Editor: Yuyun Khairun Nisa
Frida Kahlo merupakan seniman asal Meksiko yang menjadi tokoh revolusi dan gerakan sosial yang memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM). Pada masa Frida Kahlo (1907-1954), Meksiko sedang dalam masa pemerintahan Porfirio Díaz yang fokus pada industrialisasi. Akan tetapi, pembangunan yang tidak merata dan ketidakberpihakannya kepada buruh tani memberikan dampak ketimpangan sosial. Pesatnya pembangunan industri menyebabkan terenggutnya tanah-tanah milik petani di tengah ambisi Porfirio Díaz yang ingin menjadikan Meksiko sebagai salah satu bagian dari pasar global yang modern.
Kesenjangan bukan hanya dirasakan oleh petani saja, para buruh industri juga merasakan kesenjangan dari diskriminasi upah. Adanya perbedaan upah antara petani pribumi dan petani asing (Amerika) mengakibatkan terjadinya mogok kerja dan pemberontakan. Setelah Porfirio Díaz digulingkan, kondisi Meksiko masih sama; konflik antar faksi, dan perang saudara melanggengkan kekerasan untuk memperebutkan kekuasaan politik yang justru tidak memberikan keamanan bagi masyarakat.
Frida Kahlo dalam Ruang Seni, Revolusi, dan Jati Diri
Frida Kahlo hadir pada masa pergolakan pemerintahan Meksiko yang masih belum stabil sebagai negara. Frida Kahlo lahir dalam kondisi keterbatasan, ia merupakan seorang penyintas penyakit polio yang menyebabkan kelainan pada kakinya. Karena penyakitnya ia hanya beraktivitas di atas tempat tidur saja. Ketika remaja, ia menjadi korban kecelakan bus yang mengakibatkan beberapa tulangnya patah. Di tempat tidur, dia menemukan inspirasi dalam melukis. Keterbatasan tidak menghalanginya untuk berkarya.
Lukisannya merupakan gambaran dirinya yang berada dalam kondisi serba terbatas. Baik sebagai penyandang disabilitas maupun sebagai warga negara. Kondisi sosial masyarakat Meksiko masih menganut sistem patriarki dan tidak memberikan peran yang setara bagi perempuan. Kondisi tersebut memberikan tekanan pada gambaran hidupnya yang penuh penderitaan secara fisik dan psikis. Salah satu lukisannya yang menggambarkan kesedihan berjudul Rumah Sakit Henry Ford, 1932. Ketika ia mendambakkan menjadi seorang ibu yang bisa melahirkan seorang anak dari rahimnya sendiri. Akan tetapi ia mengalami keguguran, dambaan menjadi ibu pun sirna.

Lukisan Henry Ford Hospital (1932) oleh Frida Kahlo
Setelah peristiwa keguguran, ia mencoba menyembuhkan dirinya dari luka kehilangan. Dia kembali aktif melukis dan banyak bertemu beberapa seniman Eropa yang membuatnya bergabung dalam kelompok gerakan komunis. Ketertarikan Kahlo dalam aksi politik ternyata dipengaruhi oleh peran ayahnya yang memiliki pandangan liberal. Kekasih Kahlo yakni Diego Rivera—seorang seniman yang aktif di partai komunis—juga mempengaruhi cara pandang politik Kahlo. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pemerintahan Meksiko mendiskriminasi kelompok buruh yang mengakibatkan adanya gerakan-gerakan revolusioner dan masuknya paham komunis.
Pertemuan dirinya dengan beberapa tokoh politik penting dunia, menjadikan Kahlo sebagai salah satu perempuan yang berpengaruh. Kahlo memperjuangkan kelompok-kelompok tertindas yang diabaikan oleh pemerintah dari segi ekonomi, politik, dan sosial. Melalui karya seni, Kahlo memberikan perspektif baru mengenai dirinya. Seni sebagai ruang berekspresi untuk melepaskan kesedihan dan berbagai emosi, sekalipun di tengah keterbatasan.
Namun, Kahlo tidak membatasi dirinya dalam berpakaian, ia memakai setelan jas laki-laki. Setelan jas bukan hanya sekedar pakaian, akan tetapi merupakan simbol yang menggambarkan netralitas gender. Tidak hanya dalam dirinya sendiri, melainkan karya Kahlo juga beyond limitation. Pengaruh karya seni dan perjuangannya dalam menggerakkan revolusi Meksiko merupakan bentuk pembebasan hak asasi perempuan dalam ranah sosial dan politik. Frida Kahlo juga membawa perspektif feminis ke dalam ideologi komunisnya, meskipun feminisme pada masa itu belum tercermin dalam gerakan politik kiri. Ia memperjuangkan hak-hak perempuan melalui perannya dalam ruang publik, relasi personal, dan karya seninya.
Pengaruh Kahlo dalam bidang seni dan pergerakan revolusi mencerminkan perempuan sebagai agen perubahan. Karya Kahlo sampai saat ini masih relevan untuk diulas kembali, karena perjuangannya tersebut merupakan motivasi bagi perempuan saat ini yang masih terbelenggu dalam sistem patriarki yang mengurung dirinya dengan keterbatasan.







