Perempuan kalau sudah mencari informasi, tidak akan tanggung-tanggung. Ungkapan ini bukan sekadar pepatah manis, tetapi nyata dalam sosok Sumeni. Perempuan asal Sragen ini bukan hanya bagian dari sejarah lokal, melainkan sosok telik sandi (mata-mata) yang kecerdikannya ikut menorehkan jejak penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Kisah Sumeni bagaikan adegan film mata-mata: penuh penyamaran, strategi, dan keberanian. Ia membuktikan bahwa peran perempuan tidak terbatas di dapur atau garis belakang, melainkan juga bisa berada di jantung pertahanan musuh untuk mengumpulkan informasi vital.
Jejak Awal Sang Telik Sandi
Sumeni lahir di Desa Puro, Kecamatan Karangmalang, Sragen. Ia sempat bersekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Surakarta. Menurut laporan Radio Republik Indonesia (2025), sejak remaja ia sudah terlibat aktif dalam perjuangan. Pada usia 16 tahun, ia bergabung dengan Laskar Wanita Indonesia (LASWI) di bawah komando Mayor Hartadi. Meski masih muda, tekadnya untuk ikut membela tanah air tidak pernah goyah.
Saat Agresi Militer Belanda I pecah pada 21 Juli 1947, Sumeni juga tercatat sebagai bagian dari Tentara Pelajar. Ketika itu ia berpangkat prajurit dua, tetapi justru ditugaskan menjalankan misi yang sangat berbahaya: menjadi mata-mata. Dilansir dari Solopos (2022), keputusan itu bukan tanpa alasan. Sumeni dikenal cerdas, tenang, dan mampu beradaptasi di berbagai situasi.
Taktik Cerdik di Balik Penyamaran
Markas besar militer Belanda di Sragen saat itu berada di Pabrik Gula Modjo. Tempat ini dijaga ketat oleh pasukan KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger) dan Korps Speciale Troepen (KST). Untuk bisa masuk ke area tersebut tanpa dicurigai, Sumeni menyusun strategi penyamaran yang cerdik.
Menurut laporan Solopos , ia mendekati para pegawai pabrik hingga akhirnya menikah dengan seorang sinder (pengawas) di sana. Langkah ini memberinya akses luas ke area strategis pabrik, bahkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan serdadu Belanda. Dari posisinya itulah, Sumeni berhasil menggali berbagai informasi penting tentang kekuatan militer Belanda, pergerakan pasukan, hingga rencana operasi. Semua laporan ia teruskan kepada Mayor Hartadi dan pasukan pejuang, yang kemudian memanfaatkannya untuk melancarkan serangan tepat sasaran.
Puncak dari kiprah Sumeni terjadi pada Mei 1949. Ia berhasil membujuk satu peleton prajurit KNIL dari kalangan bumiputera untuk membelot dan bergabung dengan pejuang Indonesia. Tidak hanya berpindah pihak, mereka juga membawa serta persenjataan modern. Senjata-senjata itu kemudian digunakan untuk memperkuat pertahanan rakyat.
Seperti halnya dicatat Solopos, keberhasilan ini tidak hanya memperlemah posisi Belanda, tetapi juga memberi suntikan moral yang luar biasa bagi para pejuang kemerdekaan. Lebih mengagumkan lagi, selama bertahun-tahun menjalankan misi berbahaya ini, penyamaran Sumeni tidak pernah terbongkar. Ia menjalani peran berisiko itu dengan penuh kecerdikan dan kesabaran.
Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949, Sumeni mengakhiri tugasnya sebagai telik sandi pada tahun 1950. Berdasarkan catatan RRI, pengabdiannya bukan hanya soal informasi yang ia sumbangkan, tetapi juga bukti nyata bahwa perempuan memiliki kapasitas penuh untuk terlibat dalam operasi intelijen yang krusial.
Warisan yang Tak Boleh Hilang
Meskipun namanya sempat diabadikan menjadi nama jalan di Sragen pada 2004, kemudian diganti kembali pada 2016, jasa Sumeni tidak boleh hilang dari ingatan. Ia adalah simbol kecerdasan, keberanian, dan dedikasi perempuan Indonesia yang berjuang tanpa pamrih demi kemerdekaan.
Mengangkat kisah seperti Sumeni bukan hanya bentuk penghormatan terhadap sejarah, tetapi juga pengingat bagi generasi muda bahwa agensi perempuan dalam mempertahankan kemerdekaan memiliki dampak yang besar dan nyata. Di tengah tantangan zaman saat ini, nilai-nilai kepemimpinan perempuan yang diteladankan Sumeni menjadi inspirasi untuk terus memperjuangkan kesetaraan, keadilan, dan perdamaian.
Hingga kini, kisah Sumeni masih relevan untuk diingat. Ia bukan sekadar sosok dalam buku sejarah, melainkan teladan bahwa keberanian bisa muncul dari siapa saja, bahkan dari seorang remaja perempuan yang berani menantang maut. Dengan menelusuri jejaknya, kita tidak hanya belajar tentang strategi perang, tetapi juga tentang daya juang, kecerdikan, dan keyakinan bahwa kemerdekaan layak diperjuangkan dengan segala cara.