Thursday, May 21, 2026

Rima Hassan: Potret Partisipasi Perempuan Aktivis Kamanusiaan Palestina dari Parlemen Eropa

Saat pertama kali mendengar Rima Hassan, bayangan saya menuju pada penculikan 12 aktivis kemanusiaan di kapal MV Madleen saat memasuki perairan Gaza oleh tentara Israel sekitar bulan Juni 2025.  Rima Hassan menjadi satu dari tiga perempuan yang tergabung dalam tim kemanusiaan untuk memberikan bantuan logistik kemanusiaan terhadap masyarakat Palestina. 

Kapal MV Madleen bertolak dari Pelabuhan Catania di selatan Italia, Minggu (1/6/2025) sore waktu setempat dengan membawa obat-obatan, makanan, dan peralatan medis. Tanggal 9 Juni 2025, kapal MV Madleen berisikan 12 aktivis kemanusiaan mendekat ke perairan Gaza pukul 01.17 waktu setempat. Tepat pukul 02.00, tentara-tentara Israel menghentikan dan membajak kapal MV Madleen dengan menyekap seluruh aktivis yang ada. 

Israel telah menyiapkan pasukan elit angkatan laut Shayetet 13 untuk menyerbu dan mengambil alih kapal layar Madleen di perairan internasional. FFC atau Freedom Flotilla Coalition—koalisi internasional yang terbentuk dengan tujuan menyediakan bantuan kemanusiaan kepada warga Gaza— dalam unggahannya di telegram (9/06) memperlihatkan bahwa seluruh aktivis duduk dalam kapal menggunakan jaket pelampung dan mengangkat tangan ke atas.  Menurut laporan dari Al-Jazeera, seluruh kru dalam kapal memaksa agar seluruh akses telepon dan internet tetap mati. Ketika kapal bantuan untuk Gaza berhenti karena militer Israel.

Penculikan ke-12 aktivis kemanusiaan tersebut sangat memantik perhatian mata masyarakat dunia. Banyak masyarakat dunia yang mengutuk aksi tentara Israel yang sangat brutal dan membahayakan bagi ke-12 aktivis. Terlebih, terdapat tiga perempuan di dalam kapal itu, salah satunya ialah Rima Hassan (Aktivis Kemanusiaan).

 

Mengenal Rima Hassan: Perempuan Parlemen yang Lahir di di Kamp Pengungsi Neirab

Rima Hassan adalah seorang cendekiawan hukum dan aktivis hak asasi manusia berdarah Palestina-Prancis yang kini menjabat sebagai anggota Parlemen Eropa. Ia lahir pada 28 April 1992 di Suriah, berasal dari keluarga pengungsi Palestina yang terdampak peristiwa Nakba. 

Sejak kecil, ia hidup dalam keterbatasan dan ketidakpastian sebagai seseorang yang tidak memiliki kewarganegaraan. Masa kecilnya ia habiskan di kamp pengungsi Neirab di pinggiran kota Aleppo.

Pada usia sepuluh tahun, Rima berpindah ke Perancis bersama keluarganya melalui program reunifikasi. Kota Niort di Prancis barat menjadi tempatnya tumbuh dan memulai babak baru kehidupan. Ia memperoleh kewarganegaraan Perancis ketika berusia delapan belas tahun, suatu titik balik yang membuka banyak peluang dalam pendidikannya. 

Rima memilih untuk menekuni studi hukum dan melanjutkan hingga tingkat magister di bidang Hukum Internasional di Universitas Sorbonne, Paris-Perancis. Dalam studinya, ia menulis tesis mengenai apartheid di Afrika Selatan dan Israel, topik yang mencerminkan kepeduliannya terhadap kesetaraan dan kelompok rentan.

Kepedulian Rima terhadap isu-isu kemanusiaan tidak berhenti di ruang akademik. Pada tahun 2019, ia mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Refugee Camp Observatory. Lembaga ini berfokus pada penelitian dan penyebaran informasi mengenai kondisi kamp pengungsi di berbagai belahan dunia.

 

Menyuarakan Isu Kemanusiaan dari Bangku Parlemen

Di Parlemen Eropa, Rima terus menyuarakan pentingnya keadilan, kemanusiaan, dan solidaritas terhadap komunitas pengungsi dan masyarakat tertindas. Meski kerap menuai pujian, Rima juga tidak lepas dari kontroversi dan kritik publik. 

Sikap vokalnya dalam mengkritik kebijakan Israel telah memunculkan pertentangan dari berbagai pihak. Ia pernah dituduh menyuarakan antisemitisme, baik secara pribadi maupun sebagai bagian dari partainya, La France Insoumise (LFI). 

Pada Maret 2024, sebuah acara penghargaan “Women of the Year” dari Forbes France dibatalkan meskipun Rima telah terpilih sebagai salah satu dari 40 perempuan paling berpengaruh. Bukan karena prestasinya kurang, tetapi karena tekanan politik dan kritik dari tokoh publik seperti pembawa acara Arthur yang menuduhnya menyebarkan kebencian dan membela terorisme.

Tuduhan tersebut memuncak pada April, ketika Rima dan pemimpin LFI, Mathilde Panot, dipanggil polisi karena pernyataan partai mereka yang mengaitkan serangan Hamas dengan kebijakan pendudukan Israel. 

Rima kemudian memberikan klarifikasi bahwa pernyataannya telah disalahpahami. Ia menegaskan bahwa dirinya selalu mengkritik kekerasan dari kedua belah pihak, baik dari Hamas maupun dari Israel.

Selama masa kampanye, Rima mengalami tekanan besar di dunia maya. Ia menerima ancaman rasis dan seksis setiap hari. Namun, ia memilih untuk tidak diam. Ia mengajukan berbagai pengaduan dan mengambil langkah hukum untuk membela haknya sebagai warga negara dan tokoh publik. 

Pada Februari, lebih dari 500 tokoh politik menandatangani surat dukungan untuk Rima dan para pendukung Palestina lainnya. Mereka menyebut serangan terhadap Rima sebagai bentuk penganiayaan terhadap suara-suara kritis. Bahkan, muncul laporan bahwa tentara Israel pernah menuliskan namanya di sebuah bom, sesuatu yang memperlihatkan tingginya risiko yang dihadapi perempuan pembela HAM.

Dalam banyak pernyataannya, Rima menyoroti kesamaan antara perjuangan rakyat Palestina dan sejarah kolonial Perancis, khususnya di Aljazair. Ia mendorong masyarakat Perancis untuk tidak melupakan dan belajar sejarah mereka sendiri untuk lebih memahami identitasnya. 

Setelah terpilih sebagai anggota Parlemen Eropa, Rima berkomitmen menjadikan Gaza sebagai prioritas dalam pekerjaannya. Ia tidak melupakan akar keluarganya dan terus terhubung dengan kamp Neirab, tempat ayahnya masih tinggal

I was cuffed and the European Parliament remained silent
– Rima Hassan (Member of the European Parliament detained on the Gaza Flotilla)

 

.Referensi:

Margareth Ratih. F (2025). Profil Rima Hassan: Aktivis yang Memperjuangkan Pengakuan Palestina di Eropa. [online] Narasi Tv. Available at: https://narasi.tv/read/narasi-daily/profil-rima-hassan [Accessed 30 Jul. 2025].

Layyin Lala
Layyin Lala
Just a girl with a pen, a passion, and a purpose. Writing her heart out, one word at a time.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha