Tuesday, September 29, 2026

Bhinneka Tunggal Ika dan Pemikiran Husein Muhammad: Keberagaman sebagai Keniscayaan

Hidup dengan berbagai orang dengan keberagamannya bukanlah menjadi sesuatu yang baru bagiku, atau bagi masyarakat Indonesia dengan semboyannya “Bhineka Tunggal Ika”. Keberagaman yang dulunya menjadi kekuatan bagi rakyat dan negara Indonesia, sekarang menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan lebih keras lagi karena meningkatnya intoleransi dan pandangan bahwa keberagaman adalah ancaman.

Bulan Agustus lalu, adikku bercerita tentang pengalaman temannya, Mia, seorang kristiani yang mengalami intoleransi beragama. Pada suatu ketika, seseorang yang baru dikenal Mia mengetahui bahwa Mia beragama Kristen. Lalu ia berkata, “Ini bencana alam yang terjadi karena orang sepertimu (tidak beragama Islam)”. Mia kaget mencerna kalimat-kalimat itu.

Tuduhan ini adalah bentuk intoleransi dalam beragama. Saya tidak bisa membayangkan ketika saya mengalami hal yang sama, betapa hancurnya hati saya dan pikiran saya akan dipenuhi hal-hal negatif setelahnya. Padahal, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya bencana alam di Indonesia. Menyalahkan orang lain karena berbeda agama dan keyakinan dengan kita adalah suatu kejahatan dan tidak manusiawi menurut saya.

Mendengar cerita adik itu, saya kemudian mengingat bagaimana keberagaman adalah suatu hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari terutama ketika saya masih di bangku seolah. Saat saya SMP, saya berteman dengan siapapun tanpa memandang apa agamanya. Sebagai remaja SMP pada saat itu, saya juga memiliki geng. Kami cukup beragam dalam latar belakang keluarga, agama, etnis dan budaya.

Saya memiliki bestie yang beragama Islam, Katolik, dan Protestan saat itu, dan pertemanan kami berjalan dengan baik di antara berbagai keberagaman yang melekat pada identitas dan diri kami. Kami saling memberikan ucapan dan berkunjung saat hari-hari besar keagamaan masing-masing. Perbedaan agama kami justru menjadi praktik toleransi dan menjaga kedamaian dalam kehidupan sehari-hari sebagai suatu keniscayaan.

Kata Buya Husein Muhammad, “Mengharapkan semua orang senang dengan pikiranmu adalah utopis. Keragaman pikiran adalah keniscayaan yang indah”. Saya mengamini pemikiran Buya Husein ini. 

Bagi saya, keberagaman dan perbedaan adalah suatu hal yang pasti terjadi, dan setiap manusia tidak perlu sama atau seragam untuk hidup damai. Menerima bahwa keberagaman sebagai realitas membuat kita sebagai manusia dapat mempraktikkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan dengan lebih mudah.

Semakin dewasa, saya tidak hanya memahami bahwa sejatinya manusia dilahirkan berbeda-beda dan bukan tugas manusia untuk menghakimi pilihan orang lain yang berbeda dengan kita. Saya semakin bisa melihat lapis-lapis keberagaman identitas, pengalaman dan pengetahuan dengan lebih baik.

Sebagai perempuan yang beragama Islam, dengan budaya dan tinggal di Jawa, saya memahami bahwa selama ini saya cukup nyaman menjadi mayoritas di Indonesia. Pernah suatu ketika, saya bergabung dalam suatu forum, di mana saya menjadi satu-satunya yang beragama Islam dan menggunakan hijab, saya merasa tidak nyaman dan tidak aman menjadi minoritas secara jumlah. Itu satu momen yang membuat saya lebih berempati pada perbedaan, dan lebih menerima keberagaman sebagai suatu anugerah dan ruang untuk saling memahami. 

Menurut Buya Husein, minoritas bukan hanya bermakna sedikit dalam jumlah tetapi juga bermakna mereka yang tersubordinasi, terdiskriminasi, termarjinalisasi atau tak dianggap ada. Lagi-lagi, saya mengamini pemikiran Buya Husein ini. Menjadi minoritas dapat berupa secara jumlah, dapat berupa perasaan teraliensi dari diri sendiri atau suatu kelompok, dan bentuk ketidakadilan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Pandangan tersebut juga relevan dengan kerangka berpikir interseksionalitas yang dicetuskan oleh Kimberlé Crenshaw. Kerangka ini dapat digunakan untuk melihat dan menganalisa lebih dalam bagaimana identitas seseorang — seperti ras, gender, bahasa, kelas sosial, usia, warna kulit, dan seksualitas — dapat mempengaruhi penindasan dan privilese yang akan mereka dapatkan. 

Semakin banyak privilese yang dimiliki seseorang, semakin dekat ia dengan kekuasaan dan sumber daya. Semakin banyak lapis-lapis kerentanan dan penindasan pada seseorang, semakin jauh mereka dari keadilan. 

Jika kita tidak memahami dinamika ini, kita akan melihat penindasan dan privilese dalam perspektif biner atau hitam-putih saja. Sehingga akan lebih mudah saling menyalahkan atau mendominasi orang lain.

Menempatkan keberagaman beragama dalam kerangka interseksionalitas, membuat saya melihat lebih banyak kelindan dan lapis-lapis identitas seperti warna-warni dalam pelangi. Bukan sebagai garis-garis yang saling membatasi dan menutup diri karena menggunakan lensa hitam-putih saja.

Wanda Roxanne Ratu Pricillia
Wanda Roxanne Ratu Pricillia
Berasal dari kabupaten Jember, Jawa Timur dan sekarang tinggal di Jakarta Selatan. Ia lulus S1 Psikologi di Universitas Airlangga dan S2 Kajian Gender di Universitas Indonesia. Wanda membentuk kelas pengembangan diri yaitu Puzzle Diri (@puzzlediri) dan platform gender yaitu Cerita Kubi (@ceritakubi). Saat ini ia Koordinator Program, Dokumentasi dan Media di Perhimpunan Rahima. Aktif di komunitas Puan Menulis (@puanmenulis). Wanda menulis di media mubadalah.id, KumparanPlus, dll. Wanda menerbitkan buku pertamanya pada 2021 berjudul Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah. Wanda bisa disapa melalui Instagramnya @wandaroxanne dan email wandaroxanne@gmail.com

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha