Monday, August 17, 2026

10 Tahun Gerakan #BringBackOurGirls di Nigeria, Sudahkah Anak Perempuan Hidup Aman?

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Lebih dari satu dekade, gerakan perempuan #BringBackOurGirls (BBGO) di Nigeria menjadi bukti kekuatan kolektif dalam situasi negara yang penuh rapuh dan krisis. Di awal tahun 2014, BBOG mulai menjadi perhatian internasional manakala remaja perempuan mengalami kerentanan ekstrim dan maraknya peringatan “Menikah saja! Tidak usah sekolah!”. 

Peringatan tersebut bukan terjadi begitu saja. Selain karena budaya partiarki lokal yang kuat, eksistensi ideologi jihad Boko Haram memiliki konsekuensi teror berbasis gender, khususnya pada pembunuhan anak laki-laki serta penculikan dan kekerasan seksual pada anak-anak perempuan. Kemiskinan ekstrim dan ketidakmampuan negara dalam melindungi warga negara juga memperparah kondisi ini.

 

BBGO, Potret Aksi Nirkekerasan Dipimpin Perempuan

Di tengah rasa ketakutan dan keputusasaan yang melanda, kemarahan besar muncul dari kalangan para ibu ketika terjadi penculikan massal 276 siswi di wilayah pedesaan Chibok. Kala itu, Obi Ezekwesili, mantan Menteri Pendidikan Nigeria, menyerukan tweet #BringBackOurGirls atau kembalikan anak-anak perempuan kami.

Tagar tersebut kemudian viral. Dari media sosial kemudian menjadi aksi jalanan yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat lintas gender, agama, dan status sosial. Gerakan ini menjadi masif, dilakukan dengan kegiatan duduk damai setiap hari di Unity Fountain untuk mendoakan korban, juga long-march untuk menegaskan tuntutan kepada pemerintah.

Aksi protes dilakukan melalui diskusi-diskusi publik, pernyataan media, pembacaan nama korban, dan doa bersama. Menariknya, solidaritas yang terbentuk dibalut dengan komitmen terhadap nilai perdamaian. Pakaian kompak berwarna merah dan poster-porter bertuliskan “Bring Back Our Girls” menjadi simbol perlawanan nirkekerasan.

 

Meneladani BBOG sebagai Gerakan Perdamaian

Sebagai gerakan yang digagas oleh perempuan (women-led) dan mampu menggerakkan seluruh lapisan masyarakat, BBOG memiliki kekuatan moral yang menunjukkan identitas keibuan dan kepedulian kepada anak. Kekuatan perempuan juga membantu menjaga gerakan ini tetap damai, disiplin, dan netral dari kepentingan politik. 

BBOG bukanlah aksi yang berlangsung dalam hitungan hari. Sampai di tahun 2019 pun gerakan ini tetap bertahan. Bahkan sampai saat ini BBOG masih disebut dengan istilah pergerakan atau “the movement”, bukan sekedar peristiwa historis.

Studi Atela dkk. (2021) memberikan penjelasan mengapa BBOG mampu bertahan dan menjadi perhatian global. 

Pertama, gerakan BBOG mampu memperluas isu tanpa kehilangan fokus. Sekalipun titik gentingnya adalah pada penculikan massal siswi di Chibok, gerakan ini juga dimaksudkan untuk memperjuangkan nasib korban penculikan lain, tentara yang gugur, dan menggugat tata kelola negara yang buruk.

Dengan demikian, banyak orang akhirnya bersimpati untuk ikut dalam gerakan. Setiap orang yang bergabung merasa punya aspirasi pribadi untuk harus ikut serta.

Kedua, BBOG mampu membangun aliansi lokal dan global. Di Nigeria sendiri, gerakan ini berkolaborasi dengan Komisi HAM dan masyarakat sipil. Di level global, BBOG mampu menarik dukungan dari politisi AS, figur-figur perempuan seperti Michelle Obama, Malala, dan Angelina Jolie, serta Paus Fransiskus. Maka, isu ini akhirnya berubah menjadi perhatian global.

Ketiga, BBOG dilakukan dengan menjaga disiplin, netralitas, dan keamanan. Gerakan ini dilakukan dengan strategi sadar, menghargai kepemimpinan perempuan, dan dilakukan tanpa kekerasan.

Pengaruh internasional juga membuat gerakan ini tetap eksis di ruang publik Nigeria. Pengarusutamaan identitas keibuan dan nilai pendidikan sebagai narasi kemanusiaan yang menyentuh juga membuat gerakan ini bertahan.

Keempat, BBOG tidak menerima pendanaan dari donor asing maupun pemerintah. Semua biaya ditanggung oleh anggota aksi ini untuk menjaga independensi dan netralitas. Dengan begitu, BBOG bebas dari konflik ataupun tuduhan kepentingan.

 

Tantangan dan Pembelajaran

Sepanjang berjalannya gerakan ini, BBOG tidak lepas dari tantangan. Pemerintah Nigeria kerap melekatkan BBOG dengan stigma antek oposisi. Bahkan, aksi-aksi mereka juga kerap mendapat intimidasi dari aparat. Begitu juga tantangan internal, seperti kritik internal dari keluarga korban hingga sulitnya mempertahankan stamina untuk melangsungkan gerakan jangka panjang. 

Perjalanan gerakan menjadi lama juga karena tidak ada hasil instan dari aksi yang dilakukan. Tidak semua siswi Chibok yang diculik sepenuhnya bebas. Sebagian korban penculikan baru dapat dibebaskan di tahun 2016 setelah melalui banyak negosiasi. Sebagian lagi dapat melarikan diri, namun juga masih banyak yang sampai sekarang masih belum ditemukan.

Walau demikian, BBOG berhasil membuktikan perlawanan terhadap legitimasi ideologi Boko Haram—kelompok ekstremis yang menolak pendidikan Barat, terutama bagi perempuan, serta berupaya membangun tatanan masyarakat berdasarkan tafsir keagamaan yang sangat sempit melalui penggunaan kekerasan dan teror. 

Gerakan ini menunjukkan bahwa kekuatan moral yang diinisiasi oleh perempuan, mampu mewariskan jiwa solidaritas pembebasan perempuan. Melihat kembali konteks Nigeria kala itu, rapuh dan krisisnya negara ternyata tidak serta merta menjadikan masyarakat sipil tidak berdaya. Lebih dari sepuluh tahun, BBOG merefleksikan bahwa Nigeria memiliki DNA kepemimpinan perempuan.

 

Referensi

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha