Friday, July 12, 2024
spot_img
HomeOpiniSingkawang Kota Toleran: Belajar Toleransi dari Tjhai Chui Mie

Singkawang Kota Toleran: Belajar Toleransi dari Tjhai Chui Mie

Pada 30 Maret 2022 kemarin, SETARA Institute mengeluarkan hasil survei yang menunjukkan kota-kota toleran di Indonesia. Kota Singkawang menjadi kota paling toleran dengan skor akhir 6.483. Pencapaian ini tentu bukan hanya sembarang tetapi juga ada peran perempuan hebat yakni walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie.

Dia adalah Perempuan kelahiran Singkawang, 27 Februari 1972 ini pernah menjadi Ketua DPRD Kota Singkawang. Selain itu, semenjak SMP dirinya sudah aktif membantu orangtuanya yang menjadi Ketua RT. Baginya menjadi sebuah tantangan untuk hidup di Kawasan yang lebih banyak orang Tionghoa. Hal ini disebabkan sulitnya dan mahalnya mengurus dokumen- dokumen.

Hal menarik lainnya yaitu Chui Mie merupakan perempuan Tionghoa pertama yang menjadi kepala daerah. Tentu di era semakin maraknya isu rasisme hal ini bisa menjadi panutan untuk semakin membuka peluang pada semua etnis untuk berkontestasi di ranah politik. Meski dirinya pun sempat diisukan bergabung dengan PKI namun hal ini malah menjadikannya bersemangat untuk memimpin Singkawang.

Dalam “Launching dan Penghargaan Indeks Kota Toleran 2021”, Chui Mie menyampaikan rasa terima kasihnya kepada SETARA Institute. Dengan skor yang diperoleh hal ini juga dikarenakan adanya inovasi terkait kebijakan Peraturan Wali Kota Singkawang Nomor 129 Tahun 2021 terkait Penyelenggaraan Toleransi Masyarakat. Dengan adanya peraturan ini tentunya menjadi pedoman bagi daerah untuk mengawasi, mencegah, dan menindak setiap tindakan intoleransi yang terjadi di Singkawang.

Tentunya tindakan intoleransi tersebut dapat mengganggu ketentraman serta ketertiban umum warga setempat. Singkawang yang kembali menjadi kota toleran ini dikarenakan Chui Mie memandang bahwa penting untuk menjadikan sebuah daerah toleran karena berkaitan dengan keamanan dan akan menarik investor. Selain itu, visi Kota Singkawang adalah “Singkawang Hebat” dan hal ini menjadi kunci keharmonisan di Kota Singkawang yang selalu disampaikan kepada masyarakatnya.

Selain itu, FKUB dan tokoh masyarakat juga ikut aktif dalam keharmonisan yang ia bangun. Saling menghargai dan menghormati sesama umat beragama juga menjadi bagian penting dalam proses meraih predikat kota toleran. Bukan hanya itu empat pilar kebangsaan juga tak kalah penting yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Menurut Chui Mie, empat pilar ini merupakan alat pemersatu dan tiang penyangga yang kokoh bagi masyarakat Singkawang.

Saat dirinya terpilih menjadi walikota pun ia langsung membuat Ramadan Fair. Kegiatan demikian sebelumnya tidak ada di Singkawang sebab biasanya hanya ada Imlek dan Cap Go Meh saja. Kemudian dirinya pun memfasilitasi Singkawang Christmas Day pada saat perayaan Natal. Dapat terlihat bahwa toleransi bukan hanya sekedar kata tetapi juga aksi nyata.

Selain itu, dengan menjadi kota toleran maka kesempatan menjadi kota maju pun semakin tinggi. Dengan menjadi kota maju dan juga aman tentu hal ini memberikan peluang bagi anak muda untuk berkarya di kotanya. Sebab seringkali anak-anak muda tak ingin kembali ke kota asalnya disebabkan tidak adanya wadah yang mampu menampung ide-ide mereka.

Meski demikian dirinya pun masih rendah hati dengan menyebutkan masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk kotanya tercinta. Tentu, toleransi tidak hanya sekedar ide, tetapi perlu disokong pula dengan adanya fasilitas untuk memenuhi kenyamanan dan ketentraman masyarakat. Berkaca dari Chui Mie, kita perlu terus percaya diri dalam berkarya.

Perjuangan tentu panjang tetapi pantang menyerah adalah kunci. Perjalanannya semenjak SMP kini berbuah hasil meski baginya masih banyak yang perlu diperbaiki. Segala bentuk hinaan, cacian, ataupun stigma yang melekat pada dirinya pun ia jadikan cambuk untuk semakin bersemangat. Tentu hal ini patut ditiru sebab menyuarakan perdamaian bukanlah hal yang mudah.

Dengan menciptakan damai di lingkungan sendiri maka rasa aman pun dapat dirasakan. Cita-citanya untuk menjadikan Kota Singkawang menjadi kota aman dan mendapat banyak investasi tentu patut ditiru oleh kepala daerah lain. Bahkan ide ini tentu bukan hanya baik untuk sebuah kota tetapi juga negara. Menjadikan Indonesia negara toleran tentu menjadi PR besar bagi kita semua.

Namun dengan bergerak bersama dan menjadi bagian dari pergerakan damai dapat satu langkah lebih dekat dengan negara yang aman dan tentram. Tetapi tentu segala ide yang ada perlu diikuti dengan aksi nyata. Maka kolaborasi dan bergerak bersama menjadi hal penting pula sebab dengan bekerja bersama-sama maka damai akan lebih mudah digapai. Tentu tantangan berkolaborasi tidak hanya dengan komunitas yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita.

Penting pula untuk kemudian mengajak komunitas-komunitas yang dianggap intoleran sebab tantangan besar pula muncul di komunitas-komunitas ini. Chui Mie, seorang perempuan, beragama Budha dan beretnis Tionghoa, tentu identitas keminoritasannya sangat menonjol.

Tetapi dengan perjuangan yang sudah ia lakukan menunjukkan bahwa Indonesia yang damai dan tentram dapat terwujud.  Perjuangannya tentu perlu dilanjutkan dan perlu ditiru oleh daerah lain. Semakin bersatu dan sadar akan pentingnya isu ini maka Indonesia dengan berbagai keragaman di dalamnya dapat menjadi negara panutan dalam membangun perdamaian dan persatuan.

Annisa Eka
Annisa Eka
Annisa Eka saat ini bekerja sebagai desainer grafis di IofC Indonesia dan anggota komunitas perdamaian di YIPC Indonesia.
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments