Thursday, October 15, 2026

Menemukenali Konsep Tuhan Semesta Alam dalam Laku Teman Sejawat (Saudara Lintas Iman): Pengalaman Regional Learning Exchange di Cirebon

Ada momen-momen yang saya rasa akan terus saya bawa pulang jauh setelah program ini selesai. Bukan hanya materi yang disampaikan oleh para narasumber di setiap sesi, tetapi juga kenangan yang hadir di setiap kebersamaan yang kami lakukan selama kurang lebih enam hari, 6-11 September 2026 di Kota Cirebon, Jawa Barat.

Di dalam momen perjumpaan dengan berbagai teman di kegiatan regional learning exchange ini, saya berkenalan dengan para peserta yang membawa pengalaman juga pengetahuan dari berbagai wilayah di Asia seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Korea Selatan.

Pertemuan dengan teman-teman di kegiatan ini ternyata menghadirkan pengalaman menarik yang sayang apabila tidak dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Dalam hal ini, saya akan berbagi pengalaman menarik yang saya dapatkan tepatnya yang saya peroleh dari teman-teman peserta selama berkegiatan bersama.

Cerita dimulai ketika kami menetap sementara selama tiga hari di pesantren KHAS Kempek, Cirebon. Selama tiga hari tersebut, kami hidup selayaknya sebagai seorang santri yang secara identitas bisa merujuk kepada sebutan orang yang tinggal atau menuntut ilmu di Pesantren, dan terbiasa berbagi ruang dengan banyak orang. Dalam peristiwa tersebut, saya kemudian merefleksikan makna tentang berbagi ruang yang dapat diartikan sebagai bentuk paling dasar dari persaudaraan.

Dibesarkan dengan budaya nilai toleransi, saya mengakui bahwasanya kita perlu memaknai ulang makna toleransi—bukan hanya sekedar menghormati adanya perbedaan, tetapi juga berkenan mendengar dan berbagi ruang dengan saudara lintas iman dan kepercayaan. Barangkali selama ini saya belum cukup mampu mendengar seutuhnya keyakinan yang diyakini oleh para teman-teman lintas iman, sehingga seringkali pengetahuan saya menjadi tidak utuh tentang hal tersebut.

Dalam pengalaman yang saya refleksikan dalam tulisan ini, saya mendengar teman-teman peserta saling bercerita tentang pengalaman hidupnya masing-masing. Masing-masing dari kami tidak selalu bercerita tentang pengalaman besar dalam hidup, terkadang kami menceritakan pengalaman-pengalaman kecil yang menyenangkan di sela-sela waktu istirahat makan, atau sekadar duduk melingkar di waktu luang.

Di dalam pengalaman duduk melingkar itulah saya bertemu dentang pengalaman mendengarkan yang sesungguhnya, mendengarkan teman-teman memaknai relasinya dengan Tuhan, dengan sesama umat, bahkan dengan umat yang berbeda darinya, serta keyakinan mereka akan nilai- nilai dalam ajaran agamanya masing-masing.

Ternyata dari pengalaman inilah saya merasakan bahwa berbagi ruang dan mendengarkan merupakan tindakan yang tidak melulu harus dimaknai dengan tindakan heroik dan besar. Hal-hal sesederhana duduk bersama dan berbagi pengalaman yang menyenangkan ternyata juga bisa menghadirkan kegiatan mendengarkan paling asyik di dalam relasi antar saudara lintas iman.

Pengalaman lain yang juga saya dapatkan dalam kegiatan adalah ketika saya berjumpa dengan salah satu peserta pemeluk agama Katolik yang “taat”. Ia bercerita bahwa ia hadir bersama putrinya yang juga menjadi peserta dalam kegiatan ini. Ia mengatakan bahwa dirinya dan suaminya merasa senang apabila putri mereka mendapat kesempatan belajar bersama teman-teman baru lintas iman, hidup bersama bukan hanya di lingkungan gereja, tetapi juga merasakan hidup di Pesantren.

Hal tersebut membuat saya belajar memaknai ulang kata “taat”. Awalnya saya mengira bahwa ketaatan akan selalu berjalan dengan eksklusivitas—semakin taat seseorang, semakin ia merasa cukup belajar dari agamanya sendiri. Tetapi dalam hal ini saya melihat sesuatu yang lain dari seorang teman yang tetap pada prinsipnya, menjaga keimanannya namun tidak sungkan untuk membuka telinga, mata dan juga hati ketika melihat ajaran-ajaran di luar agamanya.

Bertemu Wajah Tuhan dalam Perjumpaan dengan Kelompok Berbeda

Setelah menetap sementara di pondok pesantren KHAS Kempek, kami berpindah ke pondok pesantren Kebon Jambu. Masih di kota yang sama, Cirebon, perjumpaan kami selanjutnya adalah bertemu dengan sosok perempuan pemimpin pesantren, yaitu Nyai Masriyah Amva. Peristiwa ini membawa saya berhadapan dengan sosok yang selama ini hanya saya kenal melalui narasi yang ada di media—seorang perempuan yang memimpin, mengajar, dan menafsirkan kitab dengan otoritas penuh tanpa meminjam wibawa sosok laki-laki.

Dari perjumpaan dengan sosok Nyai Masriyah, muncul kesadaran baru bagi saya bahwa apabila selama ini perantara antara umat dan Tuhannya bisa berwajah perempuan, maka jangan-jangan Tuhan Semesta Alam juga tidak pernah sesempit bayangan yang saya buat sendiri tentang siapa yang boleh mewakili-Nya. Wajah-Nya barangkali juga hadir pada perempuan yang suaranya jarang dianggap sebagai penentu, pada anak-anak yang dianggap belum cukup umur untuk didengar, pada orang muda yang gagasannya dicap belum matang.

Wajah-Nya barangkali juga hadir pada mereka yang memiliki keberagaman gender dan orientasi seksual yang selama ini dikucilkan oleh masyarakat, atau pada penyandang disabilitas yang kerap mendapat pandangan iba, pada masyarakat adat yang menjaga bumi dengan cara leluhur namun kerap dianggap tertinggal, pada migran yang membawa iman berpindah dari satu tempat ke tempat lain, pada komunitas rentan lain yang luput dari perhatian—karena kita selama ini terlalu sibuk mencari Tuhan hanya di tempat yang kita anggap layak.

Kita mungkin kurang memaknai hakikat di balik penciptaan umat yang berbeda-beda. Perbedaan adalah kehendak-Nya, dan karena itulah kenapa kita selama ini keliru memaknainya dengan terjebak pada ruang yang tunggal. Padahal sifatnya Yang Maha Rahman dan Rahim (Pengasih dan Penyayang) tidak pernah terbatas bagi semua makhluk ciptaannya, termasuk yang selama ini kita anggap berada di luar lingkaran pengakuan kita sendiri.

Pada hakikatnya, kepercayaan akan sesuatu di balik penciptaan alam semesta membawa perasaan damai kala mengetahui bahwasanya setiap ajaran agama yang hadir di muka bumi sejatinya tidak pernah mengajarkan tentang kerusakan—dan tentunya kami semua sepakat akan hal tersebut.

Foto: AMAN Indonesia

Berkesempatan bertemu dalam satu kegiatan yang mengusung tema tentang “Turning the Tide: Christian and Muslim Youth & Women Building Peace in Asia. Commemorating the 25th Anniversary of 9/11: From Hostility to Human Progress” saya merasa hal ini adalah anugerah yang tentunya juga merupakan sebuah privilese yang saya yakini tidak setiap orang muda berkesempatan bergabung dalam kesempatan ini karena berbagai faktor.

Dalam kesempatan ini, saya melihat ada harapan di tengah kecemasan yang saya bawa sebelumnya—tentang masa depan yang lebih baik lagi, tentang dunia yang menciptakan ruang aman bagi semua, terutama terhadap perempuan dan kelompok rentan lainnya, tentang dunia yang berpihak kepada perbedaan, tentang orang muda yang berani merawat persaudaraan tanpa harus kehilangan identitasnya sendiri, tentang luka-luka lama yang akhirnya menemukan jalan untuk pulih, bukan sekadar dilupakan.

Perlu saya tegaskan, bahwa refleksi saya dalam tulisan ini tidak mencoba membuat perumpamaan yang mencampuradukkan keyakinan akan nilai-nilai ketuhanan. Saya sedang mencoba melihat konsep ketuhanan sebagai nilai yang universal dan berlaku bagi setiap makhluk di muka bumi, tanpa menaruh sedikit pun hak untuk menghakimi kepercayaan dan keyakinan setiap makhluk terhadap Tuhannya.

Tuhan adalah sesuatu yang terlalu besar untuk bisa dijelaskan secara sederhana. Barangkali kehadiran-Nya bukan hanya ada di saat pemuka agama berpidato di mimbar-mimbar besar, melainkan justru hadir di sela-sela perjumpaan sederhana namun penuh makna dengan saudara-saudara lintas iman. Dzat Maha Besarnya itulah yang akhirnya membuat kita tidak bisa menyimpulkan nilai ketuhanan hanya dari sudut pandang yang tunggal.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha