Orang tua yang hidup di zaman Orde Baru dan masyarakat dengan ketidaktahuannya masih kerap mewariskan cerita turun-temurun mengenai fitnah seksual tentang Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Fitnah seksual menjadi trauma bagi korban dan keluarganya. Media menggambarkan perempuan Gerwani menggoda jenderal dan melakukan tarian erotis sambil bersenandung genjer-genjer. Gerwani dituduh mengebiri dan mencungkil mata jenderal. Perempuan dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya, kalau tidak ia akan mendapatkan pukulan. Hoaks tentang ‘kejahatan’ Gerwani terus diproduksi hingga anak cucu.
Kala itu, perempuan yang aktif meski di organisasi lain juga ‘di-gerwani-kan’. Tentara berdalih mencari ‘cap gerwani’ di tubuh perempuan. Mereka disuruh menanggalkan pakaian, ditelanjangi, difoto, dimunculkan di koran dengan narasi menggoda jenderal. Autopsi dari kematian para jenderal yang ditandatangani oleh Soeharto dan Presiden Soekarno menyatakan bahwa penyebab kematian para jenderal adalah tembakan senjata api dan trauma yang mungkin disebabkan pukulan senjata.
Mereka ditangkap, dipenjara, bahkan dieksekusi tanpa proses hukum yang adil. Segala kekerasan terhadap Gerwani merupakan penghancuran gerakan sosial dan gerakan perempuan di Indonesia secara sistemik.
Padahal, Gerwani berisi perempuan-perempuan nasionalis, progresif, peduli terhadap pendidikan, anak-anak, hak kesehatan reproduksi, dan pemberdayaan perempuan. Gerwis (Gerakan Wanita Istri Sedar) adalah cikal bakal adanya Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).Â
Tidak banyak yang tahu bahwa Gerwis awalnya didirikan di Semarang pada 4 Juni 1950 oleh gabungan beberapa organisasi perempuan, seperti Rupindo atau Rukun Putri Indonesia (Semarang), Istri Sedar (Bandung), Persatuan Wanita Sedar (Surabaya), Wanita Madura (Madura), Gerwindo (Gerakan Wanita Indonesia (Kediri), dan Perjuangan Putri Republik Indonesia (Pasuruan). Hal ini membuktikan bahwa para perempuan punya banyak agensi dalam menurunkan angka buta huruf dan ketimpangan yang dialami khususnya oleh perempuan dan anak.
Ketua Gerwani pertama yaitu Umi Sardjono. Di bawah kepemimpinannya, Gerwani melakukan sejumlah perlawanan dan advokasi baik di tingkat lokal maupun internasional.Â
Pada Hari Perempuan Internasional Maret 1955, Gerwani memprotes percobaan senjata nuklir dan pendudukan Belanda di Irian Barat. Hal ini menunjukkan kepedulian, perlawanan atas penjajahan, keberanian, dan pembelaan pada kelompok tertindas. Selain itu, Gerwani melakukan kampanye atas nama kelompok tani untuk menuntut penurunan harga bahan pokok karena terus naik tak terkendali.
Gerakan perempuan Gerwani pun menjadi organisasi perempuan terbesar di Indonesia pada sekitar tahun 1965 dengan jumlah anggota 1,5 juta orang. Namun, sayangnya gerakan perempuan tersebut runtuh karena fitnah-fitnah sistematis yang masih terus disebarluaskan hingga sekarang. Hal ini juga mirip dengan tragedi genosida oleh rezim Khmer Merah di Kamboja yang menargetkan kelompok yang terpelajar karena dikhawatirkan mengancam penguasa saat itu.
Perjuangan Gerwani untuk memberantas buta huruf dengan mendirikan sekolah baca, tulis, dan berhitung juga digambarkan dalam film Gowok (2025). Para perempuan di film tersebut berperan dengan sabar, telaten, senang hati, dan penuh optimis mengajari masyarakat, terutama perempuan agar bisa berdaya bagi dirinya sendiri dan orang lain.Â
Gerwani dan keturunannya yang dicap PKI itu mendapatkan stigma sampai sekarang. Stigma, kekerasan, dan kebencian terus digulirkan secara sistematis dan didukung oleh film G30S karya rezim Orde Baru yang selalu diputar di saluran televisi di Indonesia. Film tersebut justru mengarah pada propaganda dan fitnah terhadap Gerwani. Perempuan ketika bersuara dan bersaksi tentang kebenaran malah dibungkam bahkan terancam nyawanya.
Tragedi 1965 telah menghilangkan jutaan nyawa tak bersalah dan membunuh pergerakan perempuan progresif di Indonesia yaitu Gerwani. Meski begitu, napas dan semangat untuk meluruskan sejarah dengan narasi alternatif yang tersebar di berbagai media terus diupayakan oleh kelompok muda Indonesia. Misalnya tagar #1965setiaphari yang mendokumentasikan kisah-kisah penyintas tragedi 1965. Fanny Chotimah dengan film ‘You and I’, memotret kehidupan penyintas ‘65. Dewi Candraningrum mengabadikan ekspresi dan perasaan penyintas 1965 melalui lukisan-lukisannya. Leila Chudori dengan buku ‘Namaku Alam’ memotret keadaan sekitar tahun 1965.
Dari masa ke masa, pembungkaman terhadap gerakan perempuan selalu menjadi ancaman. Namun, gerakan kolektif untuk kemanusiaan dan keadilan akan selalu hidup. Mati satu, tumbuh seribu. Gerakan kolektif perempuan akan selalu bernyawa.







