Thursday, September 24, 2026

Bagaimana Membumikan Perdamaian dari Bilik Pesantren: Kepemimpinan Nyai Masriyah Amva, Pemimpin Pesantren Kebon Jambu Cirebon

Di tengah konstruksi budaya patriarki yang kerap menempatkan kepemimpinan lembaga keagamaan tradisional di tangan laki-laki, Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon menghadirkan sebuah narasi peradaban yang berani dan inspiratif. Dipimpin langsung oleh Nyai Hj. Masriyah Amva, pesantren ini menjelma menjadi benteng kesetaraan gender, tempat pengolahan sampahmandiri, serta pusat semaian perdamaian lintas iman yang memanusiakan manusia. 

                                                                                                                                            Kepemimpinan Ulama Perempuan: Mematahkan Mitos Patriarki

Sebagai mahasantri baru yang sebelumnya mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Pasia, Sumatra Barat, melangkahkan kaki di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy menghadirkan rasa takjub yang mendalam. Sepanjang pengalaman saya menimba ilmu di  dunia pesantren di Indonesia, kepemimpinan lembaga keagamaan tradisional hampir selalu identik dengan sosok kiai laki-laki. 

Namun di Kebon Jambu, kenyataan langka terhampar nyata: ulama perempuan memimpin sebuah pondok pesantren besar yang mengayomi ribuan santri putra maupun putri secara arsitektural dan spiritual oleh Ibunda Nyai Hj. Masriyah Amva. Keberanian ini mematahkan sekat bias gender yang selama ini mengurung ruang gerak kepemimpinan perempuan di ranah agama. 

Landasan filosofis kepemimpinan beliau berakar kuat pada nilai-nilai kesetaraan Islam. Dalam berbagai kesempatan pengajian dan bimbingan santri, Ibunda Nyai Masriyah Amva senantiasa menegaskan prinsip dasar ketauhidan atau spiritualitas. 

“Di mata Allah SWT, seluruh manusia baik laki-laki maupun perempuan memiliki kedudukan yang sejajar dan sama. Tidak ada yang membedakan derajat seseorang kecuali kemuliaan takwanya.”

Prinsip ini bukan sekadar retorika mimbar, melainkan doktrin nyata yang dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari pesantren. Beliau menanamkan rasa percaya diri kepada para santri putri maupun putra bahwa setiap orang—termasuk perempuan— memiliki hak dan kemampuan penuh untuk memimpin kajian ilmiah, mengelola instansi, serta mengambil peran strategis di ruang publik. 

Aksi Ekologis Mandiri: Kreativitas Pengolahan Sampah Pesantren

Nilai Islam progresif yang diusung Nyai Masriyah Amva tidak hanya berhenti pada narasi gender, melainkan menyentuh ekosistem pelestarian lingkungan hidup. Hal luar biasa yang pertama kali saya temukan di sini adalah keberadaan tempat fasilitas pengolahan sampah mandiri (pabrik sampah) yang berlokasi di depan pesantren. 

Sampah-sampah yang dihasilkan oleh ribuan santri tidak dibiarkan menjadi beban lingkungan, melainkan dikelola dan diolah secara mandiri langsung oleh tangan-tangan kreatif para santri. 

Praktik pelestarian lingkungan ini membuktikan betapa visionernya kepemimpinan pengasuh dalam mengasah kreativitas dan membekali santri dengan kecakapan hidup (life skills). Sebelum terjun ke tengah-tengah masyarakat luas, para santri diajarkan untuk peka terhadap kebersihan alam, bertanggung jawab atas limbah domestik, serta mampu menciptakan solusi ekologis yang berguna dan berdampak nyata bagi lingkungan sekitar.

Praktik Nyata Pesantren Mmbangun Perdamaian Antar Kelompok Berbeda

Kiprah ulama perempuan ini kian diakuimelalui aksi nyata pembangunan perdamaian lintas iman. Momen otentik itu saya saksikan sendiri ketika Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy menerima kunjungan silaturahmi rombongan siswa-siswi dan guru dari SMK Penabur Cirebon, sebuah lembaga pendidikan yang berlatar belakang Kristen. 

Sebelum para tamu tiba, Nyai Masriyah Amva meminta kami para pembimbing dan mahasantriwati Ma’had Aly untuk bergotong-royong memasak hidangan makan siang bersama. Beliau menyambut rombongan SMK Penabur dengan tangan terbuka dan kehangatan luar biasa. 

Berbeda dengan iklim pesantren tradisional yang biasanya mewajibkan busana muslimah ketat bagi siapa pun yang masuk, beliau dengan sangat bijaksana menghormati keyakinan para tamu tanpa memaksakan mereka mengenakan jilbab. Melihat ratusan siswa-siswi non-muslim hadir di dalam komplek pesantren dengan pakaian mereka sendiri menjadi pengalaman pertama bagi saya yang sangat berkesan. 

Tidak hanya itu, untuk mempererat silaturahmi, Nyai Masriyah Amva merancang metode pendampingan personal.Satu santri putri dipasangkan mendampingi satu siswi SMK Penabur, begitu pula santri putra dipasangkan dengan siswa putra. 

Selama kegiatan berlangsung, mereka berjalan bersama, berdialog, dan saling mengenal satu sama lain. Melalui metode ini, Nyai Masriyah Amva secara nyata menyemaikan jiwa toleransi yang sangat luas, menghancurkan sekat prasangka, dan mengajarkan kami bahwa persaudaraan kemanusiaan berdiri di atas segala perbedaan. 

                                                                                                                                                 Pesantren yang Memanusiakan Manusia

Secara keseluruhan, kepemimpinan Nyai Hj. Masriyah Amva memberikan angin segar bagi dunia pesantren Indonesia. Beliau memperlihatkan bahwa dengan keberanian, kepekaan terhadap lingkungan, dan keterbukaan pada kelompok berbeda, pesantren mampu menjadi ruang pendidikan yang benar-benar memanusiakan manusia dan menyiapkan santri menjadi agen perdamaian di masyarakat. 

Kepemimpinan Nyai Masriyah Amvamembuktikan bahwa ketika nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman dirawat bersama, pesantren tidak hanya menjadi benteng agama, tetapi juga rumah bagi perdamaian dunia. Hidup ulama perempuan Indonesia!

 

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha