Thursday, October 15, 2026

Menenun Kesetaraan dan Perdamaian dari Perjumpaan Pemuda Lintas Iman se-Asia di Tanah Cirebon

Perjalanan selama enam hari di Cirebon pada 6 hingga 11 September 2026 lalu menyisakan ruang refleksi yang begitu mendalam. Dalam agenda Regional Learning Exchange yang diselenggarakan atas kolaborasi AMAN Indonesia, ALL Forum, Yayasan Fahmina, dan KUPI, saya berkesempatan belajar bersama puluhan pemuda, ulama perempuan, akademisi, hingga penggerak komunitas dari berbagai daerah dan kawasan se-Asia.

Kami hadir membawa keberagaman latar belakang budaya, tradisi, dan keyakinan untuk mendiskusikan satu cita-cita bersama. Tentang upaya membangun nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan yang mampu menjadi pondasi dalam mewujudkan kesetaraan gender, menghargai perbedaan, serta merawat toleransi.

Sejak hari pertama, forum ini tidak dirancang sekadar sebagai ruang penyampaian teori yang kaku di atas kertas. Lebih dari itu, seluruh rangkaian kegiatan menjadi ruang aman untuk saling menumpahkan pengalaman hidup, berbagi cerita perjuangan di lapangan, hingga menggali gagasan kritis tentang pentingnya membangun tatanan masyarakat yang adil dan inklusif bagi semua kelompok. Kami tidak hanya berkumpul untuk bertukar ide, tetapi juga diajak untuk merefleksikan kembali peran kita masing-masing sebagai pemuda dalam merawat perdamaian di lingkungan tempat kita tinggal.

Momen yang paling membekas bagi saya adalah ketika kami mendiskusikan prinsip mubadalah atau kesalingan. Selama ini, pemikiran kaku dan bias patriarki kerap kali menempatkan perempuan pada posisi yang tidak setara, dianggap sekadar objek, atau bahkan rentan mengalami berbagai bentuk ketidakadilan. Lewat pertukaran gagasan yang mendalam, kami diajak menyadari kembali bahwa setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan memiliki kedudukan yang setara sebagai subjek yang bermartabat. Relasi yang adil tidak dibangun atas dasar dominasi satu pihak, melainkan di atas rasa saling menghormati, menguatkan, dan melengkapi satu sama lain.

Proses pembelajaran yang kaya ini kian terasa lengkap ketika kami melangkah keluar ruangan untuk membaca realitas sosial dan sejarah secara langsung. Kami diajak menelusuri sudut-sudut bersejarah di Cirebon, seperti Keraton Kasepuhan dan Goa Sunyaragi. Berdiri di antara kemegahan arsitektur masa lalu, ada kesadaran yang menyeruak bahwa Cirebon sejak ratusan tahun lalu telah menjadi simpul perjumpaan dan silang budaya dari berbagai tradisi. Keterbukaan untuk saling menyapa antar budaya ini menjadi cermin bahwa ruang dialog sebenarnya sudah lama dihidupkan oleh generasi terdahulu.

Kehangatan perjumpaan itu berlanjut di meja makan saat kami menikmati ragam kuliner khas Cirebon bersama-sama; Nasi Jamblang dan Empal Gentong. Di sela-sela santap siang, sekat-sekat perbedaan asal daerah, bahasa, dan latar belakang keyakinan perlahan mencair. Obrolan ringan tentang tradisi daerah masing-masing, canda tawa, serta kebersamaan dalam menikmati hidangan menjadi jembatan sederhana yang meruntuhkan tembok kecanggungan. Dari momen sederhana ini, tumbuh pemahaman berharga bahwa rasa persaudaraan yang sejati sering kali bermula dari ruang perjumpaan yang jujur, santai, dan penuh kehangatan.

Inspirasi yang tak kalah menyentuh hadir saat kami berkunjung langsung ke Pesantren KHAS Kempek dan Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy. Jika dalam catatan sejarah dan kultur pesantren yang masih patriarkis menempatkan peran perempuan seringkali terpinggirkan atau sebatas disandingkan sebagai pendamping, di pesantren ini kami menyaksikan realitas yang berbeda. Para pengasuh pesantren yang merupakan ulama perempuan tampil nyata sebagai sosok pemimpin yang tangguh dan berwibawa.

Ibu Nyai Masriyah Amva, Ibu Nyai Tho’atillah Ja’far, dan Ibu Nyai Awanillah Amva, tidak hanya telaten membimbing ribuan santri, tetapi juga secara aktif mendobrak stigma patriarki, mengadvokasi hak-hak perempuan, mencegah kekerasan, dan membela kelompok rentan dari balik tembok pesantren. Model kepemimpinan yang progresif ini membuktikan bahwa ulama perempuan memiliki otoritas penuh untuk mendefinisikan ulang sejarah dan budaya yang membawa nilai keagamaan yang responsif atas persoalan zaman.

Melalui pendekatan dialog yang aman dan terstruktur, seluruh peserta diberikan kesempatan yang setara untuk menceritakan pengalaman pendampingan masyarakat di daerahnya masing-masing. Kami belajar untuk mendengarkan kisah orang lain bukan sekadar untuk membalas argumen, melainkan untuk sungguh-sungguh memahami.

Dari tradisi saling mendengarkan secara aktif ini, tumbuh kesadaran bahwa benih prasangka dan salah paham seringkali muncul. Bukan karena adanya perbedaan prinsip yang mendasar, melainkan karena minimnya ruang perjumpaan untuk saling mengenal satu sama lain secara nyatanya, bukan katanya.

Rangkaian perjalanan di Cirebon ini menyadarkan saya bahwa membangun masyarakat yang adil ibarat sebuah rombongan yang sedang berjalan bersama mencapai tujuan. Setiap komponen dan setiap orang memiliki peran serta arti pentingnya masing-masing. Kita harus saling berpegangan tangan, menguatkan yang lemah, dan memastikan tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang tertindas, terabaikan, atau tertinggal.

Pulang dari agenda ini, ada nyala semangat baru yang terus bergerak di dalam dada. Ini adalah sebuah komitmen untuk terus mempraktikkan ilmu dan hikmah yang didapat. Menjadi pribadi yang lebih terbuka, mau mendengarkan secara aktif, menyuarakan kesetaraan gender, serta merawat ruang-ruang perjumpaan lintas iman yang damai dan inklusif di mana pun berada.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha