HomeCeritaPemimpin Perempuan: Mengayomi dan Membimbing

Pemimpin Perempuan: Mengayomi dan Membimbing

Meskipun setiap perempuan memiliki gaya kepemimpinan sendiri-sendiri, tetapi mereka mengarah kepada model kepemimpinan yang menonjolkan karaktek mengayomi, membimbing, tidak frontal, dan menggunakan narasi kehidupan. Dua karakteristik gaya kepemimpinan Netaria yang dipandang bisa mengayomi dan membimbing, rupanya menyentuh hati banyak warga desa. Dibandingkan dengan pendamping laki-laki, keberadaan Neta, sebagai pendamping perempuan, dianggap tidak hanya sekedar bekerja.

Ada nilai yang lebih besar dari bekerja mencari uang dengan berperan sebagai pendamping. Tetapi niatan untuk melakukan pemberdayaan sangatlah terlihat dalam gerak gerik Netaria selama menjalani tugasnya. Neta dianggap sangat mengayomi, karena kehadirannya di desa-desa yang di dampinginya cukup sering. “ Disaat kami butuh, dia ada di sawah. atau ada di kebun”. Menumbuhkan perasaan “selalu ada” itu sangat penting untuk sebuah proses pemberdayaan.

Ini karena warga sudah mulai tidak merasa ada jarak, sehingga kehadiran fasilitator pemberdayaan, diharapkan bisa menjadi tempat bertanya. Biasanya warga memiliki pertanyaan justru tidak ada di dalam forum. Karakter membimbing juga dipandang sangat kental mewujud dalam kepemimpinan Netaria. Melalui materi yang disampaikan baik di sekolah Lapang maupun di dalam interaksi keseharian, motivasi selalu positif dan memandang ke depan, selalu diselipkan Neta agar memicu semangat dan petani bersedia untuk mengambil langkah-langkah yang menuju perubahan.

Neta juga mengaku bahwa youtube adalah sumber informasi yang bermanfaat buat dirinya. Tidak saja membantu mengemas motivasi buat warga, tetapi juga belajar pendekatan pertanian yang unik dan terbaru. Mengayomi dan membimbing sangat khas dipakai oleh para pemimpin perempuan.

Buktinya Bupati Poso terpilih, dr. Verna Gladies Merry Inkiriwang juga menerapkan pendekatan mengayomi dan membimbing dengan program Bunga Desa (Bupati Ngantor di Desa), agar beliau bisa memahami denyut nadi warganya, dan membaca kebutuhan warga lebih jelas. Bunga Desa diharapkan mampu menjadi mekanisme dialog langsung antara warga dengan Bupati. Bahkan, di Banyuwangi program Bunga Desa ini berhasil menyelesaikan hampir 10.000 masalah, meskipun baru tujuh desa yang disinggahi oleh Bupati Ipuk.

Tantangan: Tanah Produktif, Resiliensi Terjadi

Di berbagai sudut kota dan desa, masyarakat memiliki memori yang kuat terhadap konflik yang pernah terjadi di Poso pada akhir 1999 sehingga 2002. Konflik tersebut telah membunuh ratusan ribu orang, dan membakar ratusan rumah, sekolah, gereja, masjid dan gedung-gedung pemerintahan. Ketakutan begitu mencekam. Tak satupun orang bersedia untuk kembali ke masa tersebut.

Maka, kita akan temukan ceramah-ceramah keagamaan sangat kental dengan nasehat pentingnya menghargai perbedaan, agar terbiasa. Di gereja-gereja, ceramah yang bersifat mengingatkan masa lalu yang kelam, selalu dimunculkan agar semua orang mengingat bahwa konfliks sangat tidak enak. Di masjid, ceramah agama pada hari jumat, kabarnya juga dikontrol. Pihak pemerintah memastikan bahwa substansi ceramah mengarah pada toleransi, bukan provokasi terjadinya perpecahan.

Di desa lahan begitu luas, tetapi keinginan untuk memanfaatkan lahan rendah. Bahkan sungguh ironis seperti yang dituturkan oleh Neta, bahwa masih banyak warga desa yang menggantungkan keperluan sayur mayur pada penjual keliling, sementara lahan luas terbentang tidak ditanami. Di perkotaan misalnya gairah perempuan menjalankan pertanian urban, begitu besar, tapi lahan sempit. Sehingga mereka harus menggunakan lahan-lahan buatan, seperti hidroponik, atau pertanian vertikal.

Semua memerlukan pembiayaan yang mahal karena harus membangun infrastruktur pertanian vertikal. Lahan inilah sebenarnya sumber resiliensi pangan para petani. Jika lahan-lahan yang tersedia ditanami dengan tanaman produktif dan sayur-sayuran, maka petani tidak perlu harus mengeluarkan uang tunai. Tampaknya resiliensi pangan masih belum maksimal ditopang oleh lahan-lahan.

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments