Tuesday, September 22, 2026

Belajar Perdamaian dari Sebuah Perjumpaan Kelompok Muslim-Katolik se-Asia di Cirebon

Berangkat dari lingkungan yang cukup homogen, membuat saya tidak begitu mengenal perbedaan secara langsung. Saya hanya sekadar tahu dan memahami bahwa sebagai manusia, kita perlu memiliki rasa toleransi. Namun, pemahaman itu sebelumnya lebih banyak berhenti sebagai sebuah pengetahuan. Saya belum benar-benar mengalami bagaimana rasanya bertemu, berbicara, dan hidup berdampingan dengan orang-orang yang memiliki keyakinan dan latar belakang yang berbeda.

Melalui SAK (Sekolah Agama dan Kepercayaan) angkatan kedua bagi kaum muda yang diselenggarakan oleh Yayasan Fahmina pada Juli-Agustus tahun 2025 lalu, saya menemukan gerbang pertama untuk mengenal toleransi secara lebih nyata. Saya mulai mempunyai teman dengan keyakinan yang berbeda, mengunjungi tempat ibadah agama lain, dan berdialog secara langsung dengan tokoh-tokoh agama. 

Bagi saya, pengalaman tersebut bukan sekadar kegiatan, tetapi sebuah proses untuk membuka perspektif yang selama ini hanya saya simpan dalam benak saya. Beberapa prasangka yang sebelumnya mungkin tumbuh dari ketidaktahuan perlahan mulai menemukan jawabannya melalui perjumpaan.

Pengalaman itu kemudian berlanjut melalui Camping Raya Lintas Iman yang juga diselenggarakan oleh Yayasan Fahmina pada November 2025. Tidur dalam satu tenda dengan orang yang berbeda keyakinan, makan bersama, berbagi cerita, dan melakukan berbagai kegiatan bersama dalam suasana penuh toleransi semakin menyadarkan saya bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. 

Tuhan menciptakan manusia dalam keberagaman tentu bukan tanpa alasan. Dari sana saya belajar bahwa rahmat dan kasih sayang Tuhan tidak terbatas hanya kepada satu kelompok atau satu pemeluk agama, tetapi hadir bagi seluruh manusia yang diciptakan-Nya pun alam semesta.

Berbagai pengalaman tersebut akhirnya membawa saya mengikuti kegiatan Regional Learning Exchange bertajukTurning the Tide: Christian and Muslim Youth & Women Building Peace in Asia yang diselenggarakan oleh AMAN Indonesia, ALL Forum, Yayasan Fahmina, dan KUPI pada tanggal 6-11 September 2026, sebagai delegasi dari Jaringan Muda Fahmina. Kegiatan ini kembali membuka cakrawala baru bagi saya. Jika sebelumnya saya belajar tentang toleransi melalui perjumpaan sederhana, dalam Regional Learning Exchange ini,  saya diajak melihat perdamaian dari perspektif yang lebih luas dan mendalam.

Mengenal Perdamaian dan Kepemimpinan Perempuan dari Sejarah Cirebon dan Interaksi Selama PerjalananAda banyak hal yang saya pelajari selama program tersebut. Namun, dua hal yang paling melekat bagi saya adalah dialog dan membangun kedekatan dengan semua orang yang terlibat. Menariknya, kegiatan ini tidak langsung dimulai dengan sesi materi seperti yang biasanya saya temui dalam sebuah pelatihan. 

Kesan pertama saya dalam kegiatan ini dimulai ketika para peserta diajak mengikuti field trip. Kami berkeliling Kota Cirebon untuk mengenal lebih dekat mengenai akulturasi budaya, sejarah, dan keberagaman, seperti Keraton Kasepuhan dan Goa Sunyaragi, serta mencicipi nasi jamblang yang menjadi salah satu kuliner khas Cirebon.

Kunjungan tersebut membuat saya melihat sejarah dari perspektif yang berbeda, terutama mengenai perempuan. Di Keraton Kasepuhan saya belajar bahwa perempuan ternyata memiliki peran penting dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, sosial, dan pemerintahan. 

Perempuan tidak selalu hanya menjadi bayang-bayang laki-laki dalam perjalanan sejarah. Sejarah tidak hanya berbicara tentang siapa yang berkuasa, tetapi juga tentang siapa yang memberikan kontribusi dan bagaimana kontribusi tersebut dicatat, diwariskan, atau bahkan dilupakan.

Destinasi selanjutnya, kami mengunjungi Goa Sunyaragi. Sunyaragi sendiri berasal dari kata “sunya” yang berarti sepi dan “ragi” yang berarti raga/tubuh. Di Goa Sunyaragi,saya mendapatkan ruang untuk merefleksikan makna kedamaian dari sisi yang lebih personal. Saya menyadari bahwa perdamaian tidak hanya dibangun melalui hubungan yang baik dengan orang lain, tetapi juga melalui kemampuan untuk berdamai dengan diri sendiri. 

Sebelum belajar memahami orang lain, mungkin kita juga perlu belajar memahami diri sendiri—tentang apa yang kita percaya, apa yang kita takutkan, dan prasangka apa yang tanpa sadar kita simpan.Selain kegiatan field trip, kami juga membahas berbagai isu seperti interfaith dialogue, pluralism, gender justice, dan bagaimana seharusnya perbedaan tidak selalu dilihat sebagai ancaman. 

Saya belajar bahwa dialog bukan sekadar mengutarakan pendapat. Dialog juga berarti mau mendengarkan, menjelaskan, memahami, dan bekerjasama, meskipun pada akhirnya kita tidak selalu memiliki pandangan yang sama.

Mengapa Dialog Menjadi Begitu Penting? 

Banyak konflik berawal dari prasangka, asumsi, dan stereotipe. Ketika seseorang tidak pernah berinteraksi secara langsung dengan orang yang berbeda agama, suku, budaya, atau bahasa, ruang untuk kesalahpahaman menjadi semakin besar. 

Melalui kegiatan Regional Learning Exchange, saya melihat bahwa perjumpaan langsung dapat mengubah cara kita memandang orang lain. Kita tidak lagi melihat mereka hanya sebagai bagian dari sebuah kelompok, tetapi sebagai manusia dengan cerita, pengalaman, dan kehidupan yang juga layak untuk dipahami.

Dari kegiatan ini pula, saya menyadari bahwa kita semua memiliki peran dalam membangun perdamaian. Perdamaian bukan hanya tanggung jawab tokoh agama, penggerak lintas iman, pemerintah, atau organisasi tertentu. Setiap orang dapat mengambil bagian dengan caranya masing-masing.

Saya teringat sesi Women Leadership in Religious Institution: Learning from Kebon Jambu dan Ma’had Aly. Di sana kami disambut oleh Nyai Masriyah Amva yang merupakan seorang pemimpin perempuan, ia memberikan perspektif penting bagi saya. 

Dari beliau saya belajar bahwa perempuan tidak seharusnya hanya menjadi objek dalam pembicaraan agama. Perempuan juga memiliki pengalaman, pengetahuan, dan suara yang penting dalam proses pengambilan keputusan. 

Hal ini semakin relevan ketika kami membahas peran perempuan dalam peacebuilding dan Reflective Structured Dialogue (RSD) yang disampaikan oleh Yeni Lutfiana: community organizer of AMAN Indonesia. Yeni menyampaikan bahwa perempuan dapat menjadi penggerak komunitas, fasilitator, penghubung antar kelompok, dan sekaligus orang yang membantu proses pemulihan dalam komunitas.

Saya kemudian memahami bahwa kepemimpinan tidak selalu berada di posisi paling tinggi atau menjadi orang yang paling banyak berbicara. Terkadang, kepemimpinan justru hadir dalam kemampuan untuk mendengarkan, bersikap empati, membuka ruang untuk orang-orang yang berbeda, dan menciptakan ruang yang aman bagi orang lain.

Membawa Pembelajaran ke Ruang Nyata

Setelah mengikuti kegiatan tersebut. Ilmu yang saya dapatkan tidak harus diterapkan pada hal-hal besar. Saya ingin memulainya dari ruang yang paling dekat, yaitu diri saya sendiri. Saya tidak harus menunggu berada dalam organisasi besar, saya bisa memulainya dari keluarga, kampus, pesantren, maupun komunitas.

Bahkan perbedaan pendapat di dalam keluarga dapat menjadi ruang kecil untuk belajar berdialog. Tidak selalu harus membalas dengan emosi atau memaksakan pendapat. Terkadang, berbicara dengan lebih sopan dan mau mendengarkan alasan orang lain sudah menjadi langkah awal untuk menciptakan kedamaian.

Semua Orang Bisa Menjadi Penggerak Perdamaian

Saya menyadari bahwa hal terpenting dari sebuah kegiatan bukan hanya seberapa banyak materi yang kita bawa pulang, tetapi seberapa jauh pengalaman tersebut mampu mengubah cara kita melihat dan memperlakukan orang lain. Karena itu, saya ingin memulainya dari hal yang paling sederhana yaitu keluarga. 

Saya ingin belajar memahami perbedaan pendapat, lebih terbuka terhadap keberagaman, tidak terburu-buru memberikan penilaian, berani berdialog dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda, dan menciptakan ruang yang lebih inklusif di lingkungan saya.

Pada akhirnya, pengalaman selama Regional Learning Exchange mengajarkan saya bahwa perdamaian bukan sesuatu yang hanya dibicarakan dalam forum atau dituliskan dalam sebuah dokumen. Perdamaian tumbuh dari perjumpaan, percakapan, refleksi, dan tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

 

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha