Saturday, August 22, 2026

Tangerang Read A Loud: Pentingnya Literasi pada Anak untuk Mencegah Kekerasan (Bagian 1)

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

“Kami bermimpi setiap rumah di Indonesia dipenuhi oleh buku-buku yang membangun kegembiraan dan kecintaan pada membaca. Kami ingin melihat anak-anak — dan orang dewasa — membaca bukan karena kewajiban, tapi karena merasa perlu dan menikmati prosesnya,” – Rika Yudani, salah satu pendiri Tangerang Read A Loud.

Di tengah tantangan rendahnya minat baca, ketimpangan akses literasi, dan maraknya kekerasan verbal di ruang publik dan domestik, ada sekelompok perempuan di pinggiran Jakarta yang percaya bahwa literasi bisa menjadi salah satu cara membangun perdamaian sebagai bagian dari pencegahan kekerasan. Mereka adalah bagian dari komunitas Tangerang Read A Loud (TRA), sebuah gerakan membaca nyaring yang bertumbuh dari akar rumput. 

Lewat kegiatan sederhana membacakan buku dengan suara lantang, mereka menghadirkan ruang aman bagi anak-anak untuk tumbuh, berpikir, dan bermimpi. Mereka tidak hanya mengajarkan anak-anak mengeja huruf atau menyimak cerita, tetapi juga menanamkan empati, toleransi, dan nilai-nilai kemanusiaan, yang sangat penting di tengah dunia yang kerap dipenuhi ujaran kebencian dan ketidakpedulian.

 

Awal yang Sederhana, Dampak yang Meluas

Penulis mewawancarai Rika Yudani, salah satu pendiri TRA. Rika menceritakan tentang awal mula terbentuknya TRA ketika bertemu dengan Ahliana Afifati Sani dan Hayati Amaliah yang sama-sama punya keinginan supaya anak-anak tumbuh menjadi pembaca dan mencintai buku. Mereka bertiga percaya bahwa membacakan buku adalah salah satu kunci penting. Sehingga pada tahun 2021, mereka mengadakan pelatihan read aloud secara sederhana. Lalu, pada Februari 2022, bertepatan dengan Hari Membaca Nyaring Sedunia, TRA lahir. 

Rika juga mempunyai kegelisahan awal yang cukup sederhana, tapi nyata: buku menjadi benda langka di rumah. Ditemukan fakta bahwa ternyata banyak orang tua tidak terbiasa membacakan buku untuk anak-anak mereka sehingga anak-anak tidak mengenal buku cerita yang berkualitas. Sehingga, sayangnya, pertama kali anak mengenal membaca justru datang dari buku pelajaran. 

“Aku tumbuh besar dengan tumpukan buku dan orang tua yang rajin membacakan buku. Anak yang mengenal membaca dari buku pelajaran akan terasa berat, terpaksa, dan penuh tekanan. Membaca pun akhirnya dianggap sebagai kewajiban, bukan sesuatu yang menggembirakan. Dari situ, kecintaan terhadap buku sulit tumbuh,” tambah Rika.

Berawal dari mimpi, pendiri TRA memulai dari nol, karena tidak ada yang benar-benar memiliki latar belakang pendidikan literasi. Hal yang menyatukan mereka adalah energi dan mimpi yang sama yaitu ingin anak-anak tumbuh mencintai membaca. Dan mereka percaya, semua itu bisa terwujud jika dimulai dari rumah, dengan dukungan orang tua.

“Kami ingin menyebarkan kegembiraan membaca, kami ingin menjadi wadah belajar dan berbagi bagi siapa saja, terkait buku dan kegiatan membaca. Bersama dengan tumbuhnya kami, sebenarnya tumbuh pula komunitas-komunitas lain, dan menurutku, kami saling menyemangati dan menginspirasi,” ujar Rika.

 

Membaca untuk Perdamaian: Bukan Sekadar Literasi Fungsional

TRA memandang perdamaian dan keberagaman sebagai aspek penting dan pondasi dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Lewat aktivitas read aloud, TRA berusaha membangun ruang yang aman dan inklusif untuk semua orang, tanpa memandang latar belakang, budaya, atau identitas. Dan hal ini perlu diperkenalkan pada anak-anak sedini mungkin, dengan cara yang paling sesuai bagi mereka. Salah satunya melalui buku.

Buku yang dipilih untuk dibacakan pada kegiatan TRA atau direkomendasikan selalu dipastikan sudah melalui proses kurasi, agar memiliki nilai toleransi, empati, dan inklusif. TRA juga mendorong orang tua untuk menyediakan sebanyak mungkin buku-buku yang berkualitas baik dari segi cerita, ilustrasi, serta nilai yang disampaikan. Keberagaman ini bisa ditunjukkan dari hal sesederhana seperti pemilihan karakter anak yang beragam, berambut keriting, berkulit gelap, memakai kacamata, menggunakan kursi roda, anak-anak difabel atau neurodivergent. 

“Anak-anak memerlukan contoh dan dukungan positif pada isu perdamaian dan keberagaman, dan buku cerita merupakan salah satu media terbaik untuk membantu mereka. Sehingga, semoga, mereka kelak tumbuh menjadi pribadi yang lebih terbuka, penuh empati, dan mampu hidup berdampingan dengan damai,” tambah Rika.

 

Ruang Dialog yang Inklusif di TRA

Bagi TRA, dialog identitas tidak harus terjadi dalam suasana formal. Justru, dalam percakapan sederhana saat membacakan cerita dan mengobrol dengan anak-anak tentang isi buku yang dibaca bersama, bisa sekaligus menanamkan keberagaman pada anak. Buku-buku yang mengangkat keberagaman—cerita dari berbagai suku dan budaya di Indonesia, keyakinan yang berbeda, atau kehidupan yang mungkin terasa asing bagi anak—sangat efektif untuk menumbuhkan pemahaman dan penghargaan terhadap perbedaan.

Tak jarang, setelah sesi membaca, anak-anak diajak berdiskusi lewat pertanyaan seperti, “Apakah kamu pernah mengalami hal seperti ini?” atau “Kalau di keluargamu bagaimana?” Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ini membuat anak merasa dihargai, sekaligus memancing empati mereka. Di sisi lain, anak-anak yang berasal dari latar belakang budaya, agama, atau bahasa yang berbeda juga bisa melihat keberadaan mereka terwakili dalam tokoh-tokoh cerita yang dibacakan.

Dari situ, mereka belajar bahwa cara hidup orang bisa berbeda-beda—dan itu tidak masalah. Anak-anak mulai mengenal siapa diri mereka, sambil belajar menghargai orang lain yang tak selalu sama. Lewat kegiatan sesederhana membaca buku bersama, sering muncul obrolan hangat tentang keluarga, kebiasaan di rumah, bahasa daerah, hingga peran anak laki-laki dan perempuan. Percakapan-percakapan kecil ini, meski sederhana, membentuk kerangka berpikir anak tentang bagaimana bersikap dalam masyarakat yang majemuk.

Rika bercerita bahwa bagi TRA, membacakan nyaring bukan sekadar mengenalkan kata atau cerita, tapi juga menciptakan ruang yang nyaman, di mana anak-anak dan keluarga bisa bicara tentang diri mereka, sambil mengenal dunia orang lain dengan cara yang hangat dan menyenangkan.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha