Membentuk perdamaian bisa dilakukan dengan menggunakan dialog, saling menghormati, saling menghargai hingga saling mengerti. All Forum dan AMAN Indonesia dengan kolaborasi bersama Fahmina, KUPI dan Woori Theology Institute melaksanakan kegiatan pertukaran pembelajaran antara kelompok Muslim dan Katolik se-Asia melalui program Regional Exchange Learning bertemakan “Turning the Tide: Christian and Muslim Youth & Women Building Peace in Asia Commemorating the 25th Anniversary of 9/11: From Hostility to Human Progress” yang dilakukan di Cirebon, Indonesia, 6–11 September 2026.
Dalam forum tersebut, dibahas berbagai topik mengenai pembangunan ruang aman untuk berdialog, pluralisme, keadilan gender, feminisme Islam, Islam progresif, kepemimpinan perempuan, serta keimanan dan kepemimpinan pemuda untuk perdamaian. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memperkuat kepemimpinan dan kapasitas generasi muda serta perempuan Muslim dan Katolik dalam mendorong perdamaian, demokrasi, kesetaraan gender, dan inklusi sosial.
Selama mengikuti rangkaian acara, sesi kedua bersama Dr. Nur Rofiah dan Siti Rofiah, M.H., yang membahas mengenai feminisme Islam, keadilan gender, dan demokrasi inklusif menjadi salah satu sesi yang sangat menarik untuk dikaji. Hal yang paling berkesan adalah analogi yang disampaikan oleh Siti Rofiah, M.H. mengenai “demokrasi meja makan dan sepeda roda dua”, yang kemudian memunculkan sebuah pertanyaan penting: apakah kesetaraan gender hanya persoalan kebijakan, atau justru harus dimulai dari kehidupan sehari-hari?
Demokrasi Dimulai dari Meja Makan
Apa yang ada di atas meja makan dianggap sebagai pekerjaan perempuan. Dimulai dari memasak, mencuci piring, hingga merawat anak yang seringkali tidak dibayar dan tidak terlihat nilainya. Sementara pekerjaan laki-laki lebih mudah dianggap sebagai pekerjaan profesional atau pekerjaan yang memiliki nilai ekonomi.
Siti Rofiah, M.H. menjelaskan, “Jika anak perempuan belajar bahwa peran utamanya adalah melayani, sementara anak laki-laki belajar bahwa peran utamanya adalah memutuskan, maka sejak dari rumah kita sudah mengajarkan ketidaksetaraan.” Dengan kata lain, beliau memperlihatkan bagaimana ketidaksetaraan muncul dari rumah jika stigma itu masih berlaku.
Bayangkan sebuah meja makan, ia merupakan tempat keluarga berinteraksi. Dari momen ini, hal-hal kecil diputuskan mengenai siapa yang harus mendengarkan, siapa yang harus berbicara, siapa yang menentukan arah keluarga, siapa yang menentukan pendidikan anak dan siapa yang berhak mengontrol keuangan keluarga.
Dari meja makan, anak belajar tentang kesetaraan, cara mendengarkan, cara bernegosiasi, dan cara berbagi kesempatan untuk mengambil keputusan bahkan sebelum mereka memahami kata ‘demokrasi’. Karena itu, demokrasi dapat dikatakan dipraktikkan dari meja makan, bukan hanya di parlemen atau pada saat pemilu. Demokrasi bisa berarti berbagi kekuatan, pandangan, suara, dan tanggung jawab.
Analogi Sepeda Roda Dua, Memaknai Ulang Relasi Laki-laki dan Perempuan
Selain analogi meja makan yang dijelaskan, Siti Rofiah, M.H., beliau juga memberikan analogi laki-laki dan perempuan seperti dua roda yang digunakan dalam sepeda. Beliau menjelaskan demokrasi dengan cara yang sederhana: “Bayangkan sebuah sepeda. Jika salah satu rodanya bagus, sedangkan roda lainnya kempis, apa yang terjadi? Sepeda masih mungkin bergerak, tetapi akan sangat sulit.”
Laki-laki dan perempuan dapat memiliki pengalaman dan perlakuan yang berbeda. Ketika laki-laki dapat berpartisipasi sementara perempuan diabaikan atau dibungkam, masyarakat seperti sepeda dengan satu roda yang kempis. Karena itu, demokrasi bukan hanya soal pemilu. Demokrasi juga tentang bagaimana memastikan kedua roda dapat berfungsi sehingga kita dapat bergerak bersama.
Dua roda tersebut dapat digunakan sebagai simbol laki-laki dan perempuan. Ketika keduanya dapat bekerjasama dengan baik, masyarakat dapat bergerak maju. Ketika salah satu roda tidak berfungsi, perjalanan menjadi tidak seimbang. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat tempat laki-laki dan perempuan dapat menjadi manusia utuh dan subjek penuh dalam kehidupan. Kita membutuhkan kedua roda yang fungsinya sama.
Foto: AMAN Indonesia
Islam dan Kesetaraan dalam Kemanusiaan
Pada pemaparan materi yang lain, Dr. Nur Rofiah menjelaskan mengenai kesetaraan dalam kemanusiaan dari perspektif Islam. Dalam konteks tersebut, Islam menyatakan bahwa manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan yang memiliki status yang sama sebagai hamba Allah.
Selain itu, nilai manusia tidak semata-mata ditentukan oleh jenis kelamin, tetapi oleh takwa. Seorang perempuan yang bertakwa dapat memiliki nilai yang lebih tinggi daripada laki-laki yang tidak bertakwa. Begitupun sebaliknya. Jadi, standar nilai bukanlah jenis kelamin, melainkan ketakwaan.
Karena status tersebut, semua manusia merupakan subjek utama dan subjek penuh. Tidak ada manusia yang diposisikan sebagai objek. Karena laki-laki dan perempuan merupakan subjek penuh, laki-laki bukan standar tunggal bagi kemanusiaan perempuan. Demikian pula pengalaman perempuan tidak dapat begitu saja diukur hanya berdasarkan pengalaman laki-laki. Manusia merupakan makhluk intelektual karena memiliki pikiran, makhluk spiritual karena memiliki intuisi serta kesadaran batin, dan makhluk sosial karena memiliki kebutuhan untuk berinteraksi, menjalin hubungan, dan hidup bersama orang lain. Karena itu, laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki pengalaman yang valid. Keduanya dapat menjadi sumber pengetahuan dalam merumuskan kebaikan bersama sebagai tujuan ajaran Islam.
Mengikuti Regional Learning Exchange ini mengubah cara saya melihat hubungan antara keluarga, agama, gender, dan demokrasi.Melalui pembahasan mengenai demokrasi di meja makan, saya mulai memahami bahwa demokrasi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Demokrasi dapat terlihat dari cara kita berbicara, mendengarkan, mengambil keputusan, dan berbagi tanggung jawab dengan orang-orang di sekitar kita.
Bagi saya, laki-laki dan perempuan sebagai manusia yang sama-sama memiliki suara, pengalaman, kemampuan, dan tanggung jawab. Sebab, jika kesetaraan hanya berhenti pada gagasan, tetapi tidak hadir dalam hubungan sehari-hari, maka perubahan yang kita harapkan akan sulit terwujud.
Dalam perspektif ini, keadilan gender bukan semata-mata persoalan perempuan, tetapi merupakan bagian dari persoalan kemanusiaan. Ketika seseorang diperlakukan hanya sebagai objek atau suaranya dianggap tidak penting, maka yang dipertaruhkan bukan hanya persoalan gender, tetapi juga penghormatan terhadap martabat manusia.







