menempuh pendidikan informal di madrasah untuk memperdalam agama Islam. Kemudian pada tahun 1928, ia merantau ke Medan untuk melanjutkan sekolah madrasah dan masuk ke lembaga pendidikan lainnya termasuk Methodist English School, Meisjeskop School (sekolah perempuan), hingga sekolah menengah atas milik Taman Siswa.

Tahun 1930, Ani Idrus mulai gemar menulis dengan mengirimkan artikel ke beberapa surat kabar atau majalah. Dikutip dari Tirto.id, tulisan pertama Ani dimuat di Majalah Panji Pustaka, terbitan Jakarta. 

Tiga tahun kemudian Ani Idrus mulai melakoni kerja-kerja jurnalistik secara lebih profesional. Ia membantu Majalah Politik Penyedar yang bernaung di bawah penerbitan surat kabar Sinar Deli, salah satu koran terbesar di Sumatera Utara kala itu.

Selain menulis berita liputan dan artikel, Ani Idris juga menulis cerpen di berbagai media dengan nama pena Lady Andy. Lewat cerpen-cerpennya, ia selalu menyampaikan bahwa perempuan harus mampu membela haknya dan jangan mau diperlakukan sewenang-wenang. Ia juga mendorong kaum perempuan untuk mengejar kemajuan dirinya.

Kecintaannya pada dunia kepenulisan semakin kuat, karena suaminya, Mohammad Said juga seorang jurnalis. Karena itu, pada 1938 ia dan suami menerbitkan mingguan bernama Seruan Kita. Mingguan ini merupakan terbitan politik untuk rakyat, seperti mingguan yang didirikan Mohammad Said sebelumnya, Penjedar.

Setelah Indonesia Merdeka, ia terus berkiprah di dunia jurnalistik nasional. Ia dan suami meluncurkan surat kabar harian bernama Waspada yang terbit perdana pada 11 Januari 1947. Dalam surat kabar ini mereka menyatakan diri sebagai bagian dari pendukung Kemerdekaan RI. 

Sikap ini terlihat jelas dalam artikel dan pemberitaan yang tegas dan tajam menghadapi Belanda yang berupaya menduduki Medan dan sekitarnya demi menguasai lahan-lahan perkebunan.

Kepedulian Ani Idrus pada Nasib Perempuan

Sejak kecil Ani Idrus sudah tinggal di lingkungan masyarakat matrilineal dengan adat yang sangat ketat di Minangkabau. Dalam sistem ini, perempuan ditempatkan sebagai penanggung jawab pekerjaan domestik, sementara laki-laki dilarang terlibat dalam kerja-kerja perawatan dan pengasuhan. Pola ini membuat relasi suami-istri menjadi timpang, dan tidak sedikit perempuan yang akhirnya menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Di sisi lain, di Minangkabau praktik poligami merupakan realitas yang banyak terjadi. Hal ini lah yang juga dialami oleh ibunya, ia menjadi istri kedua dari Sidi Idrus. Karena tidak terima, ibunya kemudian memilih untuk bercerai. 

Setelah orang tuanya berpisah, Ani dan kakaknya tinggal bersama ayahnya. Namun, beranjak remaja ayahnya seringkali membatasi ruang geraknya. Ia sering dilarang untuk mandi di sungai atau memanjat pohon, karena dianggap tidak pantas bagi perempuan. Sejak itu lah, ia mulai mempertanyakan tentang perbedaan laki-laki dan perempuan. 

Berangkat dari keresahan itu, pada 1929 Ani Idrus memilih untuk pindah dan tinggal bersama ibunya di Medan.  Di sana, ia semakin gemar membaca dan menulis karena mendapat dukungan dari ayah tirinya yang berlangganan surat kabar.

Ani Idrus banyak menaruh perhatian pada nasib perempuan masa itu. Kepedulian tersebut ia sampaikan dalam tulisan-tulisannya. Hal ini terlihat dari karya pertamanya yang terbit di majalah Panji Pustaka, dalam tulisan tersebut ia bercerita tentang seorang gadis di Batavia.

Majalah Dunia Wanita

Dilansir dari voi.id, Ani Idrus hidup pada era kolonial, di mana pada masa itu suara-suara perempuan sudah mulai muncul. Salah satunya lewat tulisan-tulisan, baik yang diterbitkan oleh organisasi perempuan maupun majalah komersil. 

Berangkat dari tulisan-tulisan tentang isu perempuan, Ani juga menginisiasi lahirnya Majalah Dunia Wanita. Majalah ini mendokumentasikan berbagai isu perempuan. Mulai dari bidang sosial, politik, pendidikan, hingga ekonomi. 

Salah satu tujuan ia membuat majalah khusus perempuan ini adalah untuk memberikan informasi dan meningkatkan literasi perempuan. Lewat Dunia Wanita, Ani Idrus mendorong perempuan untuk mengetahui keberadaan diri dan hak-hak perempuan dalam mengisi kemerdekaan, baik dalam politik, ekonomi, sosial, dan keluarga.

Keterlibatan Ani Idrus di Dunia Wanita ia jalani sampai 1961. Karirnya dalam dunia pers mencapai puncaknya sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia cabang Medan. Bahkan dalam buku “Sekilas Pengalaman dalam pers dan Organisasi PWI Sumatera Utara” disebutkan bahwa di bawah kepemimpinannya, PWI telah berhasil menjadi pelopor emansipasi perempuan di Sumatera Utara. 

Pada 1953-1963, Ani Idrus sempat melakukan berbagai kunjungan ke negara-negara Asia, Eropa dan Irian Jaya dalam misinya sebagai seorang jurnalis. Selain itu, ia juga mendirikan Yayasan Balai Wartawan cabang Medan. Di tahun 1959, ia terpilih sebagai ketua. Berbarengan dengan itu, ia menjabat sebagai wakil ketua di Yayasan Akademi Pers Indonesia.

Pada 1984, Ani Idrus sempat beralih ke ranah politik. Ia bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) sebelum pindah ke Golongan Karya (Golkar) pada masa Orde Baru, serta menjadi anggota parlemen. 

Meski begitu, jejaknya sebagai jurnalis tak pernah pudar. Pada 1984, Ani Idrus diangkat sebagai Penasihat Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia. Ia juga tercatat sebagai salah satu dari 12 tokoh pers nasional yang menerima penghargaan Satya Penegak Pers Pancasila dari Menteri Penerangan saat itu, Harmoko.

Setelah era reformasi bergulir, tepat pada 9 Januari 1999, Ani Idrus meninggal dunia di usia 80 tahun dan dimakamkan di Medan, Sumatera Utara. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan di beberapa daerah di Indonesia, serta menjadi gambar perangko RI edisi 2004. []

Fitri Nurajizah
Fitri Nurajizah
Fitri Nurajizah, lebih senang dipanggil Fitri aja. Senang berkegiatan di alam, terutama hutan & gunung. Sehari-hari aktif bekerja di Media Mubadalah.id dan sedang menjadi sahabat teman-teman Program Beasiswa Sarjana Ulama Perempuan Indonesia (SUPI) ISIF menulis. Jika ingin lebih dekat, bisa disapa di akun Instagram @fitri-nurajizah

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here