Saturday, August 30, 2025

Jejak Juang Rasuna Said, Mendorong Keterlibatan Perempuan di Ranah Politik Indonesia

Lahir pada 14 September 1910 di Desa Panyinggahan, Maninjau, Sumatera Barat, Rasuna Said berasal dari keluarga Minangkabau yang beragama Islam dan cukup terpandang. Ayahnya bernama Muhamad Said, seorang saudagar dan juga guru yang aktif dalam gerakan pendidikan. 

Karena ayahnya sering bepergian untuk bekerja, Rasuna kecil dibesarkan oleh pamannya. Ia mendapat pendidikan agama sejak awal dan tidak bersekolah di sekolah umum seperti kebanyakan anak lainnya.

Saat remaja, Rasuna mulai belajar di sekolah agama dekat Danau Maninjau pada usia enam tahun dan menyelesaikannya lima tahun kemudian. Setelah itu, ia melanjutkan ke Pesantren Ar-Rasyidiyah yang dipimpin oleh Syekh Abdul Rasyid. 

Di sana, ia menjadi satu-satunya santri perempuan dan tetap menunjukkan semangat tinggi dalam belajar. Keberaniannya untuk menuntut ilmu di lingkungan yang mayoritas laki-laki menunjukkan bahwa sejak muda, Rasuna sudah memiliki tekad kuat untuk maju.

Pada tahun 1923, ia melanjutkan pendidikan ke Diniyah Putri di Padang Panjang. Di sekolah ini ia juga sempat menjadi guru. Di sinilah tumbuh kesadarannya bahwa perempuan juga harus memahami persoalan politik. Ia mencoba mengajarkan nilai-nilai perjuangan kepada para siswi, namun pandangannya tidak diterima oleh pimpinan sekolah. 

Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dan melanjutkan belajar pada tokoh pembaru Islam, Haji Rasul, yang banyak mempengaruhi pola pikirnya tentang kebebasan berpikir dan pentingnya keterlibatan perempuan dalam perubahan sosial.

Setelah itu, Rasuna masuk ke Sumatera Thawalib, salah satu sekolah Islam modern saat itu. Ia menyelesaikan pendidikan yang seharusnya berlangsung empat tahun hanya dalam waktu dua tahun. Di sekolah ini, ia banyak terinspirasi oleh pidato tokoh pergerakan seperti Haji Udin Rahmani. 

Semangat perjuangannya semakin kuat, terutama setelah belajar di Islamic College Padang. Di sana, ia terlibat dalam dunia jurnalistik dan menjadi pemimpin redaksi majalah Raya, yang dikenal vokal dalam menyuarakan perlawanan terhadap penjajahan.

Selain menimba ilmu, Rasuna juga mulai terlibat dalam kegiatan organisasi. Ia bergabung dengan gerakan politik Islam yang memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan sosial. Dalam proses tersebut, Rasuna mulai tampil sebagai sosok yang berani menyuarakan pendapatnya. Ia menekankan pentingnya peran perempuan dalam perubahan bangsa.

Kiprah Politik Rasuna Said

Rasuna Said mulai aktif dalam dunia politik sejak usia muda. Ia terlibat dalam Sarekat Rakyat sebagai sekretaris cabang. Kemudian ia juga bergabung dengan Sumatera Thawalib, sebuah organisasi pendidikan yang memiliki semangat perjuangan. 

Pada tahun 1930, ia ikut mendirikan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi, lalu mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh organisasi tersebut. Rasuna menjadi pengajar yang vokal dan dikenal dengan pidato-pidatonya yang menentang penjajahan Belanda.

Keberanian Rasuna dalam berbicara membuatnya dikenal luas. Dalam sebuah rapat umum di Padang Panjang tahun 1932, ia menyampaikan pidato yang mengkritik penjajahan dan menyerukan kemerdekaan Indonesia. 

Beberapa minggu kemudian, pidatonya di Payakumbuh membuat pemerintah kolonial menjatuhkan dakwaan padanya dengan hukum Speekdelict, melarang orang berbicara menentang penguasa. Rasuna menjadi perempuan pertama di Indonesia yang dijatuhi hukuman karena hal ini. Ia dipenjara selama 15 bulan di Semarang, dan perjalanannya ke penjara disaksikan oleh ribuan orang.

Setelah bebas dari penjara pada tahun 1934, Rasuna melanjutkan pendidikan di Islamic College Padang dan aktif menulis di majalah Raya. Ia kemudian pindah ke Medan dan mendirikan perguruan khusus perempuan. 

Untuk menyuarakan pemikirannya, ia menerbitkan surat kabar Menara Poeteri yang fokus pada isu perempuan dan perjuangan melawan penjajahan. Dalam tulisan-tulisannya, ia sering menggunakan nama samaran dan menyampaikan kritik sosial dengan tajam.

Setelah Indonesia merdeka, Rasuna terus aktif di dunia politik. Ia menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatra, lalu bergabung dengan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Pada tahun 1950, ia diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara. Beberapa tahun kemudian, ia dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. 

Membaca Pemikiran Rasuna Said

Rasuna Said memiliki pemikiran bahwa kemerdekaan, selain berarti bebas dari penjajahan fisik, juga seharusnya bebas untuk melakukan kebebasan berpikir serta bertindak. Menurutnya, perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam proses perubahan masyarakat. Ia mendorong perempuan untuk berani menempuh pendidikan, memperluas wawasan, dan aktif terlibat dalam kehidupan sosial maupun politik. 

Melalui berbagai tulisan dan pidatonya, Rasuna meyakinkan banyak perempuan bahwa kesadaran perempuan akan hak dan tanggung jawabnya dapat membawa pengaruh besar bagi arah pembangunan Indonesia. Pemikiran tersebut kemudian ia sebarkan melalui media seperti majalah dan surat kabar yang ia dirikan sebagai sarana menyampaikan gagasannya.

Pada sisi yang lain, Rasuna menegaskan perjuangan melawan penjajahan harus menyentuh segala aspek kehidupan, terutama pendidikan dan kebudayaan. Baginya, bangsa yang kuat adalah bangsa yang berani keluar dari belenggu kebodohan dan sikap bergantung pada pihak lain. 

Hanya dengan pendidikan yang baiklah, rakyat dapat lebih mandiri, memiliki kepercayaan diri, serta mampu mengatur kehidupan bangsanya sendiri. Pemikiran Rasuna memotivasi masyarakat untuk menggunakan akal dan hati dalam menghadapi persoalan bangsa, sehingga kemerdekaan dapat dirasakan secara menyeluruh.

Layyin Lala
Layyin Lala
Just a girl with a pen, a passion, and a purpose. Writing her heart out, one word at a time.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here