Thursday, October 15, 2026

Mubadalah dan Seni Melihat Orang Lain sebagai Subjek Penuh: Catatan dari Sebuah Perjumpaan Pemuda Lintas Iman se-Asia di Cirebon

Ada pengalaman yang selesai ketika sebuah kegiatan berakhir. Tetapi ada pula pengalaman yang justru baru dimulai ketika kita pulang. Bagi saya, mengikuti Regional Learning Exchange: Turning the Tide—Christian and Muslim Youth & Women Building Peace in Asia yang diselenggarakan oleh ALL Forum, AMAN Indonesia, Fahmina, dan KUPI pada 6-11 September 2026 di Cirebon adalah pengalaman yang kedua. Saya datang dengan keinginan untuk menambah wawasan tentang perdamaian, tetapi pulang membawa pertanyaan yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih mendasar: Bagaimana sebenarnya kita melihat orang lain yang berbeda?

Pertanyaan ini menarik bagi saya karena saya tidak datang ke ruang Learning Exchange sebagai seseorang yang sama sekali asing dengan gagasan Mubadalah. Sebagai seseorang yang belajar Islam dan Kajian Gender, Mubadalah justru merupakan salah satu perspektif yang cukup familiar dalam ruang akademik dan intelektual yang selama ini saya tekuni.

Saya mengenal Mubadalah terutama dalam konteks relasi gender: bagaimana laki-laki dan perempuan sama-sama diposisikan sebagai subjek; bagaimana teks-teks keagamaan dapat dibaca dengan prinsip kesalingan; dan bagaimana relasi yang selama ini dibangun secara hierarkis dapat ditransformasikan menjadi relasi yang lebih adil.

Namun, ada sesuatu yang berbeda ketika saya bertemu kembali dengan gagasan tersebut di Cirebon. Untuk pertama kalinya, saya mencoba menempatkan Mubadalah tidak hanya dalam isu relasi gender, tetapi juga dalam konteks keberagamaan dan perjumpaan lintas iman. Di sinilah pengalaman tersebut menjadi menarik bagi saya.

Saya mulai bertanya: bagaimana jika prinsip kesalingan tidak hanya digunakan untuk membaca relasi laki-laki dan perempuan, tetapi juga untuk membaca bagaimana kita berelasi dengan mereka yang berbeda agama, keyakinan, budaya, bahkan pengalaman hidup?. Pertanyaan itu kemudian menjadi salah satu refleksi penting yang saya bawa pulang.

 

Ketika Perspektif Gender Bertemu dengan Perjumpaan Lintas Iman

Dalam studi gender, kita cukup akrab dengan kritik terhadap relasi yang menempatkan satu pihak sebagai subjek dan pihak lain sebagai objek. Relasi semacam ini dapat muncul ketika satu kelompok dianggap memiliki otoritas untuk berbicara, sementara kelompok lain hanya menjadi pihak yang dibicarakan. Dalam kajian gender, kritik tersebut sangat penting untuk membongkar relasi kuasa yang membuat pengalaman perempuan sering kali ditempatkan sebagai sesuatu yang sekunder.

Prof. Faqihuddin Abdul Kodir mengembangkan Mubadalah sebagai cara membaca teks dan kehidupan dengan menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai subjek yang sama-sama memiliki tanggung jawab moral dan hak atas kemaslahatan. Dalam kerangka ini, nilai-nilai kebaikan tidak berhenti pada satu pihak, tetapi dapat dibaca secara resiprokal, kesalingan. Selama ini saya memahami konsep tersebut terutama dalam membaca isu gender.

Tetapi Cirebon memberi saya kesempatan untuk membawa pertanyaan yang sama ke wilayah lain: Bagaimana jika “subjek dan objek” itu kita gunakan untuk membaca relasi antar umat beragama? Jangan-jangan dalam relasi keberagamaan, kita juga sering tanpa sadar menciptakan posisi “kita” dan “mereka”.

Kita menjadi pihak yang menjelaskan,mereka menjadi pihak yang dijelaskan. Kita merasa memiliki pengetahuan tentang mereka, sementara pengalaman mereka sendiri justru tidak banyak kita dengarkan. Kita berbicara tentang toleransi terhadap mereka, tetapi belum tentu berbicara bersama mereka. Dalam kondisi ini saya merasa konsep Mubadalah menjadi jauh lebih luas daripada yang selama ini saya pahami.

 

Dari “Mereka” Menjadi “Kita yang Berjumpa”

Pengalaman Learning Exchange mempertemukan saya dengan orang-orang yang memiliki latar belakang agama, negara, budaya, dan pengalaman yang berbeda. Tetapi ketika identitas-identitas tersebut diletakkan dalam sebuah ruang perjumpaan, saya menemukan bahwa perbedaan tidak selalu menghasilkan jarak. Justru perjumpaan dapat menjadi ruang untuk menemukan kesamaan sekaligus memahami perbedaan secara lebih manusiawi.

Saya menjadi teringat kembali pada Martin Buber dan gagasannya mengenai relasi I–Thou. Buber membedakan relasi I–Thou dari I–It. Dalam relasi I–It, orang lain dapat diperlakukan sebagai objek yang kita kategorikan, kita amati, bahkan kita nilai. Sedangkan dalam relasi I–Thou, orang lain hadir sebagai pribadi yang memiliki keberadaan dan nilai pada dirinya sendiri.

Jika dibawa ke dalam konteks keberagamaan, gagasan ini terasa sangat relevan. Betapa mudahnya kita berbicara tentang “umat lain” tanpa benar-benar berbicara dengan mereka. Kita mengenal mereka melalui berita, ,buku, media sosial, narasi keagamaan dan berbagai stereotip yang diwariskan. Padahal, ada perbedaan besar antara mengetahui tentang orang lain dan berjumpa dengan orang lain dan rasanya perjumpaan membuat kategori menjadi lebih manusiawi.

“Orang Katolik” menjadi seseorang dengan nama, cerita, keluarga, pengalaman, harapan, dan pergulatan hidup. “Orang Muslim” juga tidak lagi sekadar kategori agama, tetapi manusia dengan pengalaman yang beragam dan tidak selalu dapat direduksi ke dalam satu gambaran.

Pada titik itu, saya merasa Mubadalah menemukan ruang baru untuk dibaca: bukan hanya tentang bagaimana laki-laki dan perempuan saling memandang sebagai subjek, tetapi juga bagaimana manusia yang berbeda keyakinan dapat saling mengakui dan menghormati sebagai subjek kehidupan.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha