Bulan September kembali memberikan pengalaman yang berkesan dari sebuah kegiatan Regional Learning Exchange bertajuk Turning the Tide: Christian and Muslim Youth & Women Building Peace in Asia. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh AMAN Indonesia dan ALL Forum yang kemudian bekerjasama dengan Yayasan Fahmina dan KUPI. Kegiatan ini menjadi lebih menarik karena dilaksanakan di tiga tempat berbeda, yaitu Pesantren KHAS Kempek, Pesantren Kebon Jambu, dan Gereja Katolik Bunda Maria pada 6-11 September 2026.
Dalam kegiatan ini, kami dipertemukan dengan peserta-peserta yang berasal dari latar belakang negara, budaya, dan agama yang beragam. Peserta berasal dari berbagai negara di Asia; Indonesia, Malaysia, Korea Selatan, dan Filipina. Seluruh peserta juga berasal dari dua agama yang memiliki keyakinan dan tradisi berbeda yaitu Islam dan Katolik.
Regional Learning Exchange ini menjadi sebuah jenis kegiatan dengan konsep baru bagi saya. Dengan adanya peserta yang berasal dari luar negeri, selama kegiatan kami menggunakan Bahasa Inggris untuk penyampaian materi dan berkomunikasi. Hal yang sering saya rasakan ketika mencoba hal baru adalah keraguan dan kecemasan.
Namun, kegiatan ini justru mempertemukan saya dengan peserta-peserta yang saling mengerti satu sama lain. Sehingga saya merasa seperti mendapatkan sebuah ruang aman untuk berbagi pengalaman, berdiskusi hingga sekedar deep talk bersama.
Berbagai pengalaman dan pemahaman mengenai perdamaian, keberagaman hingga dialog lintas iman yang saya miliki mungkin cukup membawa saya untuk terlibat dalam kegiatan ini. Namun pada prakteknya, kegiatan ini telah membawa saya mendalami berbagai pemahaman mengenai perdamaian yang lahir dari ruang-ruang kecil seperti; percakapan di ruang keluarga, kesediaan mendengarkan, berdiskusi hingga kesadaran bersama bahwa kehidupan kita selalu terhubung dengan kehidupan orang lain.
Dari berbagai sesi yang sangat insighful, saya memiliki satu sesi yang favorit dan membekas mengenai Hospitality and Friendship: In the Dream of Peace, yang dibawakan oleh Sophia Park, PhD dari ALL Forum. Sayangnya, diskusi berjalan secara hybrid dikarenakan meletusnya Gunung Krakatau menghambat penerbangannya menuju Cirebon, Indonesia.
Melalui ruang zoom, Sophia memulai materi dengan analogi yang ia ambil dari sebuah cerita dongeng berjudul Beauty and the Beast. Kemudian ia bertanya siapa Beast dalam hidup kita? Ia melanjutkan bahwa beast seringkali tertuju pada hal-hal yang ada di luar lingkaran hidup kita, termasuk orang lain, orang asing, orang yang berbeda kewarganegaraan, atau bahkan siapapun yang memiliki identitas dan pengalaman yang tidak dikenal.

Foto: AMAN Indonesia
Penjelasan tersebut kemudian berlanjut pada pembahasan mengenai the other atau orang lain dalam kehidupan kita. Dalam hal ini Sophia menuturkan bahwa perjumpaan dengan the other pada mulanya sering kali menghadirkan kecemasan dan kekhawatiran dalam bentuk ketakutan untuk berhadapan dengan sesuatu yang tidak kita kenal.
Tidak jarang kita terjebak dalam sebuah gambaran mengenai diri sendiri maupun orang lain, berdasarkan sebuah identitas yang melekat padanya. Seolah-olah bahwa sebuah identitas seseorang sudah selesai dan tidak dapat berubah.
Ruang pertemuan ini menjadi sebuah contoh kecil bahwa berbagai perbedaan dari masing-masing peserta mungkin menimbulkan kecanggungan setidaknya pada diri saya sendiri. Namun ketika kita berjumpa langsung kemudian kecemasan tersebut berubah menjadi rasa ingin tahu.
Contohnya adalah ketika saya berkenalan dengan peserta berasal dari Sabah Malaysia. Sebelumnya saya hanya mengetahui Sabah melalui keindahan alamnya, namun kemudian obrolan ini menjadi mendalam ketika ia mulai bercerita mengenai pengalaman serta perjuangan dalam melestarikan bahasa khususnya tradisi masyarakat adat yang ia coba pertahankan.
Hospitality: Membuka Ruang bagi yang Asing
Dari ruang perjumpaan tersebut kemudian saya mencoba merefleksikan makna hospitality yang disampaikan Sophia. Hospitality berbicara tentang membuka ruang bagi kehadiran orang lain, dalam hal ini Sophia menggambarkan hospitality berada di antara hospital dan hostile. Antara menerima dan menolak, antara membuka ruang dan mempertahankan diri dari sesuatu yang seringkali dianggap asing maupun sesuatu yang seringkali dianggap negatif oleh diri kita.
Kita perlu memahami bersama bahwa makna dari menerima orang lain tidak berarti harus menghilangkan perbedaan satu sama lain. Islam tetap Islam, Katolik tetap menjadi Katolik, pengalaman hidup setiap orang tetap berbeda. Akan tetapi perbedaan ini tidak bisa menjadi sebuah alasan untuk saling memberi jarak. Justru kita perlu memahami bahwa perbedaan adalah hal yang Tuhan anugerahkan bagi manusia.
Tidak berhenti pada saling memahami, hal ini perlu berlanjut pada sebuah perjumpaan untuk memberikan kesempatan melihat suatu hal dibalik identitas dan perbedaan. Dibalik itu semua, kita adalah manusia yang sama-sama ingin hidup dengan aman, dihargai, dicintai dan memiliki kehidupan lebih baik.
Sophia juga menyampaikan sebuah ajakan untuk “be familiar with the unknown” menjadi terbuka terhadap sesuatu yang belum kita ketahui. Kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah permulaan bagi kita untuk mulai mendekat, berani bertanya, mendengarkan dan memberikan kesempatan kepada sesuatu yang asing untuk kita kenali
Dari sini saya memahami bahwa kita perlu bergerak dari sekedar mengetahui adanya sebuah perbedaan, menuju keberanian untuk melakukan perjumpaan. Karena perbedaan tidak dapat berhenti hanya pada pengetahuan apa yang berbeda dari kita satu sama lain, ia perlu dihidupi dengan perjumpaan, dialog serta kesediaan untuk mendengarkan.







