HomeOpiniBelajar Perdamaian dari Sekolah Perempuan Prawirodirjan

Belajar Perdamaian dari Sekolah Perempuan Prawirodirjan

Tentu sudah tidak asing lagi bagi kita bahwa Yogyakarta dikatakan sebagai Kota Pelajar, brand image ini tidak lain tidak bukan karena terdapat banyak faktor yang mendukung. Diantaranya yaitu banyaknya sarana dan prasarana pendidikan. Memiliki banyak universitas besar dengan 20% penduduknya berhubungan dengan pendidikan. Masyarakat juga sudah sangat terbiasa mengalami perbedaan budaya. Yogyakarta sudah menjadi semacam Indonesia mini.

Ditambah biaya pendidikan yang relative terjangkau, termasuk biaya pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, faktor penting yang menentukan suksesnya pendidikan di Yogyakarta adalah dukungan sepenuhnya dari pemerintah daerah.  Dengan adanya faktor-faktor itu, brand image Yogyakarta sebagai Kota Pelajar diharapkan tidak hanya sebuah nama. Namun ada gerakan yang nyata agar pendidikan disuguhkan secara merata baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Sebab laki-laki dan perempuan, sama-sama berhak memperoleh pendidikan tinggi, sama-sama berhak mengabdikan ilmu yang telah diperolehnya untuk kebaikan umat manusia, baik dalam lingkup rumah tangga maupun di luar rumah tangganya. Dalam bidang pendidikan itulah, perempuan terkadang masih dicitrakan sebagai makhluk lemah dan tidak berprestasi. Sedikitnya perempuan yang ahli dibidang sains, ekonomi, politik, hukum dilihat sebagai citra perempuan yang lemah.

Hal ini disebabkan ketidakmampuannya dalam mengejar prestasi seperti yang dicapai laki-laki. Padahal menurut Maccoby & Jacklin, perempuan tidak berprestasi disebabkan ada rasa ketakutan akan sukses (fear of success) bukan tidak mampu berprestasi. Sebagai upaya melenyapkan pandangan masyarakat yang masih memarginalkan perempuan dalam dunia pendidikan, sebuah daerah di Yogyakarta yaitu Prawirodirjan yang merupakan kelurahan di kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta mendirikan Sekolah Perempuan.

Kelurahan ini terletak di pusat kota karena dekat dengan Alun-alun Utara, keraton Yogyakarta, Taman Pintar, dan pusat perbelanjaan Malioboro. Suasana kampung Prawirodirjan pun sangat kental dengan iklim yang menjunjung tinggi pendidikan dan kebudayaan. Dibeberapa gardu pos ronda terdapat perpustakaan mini yang menyediakan buku-buku bacaan untuk masyarakat. Jam belajar masyarakat pun tak sekedar berupa plang yang menghias jalan, namun masyarakat benar-benar mempunyai komitmen yang tinggi untuk merealisasikan aturan-aturan yang sudah disepakati bersama.

Anak-anak belajar dibawah bimbingan kelompok belajar masyarakat yang diperankan oleh para pemuda kampung.  Mengekplorasi potensi yang dimiliki oleh kampung Prawirodirjan menjadi penting adanya. Melihat upaya pendidikan yang terus ditingkatkan adalah bentuk kesadaran yang mulai tertanam pada setiap individu baik laki-laki maupun perempuan. Tinggal bagaimana aksi yang nyata itu dapat terealisasikan, dan salah satunya terwujud melalui Sekolah Perempuan.

Dengan adanya Sekolah Perempuan menjadi bukti nyata bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama dan berhak memperoleh akses pendidikan. Awal tahun 2019 tepatnya pada bulan Januari, AMAN Indonesia melakukan komunikasi dengan Bu Wati untuk membuka Sekolah Perempuan Perdamaian di tingkat RW, Kelurahan Prawirodirjan. Bu Wati yang menjadi salah satu tokoh perempuan di RW 07 dan merupakan ketua Kelompok Wanita Tani (KWT), menyambutnya dengan sangat baik dan bahagia.

Sekolah Perempuan adalah sebuah harapan agar menjadi perempuan yang lebih cerdas, kritis dan tentunya bisa menebar benih-benih perdamaian.  Di Sekolah Perempuan akan diberikan materi tentang keadilan gender, kepemimpinan perempuan, perempuan dan perdamaian dan materi lainnya. Terlebih perempuan-permpuan di kelurahan Prawirodirjan sudah mempunyai perkumpulan rutin yang dilakukan setiap sebulan sekali, yaitu setiap tanggal 22.

Kesempatan, potensi dan respon positif inilah yang akan menjadi sebuah harapan baru agar bisa meningkatkan kapasitas perempuan melalui Sekolah Perempuan yang akan dibentuk. Tepat pada tanggal 19 februari 2019, Staff AMAN Indonesia bertandang ke kediaman Bu Wati untuk mempersiapkan Training Peace and Tolerance (Perdamaian dan toleransi) yang merupakan titik awal untuk merubah pola pikir bahwa ada banyak kelompok dengan beragam identitas di masyarakat yang harus dihormati dan dihargai.

Sebagaimana posisi perempuan dalam beragam identitas tersebut. Selain perubahan tersebut, materi-materi berikutnya juga menargetkan empat perubahan yaitu perubahan individual, relasional, structural, dan kultural. Training peace and telorance dilaksanakan pada 28 Februari 2019 di rumah Bu Wati dengan jumlah anggota yang hadir 15 orang yang mempunyai latarbelakang yang berbeda, terutama latarbelakang profesi.

Beragam cerita haru atas peran dan perjuangan perempuan yang dituntut agar selalu sempurna baik oleh keluarga maupun masyarakat adalah titik balik agar Sekolah Perempuan Prawirodirjan hadir menjadi secercah harapan agar segala permasalahan yang menimpa perempuan dapat tersampaikan, dipahami, dan diselesaikan dengan adil dan damai

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments